Nasib Tragis Adi Jadi Tentara Rusia, Korban Drone dan Uangnya Diambil Agen

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Adi, warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi tentara Rusia, menjelaskan, kondisinya kini sudah dua bulan dirawat di rumah sakit (RS). Dia menjadi salah satu sasaran korban drone Ukraina kala sedang bertugas.

Dia sempat mengirimkan foto tangannya diperban lantaran menjadi sasaran drone Ukraina hingga salah satu jarinya terputus. Adi sudah tiga bulan berada di Rusia. Dia berangkat ke negeri Beruang Merah, dijanjikan pekerjaan sipil, bukan sebagai personel militer. Keadaan ekonomi yang memaksanya pergi dari Jakarta ke Moskow untuk mengubah nasib demi bisa menghidupi anak dan istri.

Kepada Republika, Adi sempat mengirimkan foto seorang perempuan yang menjadi agen rekruter di Jakarta. Oleh orang tersebut, ia dijanjikan pekerjaan sipil di Rusia. Faktanya, ia dibohongi orang itu karena malah dijadikan tentara setiba di Moskow, Rusia.

"Ini orang yang menawarkan pekerjaan ini Mas dia kerja sama, sama mafia di Rusia  mereka tuh jahat, mereka janji ngasih kerjaan security, office boy, jaga sekolah, jaga rumah sakit, dan itu di kota, dan kenyataan nya kami jadi tentara bayaran," kata Adi kepada Republika di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Menurut dia, sang agen rekruter mengancamnya ketika ada niatan pulang ke Indonesia. "Setelah tahu kami pengen pulang kami malah harus disuruh ganti biaya ongkos dua kali lipat, dan setelah menjalanin (pekerjaan jadi tentara), mereka juga mencuri uang kita, sekarang mereka kabur," ucap Adi menjelaskan kelakuan agen rekruter Rusia.

Adi sebenarnya tidak lulus tes kesehatan ketika sudah sampai di Rusia. Padahal, dokter yang memeriksanya memutuskan ia tidak layak untuk berperang, akibat penyakit yang diderita. Sayangnya, sang agen yang tetap memaksanya meneken kontrak hingga harus dikirim ke garis depan melawan militer Ukraina. 

"Di Moskow saya sudah ditolak oleh militer Moskow, tapi mereka menolak memulangkan saya, saya malah dikirim ke Kota Ryzan. Saya inget sekali pihak di Moskow udah berupaya memasukan saya ke milliter, tapi pihak medis menolak karena ada beberapa faktor kesehatan saya yang gak bisa lanjut, tapi pihak agen tetep memaksa memasukan saya," kata Adi.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |