Kisah Eric, Pria Asal Kamerun yang Selamat setelah Terjebak Online Scam di Kamboja

2 weeks ago 26
Kisah Eric, Pria Asal Kamerun yang Selamat setelah Terjebak Online Scam di Kamboja Ilustrasi korban online scam saat tiba di Kamboja.(Dok. IOM Cambodia)

HARI Antiperdagangan Orang Sedunia (World Day Against Trafficking in Persons) yang diperingati setiap tanggal 30 Juli menjadi momen pengingat akan bahaya perdagangan manusia yang mengintai warga dunia. Di tengah perkembangan dunia digital yang semakin masif, ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) hadir dalam berbagai bentuk yang semakin kompleks, seperti online scam.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut Asia Tenggara sebagai salah satu kawasan dengan kasus online scam tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Para korban perdagangan orang yang terjebak online scam berasal dari berbagai penjuru dunia. Kamboja menjadi salah satu negara dengan kasus perdagangan orang tertinggi saat ini. 

Di momen Hari Antiperdagangan Orang Sedunia 2026 ini, sebuah kisah perjuangan selamat dari jebakan online scam di Kamboja hadir dari seorang pria asal Kamerun bernama Eric (nama samaran). Melansir dari laman https://storyteller.iom.int/, berikut cerita Eric yang dituliskan oleh aktivis IOM di Kamboja, Khadiza Akter.

Mimpi Sederhana: Berpenghasilan Tetap

Berawal dari informasi seorang teman yang dipercayainya, Eric, seorang pria asal Kamerun. berangkat ke Kamboja dengan harapan tinggi. Namun, janji tersebut justru menjadi awal dari mimpi buruk yang panjang di Kamboja. Setibanya di sana, ilusi tersebut hancur seketika. Ia dipaksa bekerja di sebuah kompleks besar yang dijaga ketat untuk menipu orang asing secara daring (online scam).

“Ketika saya menolak, saya tidak diizinkan pergi. Mereka bilang saya berutang biaya paspor, visa, dan tiket pesawat—utang yang tidak pernah saya setujui,” kenang Eric.

Hidup dalam Cengkeraman Ketakutan

Di dalam kompleks tersebut, Eric bersama ratusan pekerja lainnya hidup dalam pengawasan ketat. Ponsel mereka disita, dan gerbang dikunci rapat. Setiap hari adalah ujian untuk bertahan hidup dengan jam kerja yang melelahkan, mencapai 12 hingga 14 jam sehari.

“Penjaga bersenjata berpatroli membawa senapan dan alat kejut listrik. Siapa pun yang tertinggal atau melanggar aturan akan dipukuli dengan kejam,” tuturnya.

Situasi semakin pelik ketika Eric mengetahui bahwa sindikat tersebut telah mengatur dan membayar tiket perjalanan istrinya untuk menyusul ke Kamboja. Di bawah ancaman kekerasan, Eric tidak berdaya untuk memperingatkan istrinya. Tak lama setelah tiba, sang istri pun terjebak dalam kondisi yang sama, dan mereka baru menyadari bahwa sang istri tengah mengandung.

Tebusan Ribuan Dolar dan Ketidakpastian

Selama lima bulan, pasangan ini bekerja tanpa dibayar sepeser pun sambil menjaga kandungan di tengah lingkungan yang penuh kekerasan. Saat kehamilan semakin membesar, para pelaku menuntut uang tebusan sebesar USD 6.000 (sekitar Rp97,5 juta) untuk kebebasan mereka.

Keluarga di Kamerun terpaksa berutang demi membayar tebusan tersebut. Meski telah membayar, mereka dilepaskan begitu saja di jalanan tanpa membawa apa pun kecuali paspor dan ponsel. Mereka terdampar di Phnom Penh dengan denda overstay visa yang menumpuk dan tanpa biaya hidup.

Di tengah keputusasaan, bayi mereka lahir dengan selamat di sebuah rumah sakit pemerintah di Phnom Penh. Namun, biaya persalinan sebesar USD 800 (sekitar Rp13 juta) semakin menambah beban utang mereka. Selama setahun, mereka bertahan hidup dalam ketidakpastian di negeri orang.

Intervensi IOM: Titik Balik Harapan

Titik terang muncul saat Eric berhasil menghubungi Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di Kamboja melalui internet.  Tawhida Kabir, Petugas Perlindungan IOM di Phnom Penh, menyatakan bahwa kasus Eric menjadi prioritas karena kerentanan keluarga tersebut, terutama adanya bayi baru lahir yang berisiko tinggi mengalami perdagangan orang kembali.

IOM segera memberikan bantuan berupa bantuan tunai untuk kebutuhan dasar dan pangan, perawatan medis dan vaksinasi untuk sang bayi, koordinasi dengan Kedutaan Besar Kamerun di Tiongkok untuk dokumen perjalanan darurat, hingga fasilitasi penghapusan denda visa kepada Pemerintah Kerajaan Kamboja.

Kembali ke Masa Depan

Melalui program Assisted Voluntary Return (AVR) dari IOM, Eric dan keluarganya akhirnya bisa pulang ke Kamerun. Tiket pesawat yang disediakan IOM menjadi kunci kebebasan yang selama ini mereka impikan.

“Kami diperlakukan sebagai manusia,” kata Eric dengan lega. “Tanpa bantuan ini, saya yakin keluarga saya masih akan menderita dalam lingkaran kemiskinan dan ketakutan. Sekarang, kami memiliki hidup, kebebasan, dan masa depan kami kembali.”

Kini, Eric telah kembali ke tanah airnya. Janji palsu yang hampir merenggut segalanya telah berlalu, dan ia siap membangun masa depan dengan caranya sendiri. (IOM//H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |