MIND ID Mulai Bangun SGAR II, Tambah Kapasitas Produksi Alumina 1 Juta Ton per Tahun

3 weeks ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID resmi memulai pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek strategis ini ditandai dengan seremoni groundbreaking di Mempawah, Jumat (6/2/2026), sebagai bagian dari percepatan hilirisasi bauksit dan penguatan ekosistem industri aluminium nasional.

Pembangunan SGAR II menyerap investasi sekitar dolar AS 1,6 miliar dan akan menambah kapasitas produksi alumina sebesar 1 juta metrik ton per tahun. Dengan tambahan fasilitas ini, total kapasitas produksi alumina PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) meningkat menjadi 2 juta metrik ton per tahun.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan, pembangunan SGAR II menjadi langkah krusial untuk memperkuat ketahanan industri aluminium nasional sekaligus menekan ketergantungan impor.

“Dengan hadirnya SGAR II, kapasitas produksi alumina dalam negeri akan semakin kuat. Ini menjadi fondasi penting untuk membangun kemandirian industri aluminium nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ujar Maroef.

Ia menambahkan, proyek ini merupakan bagian dari roadmap hilirisasi aluminium terintegrasi yang mencakup rantai pasok dari bauksit, alumina, hingga aluminium. Melalui penguatan kapasitas produksi di sisi midstream, MIND ID menargetkan peningkatan nilai tambah ekonomi hingga lebih dari 70 kali lipat.

Menurut Maroef, hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan industri nasional. Harga bauksit mentah berada di kisaran dolar AS 40 per metrik ton, meningkat menjadi sekitar dolar AS 400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina, dan melonjak hingga dolar AS 2.800–3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium.

“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan negara di sektor mineral demi peradaban masa depan Indonesia,” kata Maroef.

Selain SGAR II, proyek terintegrasi di Mempawah juga mencakup pembangunan smelter aluminium baru dengan kapasitas 600.000 metrik ton aluminium per tahun. Kehadiran dua fasilitas strategis ini diproyeksikan mampu menekan impor aluminium secara signifikan serta meningkatkan cadangan devisa nasional.

Maroef menyebutkan, saat smelter aluminium baru beroperasi penuh, cadangan devisa diperkirakan naik hingga 394 persen, dari sekitar Rp 11 triliun menjadi Rp 52 triliun per tahun. Di sisi lain, industri manufaktur dalam negeri akan memperoleh kepastian pasokan bahan baku yang stabil dan berkelanjutan.

Sementara itu, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan, proyek hilirisasi merupakan agenda strategis nasional yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia sekaligus fokus utama Danantara dalam mendorong transformasi ekonomi.

“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, hilirisasi akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar Rosan.

Ia menambahkan, kolaborasi erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis menjadi kunci agar proyek-proyek hilirisasi dapat direalisasikan secara disiplin, tepat waktu, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |