Donald Trump dan Vladimir Putin.(Al Jazeera)
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan langkah diplomatik intensif dengan menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui sambungan telepon pada Sabtu (4/7). Komunikasi ini difokuskan pada upaya penyelesaian konflik di Ukraina menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang akan digelar di Ankara, Turki.
Berdasarkan informasi dari pihak Kremlin dan Presiden Zelensky, rangkaian pembicaraan telepon ini juga bertepatan dengan momentum peringatan hari jadi Amerika Serikat yang ke-250.
Agenda Utama: Konflik Ukraina dan KTT NATO
Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, mengonfirmasi bahwa isu Ukraina menjadi agenda prioritas dalam percakapan antara Trump dan Putin. "Para presiden membahas masalah penyelesaian di Ukraina, khususnya dengan mempertimbangkan partisipasi Donald Trump yang akan datang dalam KTT NATO di Turki pada tanggal 7 dan 8 Juli," ujar Ushakov sebagaimana dilansir kantor berita RIA Novosti, Minggu (5/7).
Dalam percakapan yang berlangsung selama kurang lebih 85 menit tersebut, kedua pemimpin juga menyinggung berbagai isu global lainnya. Topik yang dibahas mencakup perkembangan situasi di Iran serta stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Respons Positif dari Zelensky
Pada hari yang sama, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan telah berbicara langsung dengan Trump mengenai dinamika perang yang telah memasuki tahun keempat. Zelensky memberikan penilaian positif terhadap hasil komunikasi tersebut.
"Presiden Trump dan saya membahas situasi terkini di garis depan serta upaya diplomatik yang sedang kami lakukan. Ada peluang nyata untuk mengakhiri perang ini, dan tekad Amerika Serikat menjadi faktor yang sangat menentukan. Kami sepakat untuk melanjutkan pembahasan ini pada KTT NATO di Ankara," tulis Zelensky melalui akun resminya di platform X.
Situasi Medan Perang dan Tantangan Diplomasi
Dalam laporan Kremlin, Putin memberikan penjelasan kepada Trump mengenai kondisi terkini di lapangan, mengklaim bahwa pasukan Rusia terus bergerak maju. Namun, data di lapangan menunjukkan laju ofensif Rusia cenderung terbatas dalam beberapa bulan terakhir akibat penggunaan drone yang masif oleh kedua belah pihak, yang menghambat pergerakan kendaraan tempur berat.
Di sisi lain, jalur diplomasi masih menemui jalan buntu. Moskow tetap pada tuntutannya agar Ukraina menarik seluruh pasukan dari wilayah Donetsk sebagai syarat damai. Tuntutan ini secara tegas ditolak oleh Kyiv, sehingga belum ada titik temu yang signifikan menuju gencatan senjata.
KTT NATO di Ankara sendiri akan dihadiri oleh delegasi dari 32 negara anggota. Donald Trump dijadwalkan tiba di ibu kota Turki mulai Selasa untuk mengikuti rangkaian pertemuan tingkat tinggi yang diharapkan dapat memberikan terobosan bagi perdamaian di Eropa Timur. (I-2)








































