Jakarta, CNBC Indonesia - Penelitian terbaru mengungkap temuan arkeologis di Leang Bulu Bettue, Sulawesi Selatan, yang menunjukkan aktivitas hunian manusia sejak 208.000 tahun silam.
Studi yang dipimpin oleh Basran Burhan dari Griffith University, Australia, dan rekan-rekannya ini memaparkan dua fase budaya yang berbeda dan kemungkinan tumpang tindih antara Homo sapiens dengan hominin arkais.
Tim peneliti menemukan rangkaian artefak, alat batu, dan tulang hewan yang mencakup sebagian besar periode Pleistosen. Fase awal diperkirakan berasal dari sekitar 208.000 tahun lalu dan ditandai oleh alat batu sederhana serta jejak pemotongan hewan.
Pada lapisan ini ditemukan pula alat batu berat berupa pick yang mengindikasikan tradisi budaya hominin arkais.
Menurut Adam Brumm dari Griffith University, tradisi budaya tersebut bertahan hingga Pleistosen Akhir dan terjadi jauh sebelum kedatangan manusia modern.
"Kegiatan ini tampaknya mewakili tradisi budaya hominin arkais yang bertahan di Sulawesi hingga Pleistosen Akhir," kata Brumm, dikutip dari SciNews, Kamis (15/1/2026).
Perubahan signifikan terjadi sekitar 40.000 tahun lalu. Pada fase ini, peneliti menemukan teknologi alat batu baru disertai bukti perilaku simbolik dan ekspresi artistik yang menjadi ciri Homo sapiens.
"Fase yang lebih baru ini menampilkan seperangkat alat teknologi yang berbeda, serta bukti paling awal ekspresi artistik dan perilaku simbolik di pulau ini," ujar Burhan.
Burhan menyebut adanya transisi demografis dan budaya besar yang diduga mencerminkan kedatangan manusia modern dan menggantikan populasi hominin terdahulu.
Pulau Sulawesi sudah lama diakui sebagai wilayah penting dalam sejarah evolusi manusia. Posisinya di antara Asia daratan dan daratan Sahul yang dahulu menghubungkan Australia dan Papua Nugini menjadikannya titik persinggahan penting dalam persebaran manusia awal.
Namun, keterbatasan data arkeologi akibat medan yang sulit membuat studi evolusi manusia di kawasan tersebut minim.
Salah satu implikasi penting penelitian ini adalah kemungkinan Homo sapiens dan hominin arkais hidup pada periode yang sama di Sulawesi.
Peneliti menyatakan Leang Bulu Bettue berpotensi menjadi situs pertama yang memberikan bukti langsung tumpang tindih kronologis dua garis manusia tersebut.
Studi juga mencatat jejak budaya simbolik pada fase akhir, sejalan dengan penemuan seni cadas kuno di situs Sulawesi lainnya. Temuan ini memperlihatkan bahwa kedatangan manusia modern membawa teknologi baru serta praktik budaya dan kognitif yang berbeda.
Burhan menyebut masih ada lapisan arkeologi yang belum digali di Leang Bulu Bettue, sehingga peluang penemuan lanjutan sangat terbuka. Hasil penelitian telah dipublikasikan di jurnal PLoS ONE pada Desember 2025.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
1

















































