Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tidak ada yang bisa memaksa negaranya untuk menyerah di tengah peperangannya yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat sejak 28 Februari lalu.
Hal itu diutarakan Pezeskhian menanggapi desakan Presiden Donald Trump agar Teheran segera menyerah dan kooperatif soal perundingan demi mengakhiri perang yang AS mulai, atau akan menghadapi kekuatan mematikan Washington.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam unggahannya di X pada Rabu (6/5), Pezeshkian mengatakan ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Irak yang baru, Ali Al Zaidi.
Dalam percakapannya melalui telepon, Pezeskhian meminta Irak agar memberi tahu AS untuk menarik ancaman militernya dari kawasan Timur Tengah.
Ia menegaskan ancaman dan perang AS tidak dapat memaksa Iran untuk menyerah.
"Dalam percakapan saya dengan Perdana Menteri Irak, saya menekankan perlunya Anda menyarankan para pejabat Amerika untuk menarik ancaman militer dari kawasan kami, karena para pengikut mazhab Syiah tidak dapat dipaksa untuk menyerah, bahkan dengan bahasa kekuatan," ucap Pezeskhian.
Dalam unggahannya itu, Pezeskhian juga bersumpah bahwa Iran hanya patuh pada Tuhan dan tidak ada pihak lain yang dapat "membuat kami tunduk."
"Kami, umat Muslim, memang telah tunduk dan kami tunduk kepada Yang Maha Kuasa, Yang Mahatinggi, dan tidak ada selain Dia yang dapat membuat kami tunduk," ucap Pezeskhian.
Sebelumnya Presiden Trump mendesak Iran untuk "mengibarkan bendera putih dan menyerah" menyusul upaya perundingan yang tak kunjung menemukan titik bertemu.
"Mereka (Iran) bermain-main, tetapi saya katakan saja, mereka ingin mencapai kesepakatan. Dan siapa yang tidak ingin, jika militermu sudah benar-benar hancur?" ujar Trump di Gedung Putih, Selasa.
"(Iran) sebaiknya mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Jika ini adalah pertarungan, mereka sudah akan menghentikannya," kata Trump.
Pernyataan Pezeshkian ini juga muncul tak lama setelah AS mengumumkan Operasi Epic Fury berakhir. Operasi militer itu mematik perang yang berlangsung dan meluas hingga hari ini antara AS dan Iran.
Dalam jumpa pers di Gedung Putih pada Selasa (5/5) waktu AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengonfirmasi Operasi Epic Fury telah berakhir.
Ia secara tegas mengeklaim tujuan perang AS di Iran juga sudah tercapai dan mengisyaratkan bahwa prioritas Washington kini adalah membuka kembali Selat Hormuz.
"Operasi itu sudah selesai. Epic Fury, sebagaimana diberitahukan presiden kepada Kongres, kami telah menuntaskan tahap tersebut. Kami telah mencapai tujuan operasi itu. Kini kami beralih ke Project Freedom," ujar Rubio.
Rubio merujuk pada inisiatif Project Freedom Presiden Donald Trump untuk mengawal kapal-kapal niaga melintasi Selat Hormuz yang masih diblokade Iran.
"Itulah yang sedang kami jalankan sekarang. Apa yang mungkin terjadi ke depan masih bersifat spekulatif," paparnya menambahkan.
Namun, baru sehari diluncurkan, Presiden Trump mengumumkan Project Freedom dihentikan.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
1

















































