Kualitas Udara Jakarta Sabtu Pagi Terburuk Ketiga di Dunia

1 week ago 24
Kualitas Udara Jakarta Sabtu Pagi Terburuk Ketiga di Dunia Warga menggunakan masker saat beraktivitas untyuk menghindari paparan polusi udara di Jakarta.(MI/Usman Iskandar)

KUALITAS udara di DKI Jakarta pada Sabtu (1/8) pagi masuk dalam kategori tidak sehat. Berdasarkan pemantauan, Jakarta menduduki peringkat ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.00 WIB mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta berada di angka 163 dengan polutan utama PM2.5 dan konsentrasi mencapai 79,2 mikrogram per meter kubik.

Kondisi udara pada tingkat ini masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif karena berpotensi mengganggu kesehatan manusia, hewan yang rentan, hingga berisiko merusak tumbuhan serta nilai estetika lingkungan.

Guna meminimalkan dampak buruk polusi, IQAir merekomendasikan masyarakat untuk menghindari aktivitas luar ruangan. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar imbau memakai masker, serta menutup jendela bangunan guna mencegah masuknya udara kotor.

Daftar Kota Udara Terburuk & Sistem Peringatan Dini

Dalam rilis global IQAir Sabtu pagi, peringkat pertama kota dengan udara terburuk diduduki oleh Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) dengan AQI 243, disusul Kampala (Uganda) di posisi kedua (AQI 240). Di bawah Jakarta, terdapat Manama (Bahrain) di peringkat keempat (AQI 137) dan Dubai (Uni Emirat Arab) di posisi kelima (AQI 134).

Merespons ancaman polusi yang persisten, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kini tengah menyiapkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS) untuk memprediksi tingkat polusi udara secara lebih akurat.

Pengembangan EWS ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta dalam menekan dampak pencemaran udara serta meningkatkan kualitas hidup warga.

Keberadaan EWS diharapkan memberi manfaat besar bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan seperti asma. Dengan prediksi yang akurat, masyarakat dapat mengambil tindakan preventif, seperti membatasi aktivitas fisik di area terbuka dan mengenakan masker.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |