Isu Ketahanan Pangan, Jutaan Warga Pakistan Kesulitan Akses Makanan

12 hours ago 4
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketahanan pangan di Pakistan kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru menunjukkan jutaan warga masih kesulitan mengakses makanan bergizi, meskipun ketersediaan pangan secara nasional relatif stabil.

Penilaian terbaru dari sistem Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung World Bank memperkirakan sekitar 7,5 juta orang atau 21 persen populasi di 45 distrik rentan menghadapi tingkat kerawanan pangan akut kategori "Krisis" atau lebih buruk pada periode Desember hingga Maret.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1,25 juta orang berada pada kategori "Darurat", satu tingkat di bawah kondisi kelaparan ekstrem.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan tersebut mencakup wilayah-wilayah di Balochistan, Sindh, dan Khyber Pakhtunkhwa, yang dikenal sebagai daerah dengan tingkat kerentanan ekonomi dan lingkungan tinggi.

Laporan IPC menekankan bahwa kondisi ini bukan disebabkan oleh kekurangan pangan secara nasional.

Sebaliknya, masalah utama terletak pada akses, daya beli, dan ketahanan ekonomi rumah tangga.

Rumah tangga dalam kategori "Krisis" disebut kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dasar tanpa mengambil langkah ekstrem, seperti mengurangi frekuensi makan, menjual aset produktif, atau berutang.

Sementara itu, kelompok dalam kategori "Darurat" menghadapi kesenjangan konsumsi yang lebih parah, peningkatan malnutrisi, serta kerentanan tinggi terhadap guncangan tambahan.

Masalah struktural yang berulang

Meskipun jumlah distrik yang dianalisis menurun dari 68 menjadi 45 dibanding laporan sebelumnya, tingkat keparahan kerawanan pangan secara proporsional dinilai tidak banyak berubah.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut bersifat struktural, bukan sekadar fenomena sementara.

Para analis menggambarkan kondisi ini sebagai "keseimbangan rapuh", di mana pangan tersedia tetapi sistem ketahanan masyarakat tetap lemah.

Sejumlah faktor jangka panjang disebut menjadi penyebab utama kondisi tersebut.

Dampak banjir monsun 2025 masih terasa, dengan banyak lahan pertanian rusak dan sistem irigasi belum pulih sepenuhnya.

Selain itu, kekeringan berkepanjangan serta pola curah hujan yang tidak menentu memperburuk tekanan terhadap sumber daya air, terutama di wilayah kering.

Petani dan komunitas peternak menghadapi penurunan pendapatan akibat fluktuasi hasil panen dan kondisi ternak.

Di sisi lain, kenaikan harga input pertanian seperti pupuk dan benih, serta tingginya biaya bahan bakar dan transportasi, meningkatkan biaya produksi dan distribusi.

Faktor keamanan di beberapa wilayah juga membatasi mobilitas dan aktivitas perdagangan, termasuk gangguan pada perdagangan lintas batas.

Ketergantungan pasar meningkat

Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya ketergantungan rumah tangga terhadap pasar untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap fluktuasi harga.

Tepung gandum, sebagai bahan pokok utama di Pakistan, mengalami volatilitas harga yang berkelanjutan, sehingga semakin membebani anggaran rumah tangga.

Inflasi yang tinggi, ditambah dengan pendapatan yang stagnan atau menurun, menyebabkan daya beli masyarakat terus melemah.

Akibatnya, sebagian besar pendapatan rumah tangga digunakan untuk kebutuhan pangan, dengan ruang yang semakin terbatas untuk kebutuhan lain seperti kesehatan dan pendidikan.

Utang juga menjadi strategi bertahan yang umum digunakan.

Namun, praktik ini dinilai hanya memberikan solusi jangka pendek dan justru meningkatkan kerentanan ekonomi dalam jangka panjang.

Laporan IPC memproyeksikan adanya perbaikan kondisi setelah musim panen gandum dan penjualan ternak.

Pada periode April hingga September, jumlah penduduk yang menghadapi kerawanan pangan kategori "Krisis" atau lebih buruk diperkirakan turun menjadi sekitar 6,7 juta orang.

Namun, perbaikan ini dinilai bersifat musiman dan tidak mencerminkan perubahan struktural.

Siklus panen memang meningkatkan ketersediaan pangan dan pendapatan sementara, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah.

Fakta bahwa jutaan orang tetap berada dalam kondisi rentan bahkan pada periode yang relatif lebih baik menunjukkan keterbatasan sistem dalam menyerap guncangan.

Ketimpangan wilayah dan ketahanan pangan

Kerawanan pangan di Pakistan juga tidak merata secara geografis.

Wilayah yang dianalisis dalam laporan IPC umumnya merupakan daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi, infrastruktur terbatas, serta akses yang rendah terhadap layanan dasar.

Ketergantungan pada sektor pertanian dan peternakan membuat wilayah ini sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Kombinasi antara kekeringan, banjir, dan ketidakstabilan pasar menciptakan siklus kerentanan yang sulit diputus.

Laporan tersebut juga menyoroti kesenjangan antara kebijakan dan implementasi.

Meski berbagai program telah dirancang untuk meningkatkan ketahanan pangan, dampaknya dinilai belum merata.

Keterbatasan integrasi pasar, lemahnya perlindungan sosial, serta tantangan tata kelola disebut menjadi faktor yang menghambat efektivitas kebijakan.

Dalam banyak kasus, kebijakan yang ada belum mampu memberikan perubahan nyata di tingkat rumah tangga.

Secara keseluruhan, laporan IPC menyimpulkan bahwa krisis pangan di Pakistan lebih mencerminkan masalah ketahanan daripada ketersediaan.

Produksi pangan nasional dinilai masih mencukupi, namun distribusi yang tidak merata, ketimpangan pendapatan, serta kelemahan sistem ekonomi menyebabkan sebagian besar masyarakat tetap berada dalam kondisi rentan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa perbaikan struktural, jutaan rumah tangga akan terus menghadapi risiko kerawanan pangan, bahkan ketika pasokan pangan secara nasional tetap tersedia.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |