MPKS Muhammadiyah Ajak Umat Jadikan Ramadhan Bulan '3S'

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Kini, umat Islam kian mendekati pertengahan Ramadhan. Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Faozan Amar mengajak kaum Muslimin untuk kembali merenungi perjalanan dalam bulan suci ini. Dengan begitu, konsistensi dapat dicapai untuk menuju tujuan puasa Ramadhan yakni mencapai ketakwaan, seperi disebut dalam Alquran surah al-Baqarah ayat ke-183.

Anggota Dewan Pengawas Syariah Koperasi Khairu Ummah Grup itu mengatakan, Ramadhan harus dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia pun mengajak umat Islam agar menjadikan Ramadhan sebagai bulan 3S: Saving, Sharing, & Solidarity (menabung, berbagi dan solidaritas).

“Ramadhan harus kita jadikan bulan 3S, yakni saving, sharing, dan solidarity. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum membangun disiplin diri, kepedulian sosial, dan kekuatan ukhuwah,” ujar associate professor FEB UHAMKA itu saat memberikan tausiah jelang berbuka puasa dalam di Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Ia menjelaskan, konsep saving bukan sekadar hemat secara materiel, melainkan juga pengendalian diri dan pembentukan karakter takwa.

Puasa adalah latihan self-control, menahan makan, minum, emosi, serta dorongan konsumtif. Allah SWT telah mengingatkan dalam Alquran surah al-A’raf ayat ke-31. Artinya, "Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Nabi Muhammad SAW pun bersabda, "Puasa itu adalah perisai" (HR Bukhari dan Muslim). Kemudian, lanjut Faozan, dalam perspektif ekonomi syariah pun disiplin konsumsi dan pengendalian hawa nafsu menjadi fondasi. Ini juga berkaitan dengan stabilitas keluarga dan keberlanjutan ekonomi umat.

Dimensi kedua adalah sharing, dalam arti memperkuat zakat, infak, sedekah (ZIS). Termasuk di antaranya, tradisi memberi makan orang yang berpuasa.

Faozan mengutip hadis riwayat Bukhari, yakni bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan suci. Spirit berbagi ini, tegasnya, harus diterjemahkan dalam gerakan nyata penguatan filantropi Islam agar manfaatnya semakin luas dan tepat sasaran.

Nabi SAW bersabda, "Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu" (HR Tirmidzi). Hadis demikian menegaskan, solidaritas sosial memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Sementara itu, solidarity dimaknai sebagai penumbuhan empati, ukhuwah, dan kepedulian sosial. Faozan mengingatkan firman Allah dalam Alquran surah al-Hasyr ayat kesembilan. Artinya, “Mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini menjadi fondasi teologis bagi lahirnya masyarakat yang saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

Maka, Ramadhan adalah madrasah spiritual dan sekaligus laboratorium sosial. Di dalamnya, umat Islam ditempa menjadi pribadi bertakwa sekaligus agen perubahan sosial yang peduli dan berdaya.

“Jika saving membentuk karakter, sharing menggerakkan kepedulian, dan solidarity memperkuat ukhuwah, maka Ramadhan akan melahirkan transformasi pribadi dan sosial secara bersamaan,” tukas Faozan.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |