REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI) yang berbasis di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat lonjakan biaya logistik jelang Idul Adha menekan margin keuntungan peternak hewan kurban. Ketua APPSBDI Furqan Sangiang mengatakan, kenaikan tarif sewa truk dan tronton hingga puluhan persen menggerus pendapatan peternak sapi.
"Sewa fuso saat hari normal harga paling tinggi Rp 18 juta per unit, namun sekarang harga sewa sampai Rp 24 juta. Sewa tronton yang biasanya sekitar Rp 25 juta, kini harga naik hingga Rp 32 juta," ujar dia dalam pernyataan di Mataram, Senin (27/4/2026).
Furqan menuturkan, kebutuhan armada pengangkut sapi kurban dari wilayah Bima, Dompu, dan Sumbawa tergolong besar setiap tahun karena ada sekitar 20.000 ekor sapi yang dikirim ke Jabodetabek untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha.
Jika satu unit truk tronton mampu mengangkut 25 sampai 30 ekor sapi, maka dibutuhkan sekitar 600 unit tronton setiap musim pengiriman dari Pulau Sumbawa menuju Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).
Ketika puncak distribusi yang berlangsung sebulan sebelum perayaan Idul Adha, imbuh dia, pergerakan logistik bahkan bisa mencapai 45 truk per hari atau setara dengan lebih dari 1.100 ekor sapi yang dikirim setiap hari oleh para peternak di Nusa Tenggara Barat tersebut.
"Pemilik kendaraan kadang dari Jawa Timur, kadang Surabaya, kadang di Lombok, bahkan Bali. Mereka bisa tiga sampai empat kali bolak-balik dengan kendaraan yang sama saking tingginya kebutuhan fuso dan tronton setiap tahun di NTB," kata Furqan.
Lebih lanjut, ia menyarankan bahwa pemerintah daerah memiliki peluang besar untuk menekan biaya logistik dengan memfasilitasi koordinasi bersama perusahaan transportasi besar.
Skema satu pintu dapat memberikan kepastian harga sekaligus menjamin ketersediaan armada bagi peternak yang berasal dari daerah kepulauan, seperti Sumbawa.
Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia menilai distribusi hewan kurban tahun 2026 relatif lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya dengan antrean yang lebih singkat dan risiko kematian sapi yang menurun.
Berdasarkan data Balai Karantina NTB, distribusi sapi asal Nusa Tenggara Barat sejak Januari hingga 27 April 2026 didominasi pengiriman ke Jabodetabek yang mencapai 25.974 ekor dengan frekuensi 1.046 kali pengiriman.
Sedangkan distribusi sapi ke luar Jabodetabek tercatat 3.257 ekor dan ke wilayah Lombok hanya sebanyak 3.020 ekor, yang mengindikasikan konsentrasi distribusi hewan ternak asal NTB paling banyak mengarah ke Pulau Jawa.
sumber : Antara

2 hours ago
2
















































