Tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan seorang warga yang tinggal di wilayah pengolahan batu kapur di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat(MI/DEPI GUNAWAN)
KUALITAS udara di kawasan industri pengolahan batu kapur Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, berada dalam kategori buruk dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Hal itu terungkap setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung Barat melakukan pengukuran dampak polusi udara. Ditemukan tujuh dari 15 rumah di wilayah itu memiliki kadar PM10 dan PM2,5 di atas baku mutu.
Meski demikian, hasil pengukuran tersebut belum bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan apakah sumber pencemaran berasal dari aktivitas industri pengolahan batu kapur.
"Jadi hasil tersebut belum dapat langsung disimpulkan berasal dari satu sumber tertentu, karena pada saat pengukuran tidak seluruh mesin pabrik beroperasi dan lokasi permukiman juga berdekatan dengan jalan raya," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Bandung Barat Lia Nurliani Sukandar, Rabu (29/7).
Dia menyatakan, lalu lintas kendaraan di sekitar lokasi permukiman juga bisa berpotensi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas udara saat pengukuran dilakukan. Karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui sumber utama pencemaran debu di wilayah tersebut.
Untuk mencegah dampak buruk polusi debu kapur di Kecamatan Padalarang dan Cipatat, pihaknya telah menerjunkan petugas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi warga sekitar.
"Program pemeriksaan kesehatan massal ini dijadwalkan berlangsung secara maraton hingga Jumat pekan depan sebagai upaya memastikan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah yang selama ini mengeluhkan paparan debu kapur di Cipatat dan Padalarang," jelasnya.
DISAMBUT MASYARAKAT
Pelaksanaan cek kesehatan mendapat respons positif dari masyarakat. Mereka tidak hanya memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan umum, tetapi juga mengikuti skrining gangguan pernapasan yang disediakan petugas kesehatan.
"Data sementara menunjukkan antusiasme masyarakat untuk mengecek kesehatannya cukup tinggi," ujarnya.
Seorang warga, Zaeni Abdul Muhti mengaku, dampak polusi udara debu kapur menyebabkan dua anak di keluarganya mengalami gangguan pernapasan hingga harus menjalani perawatan.
"Keponakan saya harus menjalani perawatan di rumah sakit, tapi sekarang sudah dipulangkan. Berdasarkan keterangan dokter, anak tersebut didiagnosis menderita asma," ucapnya.
















































