Ini 2 Kemampuan Manusia yang tak akan Tergantikan AI Menurut Google Cloud

4 hours ago 3
Ini 2 Kemampuan Manusia yang tak akan Tergantikan AI Menurut Google Cloud Ilustrasi AI.(Dok. Magnific)

PERKEMBANGAN pesat kecerdasan buatan (AI) memicu kekhawatiran akan hilangnya peran manusia di berbagai sektor. Namun, Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, Moe Abdula, menegaskan bahwa ada dua kemampuan dasar manusia yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi AI, seberapa canggih pun perkembangannya.

Menurut Moe, kemampuan pertama yang menjadi keunggulan mutlak manusia adalah empati dan koneksi interpersonal. Hal ini ia sampaikan dalam taklimat media Google Cloud di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

"Saya pikir ada keterampilan manusia yang akan bertahan, dan mereka telah melewati semua pergeseran teknologi di masa lalu. Kemampuan kita untuk memiliki empati dan koneksi adalah hal yang sangat manusiawi," ujar Moe.

Ia menjelaskan bahwa memahami emosi, merasakan kondisi orang lain, serta memberikan respons sosial yang tepat adalah aspek yang sangat kompleks bagi teknologi. Sebagai contoh, Moe menyoroti profesi petugas kepolisian. Dalam menjalankan tugasnya, polisi seringkali harus meredakan ketegangan dan memahami kondisi psikologis masyarakat untuk membantu mereka mengambil keputusan yang tepat.

"Keterampilan memahami bagaimana meredakan ketegangan, memahami kondisi, dan membantu seseorang memahami apa yang benar atau salah membutuhkan penalaran dan perasaan manusia," tambahnya.

Kemampuan Beradaptasi dan Inovasi

Selain empati, kemampuan kedua yang tak tergantikan adalah kapasitas manusia untuk terus beradaptasi dan menemukan cara kerja baru. Moe menilai AI pada dasarnya bekerja secara reaktif berdasarkan data dan instruksi yang diberikan manusia.

Sebaliknya, manusia memiliki insting untuk menciptakan solusi baru di tengah perubahan zaman. Ia mencontohkan evolusi transportasi manusia, dari penggunaan hewan hingga penciptaan kendaraan modern, serta pergeseran peran kalkulator dalam dunia pendidikan.

"Manusia tidak berhenti pada penggunaan teknologi baru tersebut, tetapi memanfaatkannya untuk menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks," jelas Moe.

Di era AI ini, kemampuan untuk memanfaatkan teknologi guna menciptakan sesuatu yang baru menjadi keterampilan krusial. Moe optimistis bahwa profesi yang mengandalkan penalaran mendalam dan perasaan manusia akan tetap relevan dan sulit terdampak oleh otomatisasi AI.

Moe Abdula menekankan bahwa teknologi AI hanyalah alat, sementara kreativitas untuk menemukan cara kerja baru dan kepekaan emosional tetap menjadi domain eksklusif umat manusia. (Ant/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |