Mengapa Kanker Payudara Sering Terlambat Terdeteksi? Ini Penjelasan Dokter

2 weeks ago 3
Mengapa Kanker Payudara Sering Terlambat Terdeteksi? Ini Penjelasan Dokter Ilutrasi Kanker Payudara(Magnific)

KANKER payudara tetap menjadi ancaman kesehatan serius bagi perempuan di Indonesia. Meski edukasi terus digalakkan, kasus pasien yang datang dalam kondisi stadium lanjut masih sangat tinggi. Fenomena ini memicu keprihatinan di kalangan medis, mengingat keterlambatan penanganan sangat memengaruhi peluang kesembuhan dan biaya pengobatan.

Keterlambatan Deteksi Kanker Payudara

Dokter subspesialis Bedah Onkologi, dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, SpB, Subsp.Onk (K), menjelaskan bahwa kanker payudara sering kali tidak disadari oleh penderitanya hingga mencapai tahap yang parah. Salah satu faktor utamanya adalah karakteristik penyakit ini yang berkembang sangat cepat dan belum memiliki vaksin pencegah, berbeda dengan kanker serviks.

Menurut dr. Gusti Ayu, ada beberapa alasan mengapa pasien sering terlambat mendapatkan penanganan medis yang tepat:

  • Ketergantungan pada Pengobatan Alternatif: Banyak pasien yang awalnya merasakan benjolan kecil lebih memilih mencari pengobatan alternatif dibandingkan memeriksakan diri ke rumah sakit. Hal ini membuat sel kanker terus berkembang tanpa intervensi medis yang terukur.
  • Gejala yang Tidak Disadari: Pasien sering kali menganggap benjolan kecil bukan masalah besar. "Kalau breast cancer itu memang tahu-tahu sudah gede, sudah stadium, padahal katanya benjolannya kecil-kecil saja," ujar dr. Gusti Ayu di Kaiser Cancer Center, BSD City, Tangerang.
  • Kondisi Fisik yang Sudah Parah: Saat akhirnya memutuskan ke fasilitas kesehatan, banyak pasien ditemukan dengan ukuran tumor yang sudah besar, bahkan dalam beberapa kasus sudah menjadi luka yang mengeluarkan aroma tidak sedap.

Pentingnya Deteksi Dini: Mamografi dan USG

Dokter lulusan Universitas Airlangga yang berpraktik di RSUD Pasar Minggu ini menekankan bahwa kunci utama keberhasilan pengobatan kanker payudara adalah deteksi dini. Jika kanker ditemukan pada stadium awal (early stage), proses penanganannya jauh lebih sederhana.

Manfaat Deteksi Dini:

  • Prosedur operasi yang tidak rumit (less complicated).
  • Biaya pengobatan yang jauh lebih rendah.
  • Kebutuhan akan terapi lanjutan (seperti kemoterapi berat) dapat diminimalkan.

Untuk menangkap kasus pada stadium dini, dr. Gusti Ayu menyarankan dua metode skrining utama:

  1. Mamografi: Disarankan masuk ke dalam program medical check-up rutin bagi perempuan.
  2. USG Payudara: Sangat dianjurkan bagi perempuan usia muda untuk mendeteksi kelainan jaringan payudara sejak dini.

Beban Kasus dan Pembiayaan BPJS Kesehatan

Data dari BPJS Kesehatan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan terkait peningkatan kasus kanker payudara di Indonesia. Penyakit ini masuk dalam kategori penyakit katastropik dengan beban pembiayaan yang sangat signifikan.

Tahun Jumlah Kasus Biaya Terverifikasi
2021 1.080.031 kasus Rp1,03 Triliun
2025 1.941.410 kasus Rp1,99 Triliun

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menyatakan bahwa peningkatan kasus hingga mencapai lebih dari 1,9 juta kasus pada tahun 2025 menegaskan pentingnya optimalisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Melalui JKN, peserta perempuan dapat mengakses berbagai layanan kesehatan di setiap fase kehidupan, termasuk layanan deteksi dini untuk mencegah keterlambatan penanganan kanker payudara.

Keterlambatan deteksi kanker payudara bukan hanya masalah medis, tetapi juga masalah edukasi dan akses. Dengan menghindari pengobatan alternatif yang tidak teruji dan rutin melakukan skrining mandiri maupun medis (USG/Mamografi), peluang kesembuhan pasien dapat ditingkatkan secara signifikan sekaligus menekan beban biaya kesehatan nasional. (Ant/H-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |