Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga swadaya masyarakat SOS Mata Atlântica mencatat angka deforestasi di hutan Atlantik Brasil mencapai level terendah sejak pemantauan pertama kali dilakukan 40 tahun lalu. Penurunan itu menjadi sejarah baru dalam upaya pelestarian lingkungan di wilayah bioma yang paling terancam di negara tersebut.
Direktur Eksekutif SOS Mata Atlântica Luís Fernando Guedes Pinto menjelaskan keberhasilan penurunan angka penggundulan hutan tersebut dalam laporan tahunan terbaru. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan hasil nyata dari kembalinya penguatan kebijakan perlindungan alam serta aksi penegakan hukum yang lebih ketat di lapangan.
"Kami telah melihat kembalinya kebijakan untuk memerangi deforestasi di bawah pemerintahan saat ini," ujarnya dilansir The Guardian, Kamis (14/5/2026).
Berdasarkan data pemantauan sepanjang tahun 2025, luas lahan yang mengalami deforestasi di hutan Atlantik tercatat sebesar 8.658 hektare. Angka tersebut mencerminkan penurunan signifikan sebesar 40% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 14.366 hektare, sekaligus menjadi momen pertama kalinya angka kerusakan hutan turun di bawah ambang 10.000 hektare sejak 1985.
"Ini adalah skenario yang sangat menggembirakan bagi pelestarian hutan, namun di sisi lain kita juga menghadapi tantangan regulasi yang bisa membalikkan tren penurunan ini," lanjut Pinto.
Hutan Atlantik sendiri merupakan kawasan vital bagi Brasil karena menjadi rumah bagi 80% populasi negara tersebut, termasuk kota-kota besar seperti Rio de Janeiro dan São Paulo. Saat ini, bioma tersebut hanya menyisakan sekitar 24% dari tutupan hutan aslinya, jauh di bawah Amazon yang masih mempertahankan sekitar 80% wilayahnya.
Meskipun mencetak rekor positif, para pegiat lingkungan memperingatkan adanya risiko besar dari pengesahan aturan hukum baru di kongres yang dinilai memperlemah perlindungan lingkungan. Regulasi tersebut menghapus persyaratan persetujuan dari badan lingkungan federal bagi pemerintah daerah untuk mengizinkan penebangan hutan.
Selain faktor regulasi, ancaman juga datang dari dinamika politik menjelang pemilihan presiden pada Oktober mendatang. Kehadiran kandidat Flávio Bolsonaro, yang berencana mengikuti pola kebijakan ayahnya, Jair Bolsonaro, dikhawatirkan akan memicu kembali lonjakan penggundulan hutan secara masif dan pengabaian terhadap sains iklim.
"Kelompok politiknya anti-sains, menyangkal sains iklim, dan melihat alam serta hutan sebagai hambatan pembangunan. Brasil bisa kehilangan kesempatan untuk menjadi pemimpin lingkungan global," pungkas Pinto.
(hoi/hoi)
Addsource on Google

1 hour ago
1















































