Jelang Uji Coba MLFF, BPJT Terus Berkoordinasi dengan Roatex

4 hours ago 3
Jelang Uji Coba MLFF, BPJT Terus Berkoordinasi dengan Roatex Kendaraan memasuki gerbang tol. Persiapan uji coba pelaksanaan Multi Lane Free Flow (MLFF) terus dikebut.(Dok.Istimewa)

KEPALA Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT ) Ni Komang Rasminiati  mengatakan pihaknya  terus berkoordinasi dengan PT. Roatex Indonesia Toll System (RITS) sebagai Badan Usaha Pelaksana untuk melakukan pra -uji coba  proyek Multi Lane Free Flow (MLFF) atau sistem bayar tol tanpa setop. 

Koordinasi itu terkait dengan  persiapan  teknis skenario-skenario untuk pra uji coba sistem pembayaran jalan tol nir sentuh itu. “Kita sedang persiapan untuk menyiapkan ke arah sana secara teknis skenario-skenario yang akan diujicobakan.,” ujar Komang, di kantor Kementerian PU, Jumat (3/7).
 
Meski demikian, Komang tidak memberikan target waktu pasti kapan pra uji coba ini akan dilakukan. “Ya, kalau persiapannya sudah cukup matang, baru  kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra  uji-coba,” ujar Komang yang juga Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum Kementerian PU. 

Demikian juga dengan lokasi pra uji coba yang memang belum ditentukan. Nantinya, kata dia, lokasi pra -uji coba MLFF akan ditentukan berdasarkan skenario-skenario yang sudah disusun. 

Sistem MLFF ini menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) dan melakukan transaksi melalui aplikasi Cantas yang diintegrasikan dengan data ERI (Electronic Registration and Identification) atau data kepemilikan kendaraan yang dimiliki oleh Korlantas Polri.

Salah satu manfaat dengan kehadiran sistem transaksi MLFF ini adalah efisiensi biaya operasi dan meminimalkan penggunaan bahan bakar kendaraan. Penerapan transaksi tol MLFF menjadi terobosan dalam menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Selain pemborosan BBM, kemacetan di gerbang tol karena total transaksi harian gerbang tol yang mencapai 4 juta transaksi juga dapat mengakibatkan polusi udara.

PENYUSUNAN SKENARIO TEKNIS
Sebelumnya, Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo mengatakan perusahaan saat ini terlibat dalam penyusunan skenario teknis untuk pelaksanaan pengujian tersebut. Berbagai kemungkinan kondisi di lapangan sedang dibahas sebagai bagian dari persiapan.

Menurut Renaldi, koordinasi antara pemerintah dan investor berjalan baik. Ia juga menilai pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan proyek MLFF.

Sebagai investor dan mitra pemerintah dalam proyek tersebut, RITS masih menunggu keputusan terkait lokasi dan waktu pelaksanaan uji coba. Bali yang sejak awal direncanakan sebagai lokasi percontohan masih menjadi salah satu opsi, meski pengujian juga bisa dilakukan di ruas tol lain.

Renaldi menjelaskan kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak menerima surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada konsep MLFF. Namun dalam masa transisi, sistem gerbang tol dengan palang masih dimungkinkan untuk digunakan.

"Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung," katanya.

Menurutnya, penyusunan skenario dan pengujian menjadi tahapan penting sebelum pemerintah mengambil keputusan terkait implementasi MLFF secara lebih luas. Sistem ini diharapkan dapat mengurangi antrean kendaraan dan mempercepat transaksi di jalan tol.

KIAN MENDESAK
Di sisi lain, implementasi Multi Lane Free Flow (MLFF) dinilai semakin mendesak seiring meningkatnya volume lalu lintas dan kebutuhan pengelolaan transaksi jalan tol yang lebih efisien. Namun, penerapannya perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur di setiap ruas tol.

Pengamat transportasi dari Politeknik Transportasi Jalan, Anton Budiharjo, mengatakan sistem MLFF merupakan keniscayaan bagi pengelolaan jalan tol di masa depan. Selain mampu mempercepat arus kendaraan, sistem berbasis transaksi elektronik tersebut juga dinilai memudahkan pengawasan dan pengelolaan data oleh pemerintah.

“Volume lalu lintas terus meningkat. Dengan pembayaran berbasis elektronik, seluruh transaksi akan tercatat secara digital sehingga pengawasan menjadi lebih mudah. Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik,” ujar Anton.

MULAI IMPLEMENTASI
Menurut dia, pemerintah dapat memulai implementasi MLFF di wilayah yang memiliki kesiapan infrastruktur paling baik, seperti Jakarta. Namun, uji coba sebaiknya tidak langsung diterapkan di seluruh gerbang tol, melainkan dimulai pada satu gerbang terlebih dahulu.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat dapat merasakan manfaat sistem yang memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti untuk melakukan transaksi. Setelah berjalan baik, cakupan penerapan dapat diperluas secara bertahap ke gerbang-gerbang lainnya.

“Mulai dari satu gerbang dulu. Kalau masyarakat sudah merasakan kemudahannya, baru diperluas menjadi dua, tiga, hingga seluruh gerbang. Dalam jangka sekitar lima tahun, seluruh gerbang tol bisa menerapkan sistem multi lane free flow,” katanya. (Ant/E-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |