Kemiri Sunan: Sumber Biodiesel yang Menghijaukan Lahan Terdegradasi dan Menjaga Biodiversitas

2 hours ago 4

Oleh: Hakiki, Peneliti Teknik Sistem Energi Universitas Indonesia; Anggota Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P)

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika banjir bandang menyeret puluhan rumah di kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada pengujung 2025, publik cepat menuding langit: siklon tropis, hujan ekstrem, atau "amuk alam". Namun, audit forensik lingkungan menunjukkan cerita yang berbeda. Deforestasi menjadi penyebab utamanya, sementara hujan hanyalah pemicu.

Setelah perdebatan mereda, muncul satu pertanyaan yang justru paling mendasar, tetapi jarang diajukan: ketika tanah telanjur terluka, apa yang layak kita tanam di atasnya?

Di Indonesia, jawaban atas krisis energi hampir selalu mengarah pada satu komoditas, yaitu sawit. Mandat biodiesel nasional termasuk yang paling ambisius di dunia, dimulai dari B35 pada 2023, meningkat menjadi B40 sejak Januari 2025, dan ditargetkan mencapai B50 pada 2026 sebagai bagian dari agenda swasembada energi nasional. Seiring itu, konsumsi solar turun menjadi sekitar 40 juta kiloliter pada 2024.

Namun, di balik capaian tersebut tersimpan sebuah paradoks. Upaya menghadirkan solusi iklim dapat memunculkan tantangan baru apabila pengembangan bahan baku tidak disertai tata kelola lahan yang berkelanjutan. Alih fungsi hutan, penurunan kualitas tanah, dan tingginya kebutuhan air menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Di sejumlah kawasan, termasuk hulu Batang Toru, perubahan bentang alam akibat pembukaan lahan telah meningkatkan kerentanan terhadap bencana.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi bahan bakar nabati, melainkan apakah ada bahan bakar nabati yang tidak memicu deforestasi. 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya menghitung setiap jejak emisi melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) terhadap satu tanaman yang selama ini kurang mendapat perhatian, yakni kemiri sunan (Reutealis trisperma), yang dikembangkan di Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI), Sukabumi.

Aritmetika karbon

Kemiri sunan bukan tanaman pangan. Bijinya beracun sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan minyak goreng, sementara pohonnya mampu tumbuh di lahan kering yang tidak cocok untuk sawit. Dalam satu hektare hanya terdapat sekitar 130 pohon, jauh lebih renggang dibandingkan perkebunan sawit, serta masih memungkinkan diterapkannya sistem tumpang sari dengan kopi. Namun, keunggulan agronominya bukanlah faktor penentu. Yang lebih penting adalah jejak karbonnya.

Data menunjukkan bahwa satu liter biodiesel B100 berbahan baku kemiri sunan, dihitung sejak tahap budidaya hingga gerbang pabrik, menghasilkan emisi sebesar 2,04 kilogram CO₂-ekuivalen. Angka ini hampir separuh lebih rendah dibandingkan hasil penelitian sebelumnya yang mencatat 3,99 kilogram CO₂-ekuivalen per liter. Penurunan tersebut diperoleh melalui pembaruan data lapangan pada 2026 serta penyederhanaan proses produksi dengan menghilangkan tahap esterifikasi.

Namun, penilaian yang adil menuntut pembanding yang setara. Dengan menggunakan listrik dari jaringan PLN yang masih didominasi pembangkit berbahan bakar batu bara, emisi biodiesel kemiri sunan mencapai sekitar 1.802 kilogram CO₂-ekuivalen per ton. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan biodiesel sawit yang berada pada kisaran 1.659 kilogram CO₂-ekuivalen per ton, meski masih jauh lebih rendah daripada solar fosil yang mencapai sekitar 3.400 kilogram CO₂-ekuivalen per ton.

Sekilas, hasil tersebut tampak mengecewakan. Kandidat yang diharapkan menjadi alternatif justru terlihat kalah dibandingkan sawit.

Namun, kuncinya terletak pada satu faktor: sumber listrik. Analisis hotspot menunjukkan bahwa penyumbang emisi terbesar bukan berasal dari tanaman kemiri sunan, melainkan dari proses pengolahan biji, khususnya tahap pengeringan dan transesterifikasi kernel yang sangat bergantung pada listrik PLN. Tahap ini menyumbang sekitar 56 persen dari total emisi.

Ketika listrik tersebut digantikan dengan pembangkit listrik tenaga surya (solar photovoltaic atau solar PV), hasilnya berubah drastis. Emisi turun dari sekitar 2,02 kilogram menjadi hanya 0,74 kilogram CO₂-ekuivalen per liter, atau berkurang sekitar 63 persen. Jika dihitung per ton biodiesel, emisinya hanya sekitar 660 kilogram CO₂-ekuivalen.

Pada titik inilah kemiri sunan tidak lagi sekadar mampu menyaingi sawit, tetapi justru melampauinya. Dibandingkan solar fosil, selisihnya bahkan semakin jauh. Beban emisi pun bergeser dari konsumsi listrik menuju penggunaan metanol dan pupuk NPK.

Dengan kata lain, setelah sumber listrik dibersihkan, tantangan yang tersisa hanyalah meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan bahan kimia, persoalan yang relatif lebih mudah diselesaikan dibandingkan mengubah keseluruhan sistem energi.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |