Petenis Australia Nick Kyrgios(AFP/William WEST)
NICK Kyrgios pernah sesumbar bahwa ada "nol peluang" dirinya akan tetap bermain tenis hingga usia 30-an. Namun, ironisnya, di usia 31 tahun, saat ia berjuang bangkit dari cedera lutut dan pergelangan tangan yang serius, kariernya justru terancam berakhir akibat skandal doping.
Petenis asal Australia ini dinyatakan positif mengandung metabolit kokain di ajang Mallorca Terbuka, Juni lalu. Melalui unggahan di media sosial, Kyrgios mengakui perbuatannya sebagai "kesalahan besar" dan menyatakan bertanggung jawab penuh atas insiden tersebut.
Kyrgios mengungkapkan bahwa rentetan cedera telah membebani mentalnya secara luar biasa. Sejak awal 2023, ia tercatat hanya mampu bermain di delapan turnamen dan hanya memenangkan dua pertandingan.
"Menerima kenyataan bahwa saya mendekati akhir karier terasa jauh lebih sulit daripada yang pernah saya bayangkan," ungkapnya.
Ancaman Sanksi dan Proses Hukum
Saat ini, petenis yang kini menempati peringkat 919 dunia tersebut sedang menjalani suspensi sementara hingga kasusnya tuntas. Meski menghadapi ancaman larangan bertanding hingga empat tahun, terdapat celah hukum yang bisa meringankan hukumannya.
Jika Kyrgios mampu membuktikan bahwa zat terlarang tersebut dikonsumsi di luar periode kompetisi, sanksinya dapat dipangkas menjadi maksimal tiga bulan. Namun, proses hukum ini diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan.
Rekam Jejak Kontroversi Nick Kyrgios
Sepanjang kariernya, Kyrgios dikenal sebagai pemain yang berbakat sekaligus destruktif. Ia mampu mengalahkan Rafael Nadal di debut Centre Court Wimbledon pada usia 19 tahun, namun di sisi lain, ia kerap terjerat masalah disiplin dan perilaku buruk di lapangan.
| 2015 | Komentar tidak senonoh terhadap pacar Stan Wawrinka di Montreal. | Larangan bertanding 28 hari (ditangguhkan). |
| 2016 | Perilaku buruk dan "kurang usaha" di Shanghai Masters. | Larangan 8 minggu (dikurangi jadi 3 minggu setelah konseling). |
| 2019 | Melempar kursi ke lapangan (Italia Terbuka) & pelecehan verbal wasit (Cincinnati). | Denda Rp1,7 miliar ($113.000) & larangan 16 minggu (ditangguhkan). |
| 2023 | Mengaku melakukan penyerangan terhadap mantan kekasih, Chiara Passari. | Bebas dari catatan kriminal oleh pengadilan Canberra. |
| 2024 | Positif metabolit kokain di Mallorca OpeTerbuka. | Suspensi sementara (proses hukum berjalan). |
Sisi Gelap dan Perjuangan Mental
Dalam dokumenteri Netflix Break Point, Kyrgios mengakui bahwa tahun 2019 adalah titik terendah dalam hidupnya. Ia terjebak dalam penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, bahkan sempat menjalani perawatan di rumah sakit jiwa di London untuk mengatasi masalah kesehatan mental dan perilaku menyakiti diri sendiri.
Ia juga sering blak-blakan mengenai kurangnya dedikasi terhadap tenis. Kyrgios mengaku lebih suka bermain basket dan sering mengabaikan pola makan serta latihan profesional. Kepada Louis Theroux pada 2024, ia bahkan mengaku pernah meminum "20 hingga 30 gelas alkohol" tepat sebelum hari pertandingan.
Kritik Terhadap Sistem Antidoping
Menariknya, sebelum tersandung kasus ini, Kyrgios adalah salah satu kritikus paling vokal terhadap sistem antidoping tenis yang ia sebut "mengerikan". Ia sempat mengecam keringanan hukuman yang diterima Jannik Sinner dan Iga Swiatek dalam kasus doping mereka baru-baru ini.
"Hari yang menyedihkan bagi tenis. Keadilan dalam tenis itu tidak ada," tulisnya saat Sinner hanya menerima hukuman tiga bulan.
Kini, nasib karier Kyrgios berada di tangan sistem yang selalu ia kritik tersebut. Ia menyatakan akan menarik diri dari kehidupan publik selama 28 hari ke depan untuk fokus memperbaiki diri sebelum mencoba kembali ke lapangan hijau. (bbc/Z-1)













































