M Deni Hidayatullah
Pendidikan dan Literasi | 2026-08-14 13:40:38
Di era layar lipat dan arus informasi tanpa henti, cara generasi muda menyerap nilai spiritual telah mengalami pergeseran radikal. Bilik pencarian TikTok, Instagram Reels, dan YouTube kini lebih sering dihampiri ketimbang pintu-pintu majelis taklim atau bilik pesantren. Pertanyaan mendasar tentang hukum ibadah, keraguan teologis, hingga konflik batin keagamaan dijawab bukan lagi oleh kiai atau ustadz terdekat, melainkan oleh deretan video pendek yang muncul instan di layar kaca.
Tanpa disadari, algoritma media sosial melalui fitur For You Page (FYP) telah mengambil alih peran otoritas keagamaan yang dulunya disandang para ulama. Algoritma inilah yang hari ini aktif menyeleksi, menyodorkan, dan seolah memvalidasi pemikiran mana yang paling dianggap sah untuk dikonsumsi publik. Sesuatu yang viral secara otomatis dianggap benar, sementara pemikiran yang mendalam namun sepi engagement terkubur jauh di kedalaman ruang digital.
Fenomena ini melahirkan krisis baru yang fundamental dalam lanskap keagamaan modern, yaitu erosi sanad keilmuan. Belajar agama yang bertumpu pada mesin alih-alih bimbingan guru melahirkan pemahaman Islam yang terfragmentasi, serba instan, dan dangkal. Keberagamaan yang terbentuk cenderung terisolasi dalam ruang gema pribadi (echo chamber) serta kehilangan esensi sanad ilmu otentik yang selama belasan abad menjamin keutuhan ajaran Islam.
Mengurai Esensi Sanad dan Tradisi Talaqqi
Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, sanad bukan sekadar daftar silsilah nama, melainkan transmisi nilai, adab, dan metodologi yang menyambungkan seorang murid hingga ke Rasulullah SAW. Ulama tabi'in Abdullah bin al-Mubarok pernah menegaskan, "Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah tidak ada sanad maka pencerita akan berkata sekehendaknya." Pembelajaran langsung secara tatap muka (talaqqi) memastikan bahwa ilmu ditransfer bersamaan dengan pemahaman konteks sosial, kehangatan empati, dan pembentukan karakter mulia.
Ketika ruang belajar berpindah sepenuhnya ke media sosial, proses transfer ilmu tersebut kehilangan dimensi adab dan keteladanan manusiawi. Penonton menyerap potongan fatwa berdurasi belasan detik dari pembuat konten yang sering kali tidak jelas latar belakang keilmuannya. Ilmu agama tak lagi dipahami sebagai nur (cahaya) yang menuntun jiwa, melainkan sekadar informasi mentah yang bebas ditafsirkan, dipotong, atau dikritik tanpa mengindahkan etika keilmuan yang baku.
Secara teknis, logika kerja algoritma media sosial memang tidak pernah dirancang untuk menguji kedalaman teologis atau kebenaran argumentasi fiqih. Sistem ini beroperasi semata berdasarkan engagement mengutamakan konten yang memicu emosi, sensasi, kontroversi, dan durasi tonton. Akibatnya, narasi keagamaan yang tajam, kaku, dan memantik perdebatan sengit jauh lebih diuntungkan oleh sistem ketimbang pembahasan agama yang teduh, moderat, dan komprehensif.
Agama yang Customized dan Pendangkalan Fiqih
Mekanisme ini menciptakan fenomena filter bubble yang berbahaya bagi kedewasaan beragama. Pengguna hanya disuguhi gagasan yang mengonfirmasi bias pemikiran mereka sendiri, sehingga pandangan keagamaan terdorong ke kutub ekstrem, baik sangat keras maupun terlalu bebas. Komodifikasi reaksi ini lambat laun memecah belah keutuhan ukhuwah dan menumpulkan rasa toleransi di tengah keberagaman penafsiran hukum Islam.
Dampak lebih jauh dari model konsumsi agama digital ini adalah munculnya gaya beragama yang solipsistik atau cafeteria religion. Agama diperlakukan layaknya barang belanjaan di swalayan, di mana seseorang bebas memilih potong-potongan hukum yang disukai dan mengabaikan kewajiban yang dirasa berat. Syariat dikonsumsi demi memuaskan kehendak pribadi semata, bukan lagi sebagai bentuk penyerahan diri secara utuh kepada Sang Pencipta.
Kedalaman fiqih yang sebenarnya kaya akan pertimbangan kemanusiaan dan metodologi usul fiqh pun mengalami pendangkalan luar biasa. Permasalahan hukum yang kompleks dan membutuhkan ijtihad mendalam disederhanakan menjadi vonis hitam-putih atau halal-haram dalam sekejap. Penafsiran instan ini secara implisit mengabaikan konteks sejarah dan prinsip dasar syariat (maqashid asy-syariah), melahirkan pemahaman agama yang serba kaku di luar namun rapuh di dalam.
Dua Langkah Rekonstruksi di Ruang Siber
Menghadapi tantangan zaman ini, langkah terbaik bukanlah memusuhi perkembangan teknologi digital. Yang mendesak untuk dilakukan adalah rekonstruksi sanad di era digital melalui penguatan literasi agama bagi masyarakat. Umat perlu dilatih untuk tetap kritis, mampu membedakan antara konten propaganda yang mengejar popularitas dan ilmu otentik yang bersumber dari rekam jejak keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Para ulama, akademisi, dan lembaga keagamaan mainstream juga dituntut untuk aktif merebut ruang publik digital secara lebih adaptif. Kehadiran figur keagamaan yang kompeten dengan kemasan konten yang menarik akan menjadi penyeimbang di tengah riuhnya informasi digital. Komunikasi agama harus dikemas relevan dengan bahasa generasi muda tanpa harus mengorbankan kedalaman materi dan bobot keilmuan yang disampaikan.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa algoritma canggih sekalipun hanya mampu menyajikan data dan statistik informasi (information). Mesin tidak akan pernah bisa menggantikan peran guru dalam memberikan transformasi spiritual, keteladanan adab, dan kedalaman hikmah (wisdom). Merawat tradisi bersanad di era digital adalah ikhtiar utama agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah samudra informasi yang kian riuh.
Sumber Gambar : https://share.google/RT7oWX9r5MH6dnHiV
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
8












































