Kepulan asap serta kobaran api yang membubung dari sejumlah truk di sebuah kamp pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi, menyusul dugaan serangan rudal Houthi di provinsi Hadramout, Yaman timur, pada 7 September 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, SANA -- Tekanan Houthi terhadap Arab Saudi semakin nyata. Jalur minyak Saudi satu persatu telah diblokir Houthi dan sekutu. Harga minyak terancam meroket.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa pelayaran maritim di Laut Merah aman, kecuali bagi kapal-kapal milik Arab Saudi.
Ia berjanji akan meningkatkan aksi militer terhadap pasukan Saudi hingga blokade atas Yaman berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah laporan mengenai pergerakan maju pasukan Houthi di sekitar Selat Bab al-Mandab.
Seperti dilansir the Guardian, pasukan Houthi telah merebut pulau strategis Perim di Selat Bab al-Mandab. Langkah itu memperluas kendali kelompok pro-Iran atas jalur perairan sempit yang merupakan salah satu rute pelayaran vital dunia tersebut.
Houthi mengambil alih pulau vulkanik itu setelah pasukan yang berpihak pada pemerintah dukungan PBB dan Arab Saudi—yang berbasis di Aden—meninggalkan lokasi tersebut.
Insiden ini merupakan kelanjutan dari serangkaian kemunduran dramatis di sepanjang pesisir barat Yaman dalam beberapa hari terakhir, termasuk hilangnya kendali atas kota pelabuhan Mocha pada hari Kamis.
Arab Saudi, yang mendukung dan mendanai pemerintah resmi Yaman, melancarkan serangan udara terhadap posisi-posisi Houthi di Mocha pada Jumat.Namun Houthi terus merangsek maju.
Selat Bab al-Mandab menghubungkan Asia dengan Eropa melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Pulau Perim—yang juga dikenal sebagai Mayun—membagi jalur perairan tersebut menjadi dua bagian, tepat di dekat titik tersempitnya.
Uni Emirat Arab, yang sebelumnya merupakan sekutu Arab Saudi dalam koalisi anti-Houthi, sempat membangun pangkalan udara di pulau itu sebelum mengakhiri keterlibatan aktifnya dalam konflik tersebut pada Januari.
Arab Saudi mengandalkan Laut Merah dan Bab al-Mandab untuk mengekspor minyak mentahnya sejak Iran mulai menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Sekitar 12% dari arus perdagangan barang dunia biasanya melewati selat tersebut.
Penguasaan penuh kelompok Houthi atas jalur pelayaran di selat itu, ditambah dengan kendali Iran atas Selat Hormuz, akan memperkuat cengkeraman kekuatan anti-Barat terhadap distribusi energi global. Gangguan pasokan energi buruk akan memberi pukulan buat langkah agresi Amerika terhadap Iran.
Harga minyak telah melonjak hingga lebih dari US$100 per barel seiring dengan meningkatnya eskalasi pertempuran di Yaman.

3 hours ago
1















































