Mengenal Bakteriofag, Virus di Usus yang Menargetkan Bakteri 

4 hours ago 6
Mengenal Bakteriofag, Virus di Usus yang Menargetkan Bakteri  Ilustrasi Bakteriofag(Dok.National institutes of Health)

ADA  virus yang memiliki peran berbeda dan justru dapat membantu mengatur populasi mikroorganisme di dalam tubuh. Salah satunya adalah bakteriofag, virus yang menginfeksi bakteri dan ditemukan di dalam usus. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi ketika virus di usus berinteraksi dengan bakteri? 

Menurut National Institutes of Health, usus manusia menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, jamur, dan virus. Di dalamnya terdapat virus yang menginfeksi bakteri, yaitu bakteriofag atau fag. 

Fag merupakan bagian dari virome manusia dan berperan dalam mengatur populasi bakteri serta ekosistem mikroba di dalam tubuh.

Fag memiliki kemampuan menargetkan bakteri tertentu. Peneliti dari Human Virome Program NIH menggunakan metode viral tagging, yaitu menandai fag dengan pewarna fluoresen untuk melacak interaksinya dengan bakteri. 

Pada penelitian terhadap Faecalibacterium prausnitzii, bakteri yang banyak ditemukan di usus, peneliti menemukan lebih dari 300 pasangan baru antara bakteri dan fag. Temuan ini dapat membantu peneliti memahami bagaimana fag berinteraksi dengan bakteri dan kaitannya dengan kesehatan usus. 

Penemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami lebih jauh hubungan antara virus dan bakteri di dalam usus. Namun, penelitian mengenai bagaimana setiap fag memengaruhi bakteri inangnya dan dampaknya terhadap kesehatan manusia masih terus dilakukan. 

Antimikroba

Kemampuan fag dalam menargetkan bakteri juga mendapat perhatian dalam menghadapi resistensi antimikroba (AMR). Menurut WHO, bakteriofag merupakan virus yang secara selektif menargetkan dan membunuh bakteri, termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Fag tidak menginfeksi sel manusia dan memiliki kemampuan menargetkan bakteri secara spesifik. 

Dalam terapi, fag dapat digunakan secara khusus untuk infeksi tertentu dan berpotensi dikombinasikan dengan antibiotik. WHO juga mencatat adanya laporan keberhasilan penggunaan terapi fag terhadap infeksi bakteri resisten, termasuk Staphylococcus aureus yang resisten terhadap metisilin dan Pseudomonas aeruginosa.

Meski demikian, fag belum dapat digunakan untuk mengatasi semua infeksi bakteri. Bakteri dapat mengembangkan resistensi terhadap fag, sementara tidak semua infeksi memiliki fag yang sesuai. WHO menegaskan bahwa bukti dari studi klinis masih diperlukan sebelum terapi fag dapat digunakan secara lebih luas pada manusia.

Karena itu, bakteriofag saat ini lebih tepat dipandang sebagai salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan untuk menghadapi bakteri resisten antibiotik, bukan sebagai pengganti antibiotik yang sudah terbukti secara universal.  (H-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |