
Oleh: Dadan Maula Darmawan, Pengasuh Pondok Modern Zamzam, Lebak Banten. Pengurus Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) MUI Pusat
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama bertahun-tahun, sejarah masuknya Islam ke Nusantara kerap diringkas dalam satu cerita: Islam datang bersama para pedagang Muslim yang berlayar mengikuti jalur perdagangan. Penjelasan itu tidak sepenuhnya keliru karena pelabuhan memang menjadi ruang penting perjumpaan masyarakat Nusantara dengan dunia Islam. Namun, apakah perdagangan saja cukup menjelaskan bagaimana Islam kemudian mengakar begitu dalam hingga membentuk kehidupan, tradisi, lembaga, dan peradaban masyarakat Nusantara?
Sebuah agama tidak menjadi cara hidup hanya karena pedagang datang membawa komoditas sekaligus memperkenalkan keyakinannya. Agama menjadi hidup ketika ajarannya dipelajari, nilai-nilainya ditanamkan, ibadahnya dipraktikkan, akhlaknya diteladankan, dan pengetahuannya diwariskan kepada generasi berikutnya. Di sinilah pendidikan layak ditempatkan kembali di jantung pembacaan sejarah Islamisasi Nusantara.
Perdagangan Membuka Pintu, Pendidikan Membuat Islam Tinggal
Perdagangan mempunyai peranan besar karena ia membuka pintu perjumpaan antara masyarakat Nusantara dan kaum Muslim dari berbagai kawasan dunia. Namun, perjumpaan belum tentu menghasilkan perubahan cara pandang, apalagi membangun sebuah peradaban yang bertahan berabad-abad. Perubahan itu membutuhkan guru yang mengajar, murid yang belajar, komunitas yang mengamalkan, dan generasi yang meneruskan.
Karena itu, persoalannya seharusnya tidak diletakkan pada pertanyaan dikotomis apakah Islam masuk melalui perdagangan atau pendidikan. Kajian mengenai Islamisasi Asia Tenggara menunjukkan perdagangan, ulama, sufi, perkawinan, politik, budaya, dan pendidikan saling berkelindan dalam proses panjang tersebut. Yang perlu dibedakan justru fungsi masing-masing: perdagangan membuka ruang perjumpaan, sedangkan pendidikan memungkinkan ajaran baru dipahami dan diinternalisasi.
Perspektif tersebut mengubah cara kita memandang Islamisasi secara mendasar. Pedagang dapat memperkenalkan Islam, tetapi seseorang harus menjelaskan syahadat, mengajarkan shalat, mengenalkan Alquran, menerangkan halal dan haram, serta menanamkan adab dalam kehidupan. Ketika pengetahuan itu kemudian diajarkan kepada anak dan cucu, Islam berubah dari sebuah informasi menjadi tradisi yang hidup.
Pelajaran dari Sriwijaya
Salah satu fragmen sejarah yang menarik datang dari hubungan Sriwijaya dengan dunia Islam pada abad kedelapan. Sejumlah kajian mencatat korespondensi penguasa Sriwijaya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, termasuk riwayat tentang permintaan agar dikirim seseorang yang mampu mengajarkan Islam dan menjelaskan hukum-hukumnya. Apabila riwayat ini ditempatkan secara proporsional, kita menemukan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hubungan diplomatik: ada permintaan terhadap pengetahuan.
Tentu, korespondensi tersebut tidak dapat berdiri sendirian sebagai bukti bahwa Islamisasi Nusantara berlangsung semata-mata melalui pendidikan. Ia lebih tepat dibaca sebagai petunjuk bahwa dimensi intelektual dan transmisi pengetahuan telah hadir dalam hubungan awal antara dunia Melayu dan Islam. Justru kehati-hatian semacam ini penting agar keinginan menawarkan perspektif baru tidak membuat kita terjebak pada penyederhanaan sejarah yang lain.
Tetapi ada pertanyaan yang sulit diabaikan dari episode tersebut. Jika seorang penguasa meminta seseorang yang dapat mengajarkan Islam, bukankah itu menunjukkan bahwa sejak masa awal kebutuhan terhadap Islam bukan hanya kebutuhan bertemu dengan Muslim, melainkan juga kebutuhan memahami ajarannya? Sejarah Islamisasi karena itu perlu membaca bukan hanya kapal yang berlabuh, tetapi juga ilmu yang ditinggalkan setelah kapal-kapal itu kembali berlayar.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
6













































