REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik rimbunnya vegetasi hutan di Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, tersimpan sebuah teka-teki besar tentang asal-usul peradaban Nusantara. Kawasan ini bukan sekadar hutan biasa; ia adalah "perpustakaan batu" yang menyimpan jejak manusia dari ribuan tahun silam.
Melalui komitmen terbaru yang ditegaskan pada Sabtu (17/1/2026), Kementerian Kebudayaan kini menaruh fokus besar pada Situs Cibalay dan Arca Domas. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk menjaga batu-batu tua, melainkan untuk membina dan mengembangkan kawasan ini menjadi pusat wisata budaya, sejarah, hingga religi yang mampu memberikan napas ekonomi bagi warga sekitar tanpa mencederai keasliannya.
Situs Cibalay sendiri adalah sebuah mahakarya punden berundak yang mempesona. Secara struktural, situs ini memiliki orientasi sakral utara-selatan yang mengarah langsung ke kemegahan Gunung Salak. Terdiri dari lima teras yang tersusun rapi, bagian tertingginya berada di sisi selatan, seolah menjadi altar pemujaan yang mendekatkan manusia dengan langit. Di setiap tingkatannya, tersebar menhir atau tonggak batu tegak dalam jumlah yang berbeda-beda, menciptakan suasana magis yang membawa siapa pun yang datang seolah melintasi lorong waktu ke era prasejarah.
Yang membuat banyak orang tertarik untuk mendaki hingga ke situs ini adalah perpaduan antara misteri arkeologis dan ketenangan alamnya. Pengunjung akan disuguhi pemandangan formasi batu yang disusun secara sengaja oleh tangan manusia purba, yang menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menunjukkan ciri kuat sebagai pusat aktivitas altar atau pemujaan di masa lalu. "Ini luar biasa; terlihat adanya teras-teras rata dan tonggak-tonggak batu yang disusun secara sengaja," ujar Fadli Zon saat meninjau lokasi.
Estetika purba ini, berpadu dengan udara dingin pegunungan dan suara gemericik air terjun di sekitarnya, menjadikan Cibalay destinasi favorit bagi mereka yang mencari pelarian dari bisingnya kota.
Namun, tantangan terbesar adalah usia dan pergeseran alam. Selama ribuan tahun, struktur punden berundak ini telah bergelut dengan pergerakan tanah, akar pepohonan yang merayap, serta aliran air yang mungkin telah mengubah posisi batu-batu dari bentuk aslinya. Inilah yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk mendorong penelitian lebih lanjut. Berdasarkan informasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Barat, terdapat sekitar 33 titik potensial yang masih tersembunyi di kawasan ini, menunggu untuk disingkap oleh para arkeolog.
Tak jauh dari Cibalay, tersembunyi Situs Arca Domas yang tak kalah legendaris. Jika Cibalay terlihat seperti konstruksi punden, Arca Domas masih menyimpan misteri dalam bentuk yang lebih murni dan asli karena belum banyak dilakukan ekskavasi. Selama ini, masyarakat hanya mengenal zona budayanya seluas enam hektar, namun hasil penelitian terbaru menunjukkan potensi kawasan ini mencapai 62 hektar, sebuah area yang sangat luas untuk sebuah situs megalitik.
Daya tarik Arca Domas terletak pada "anomali" dan jejak peradabannya yang diperkirakan berasal dari 2.000 hingga 3.000 tahun yang lalu. Nama "Arca Domas" sendiri sering dikaitkan dengan tradisi lisan masyarakat Sunda tentang tempat persemayaman para leluhur yang suci. Bagi para peneliti dan pencinta sejarah, kawasan ini adalah laboratorium hidup untuk memahami bagaimana manusia Nusantara bermukim dan menyusun tata ruang religi mereka sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk ke tanah Jawa.
Dengan potensi luasan yang mencapai 62 hektar tersebut, pemerintah bertekad mendorong pengujian ilmiah yang lebih masif untuk memastikan usia pasti dan fungsi setiap anomali batu yang ditemukan. Ke depan, kawasan Cibalay dan Arca Domas diharapkan tidak hanya menjadi tumpukan batu bisu, melainkan oase kebudayaan yang berbicara tentang jati diri bangsa.
Pengembangan kawasan ini akan menjadi bukti bahwa penghormatan terhadap masa lalu bisa berjalan beriringan dengan pemanfaatan berkelanjutan untuk kesejahteraan masa kini.
sumber : Antara

2 hours ago
1















































