Pengawalan Militer AS Pulihkan Sebagian Pengiriman Minyak di Selat Hormuz

1 week ago 24
Pengawalan Militer AS Pulihkan Sebagian Pengiriman Minyak di Selat Hormuz Ilustrasi.(Magnific)

LALU lintas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan tentatif setelah berminggu-minggu mengalami gangguan parah. Pemulihan ini terjadi bukan karena Teheran membuka jalur tersebut, melainkan karena semakin banyak perusahaan pelayaran dan kru kapal yang memanfaatkan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).

Lebih banyak kapal tanker minyak dan pengangkut gas alam cair (LNG) kini kembali ke jalur perairan tersebut seiring meningkatnya tekanan pada pasar minyak global. Kondisi ini tetap berlangsung meskipun Amerika Serikat dan Iran terus terlibat dalam aksi saling tembak rudal dan drone yang terjadi hampir setiap malam.

Pengawalan Angkatan Laut AS Pulihkan Pengiriman

Militer AS dilaporkan terus memperluas operasi pengawalan militer untuk kapal komersial, meskipun situasi di lapangan tetap rapuh dan pasar energi global masih sangat rentan. Data lalu lintas kapal yang disusun oleh Kpler menunjukkan bahwa 14 kapal komoditas transit di Selat Hormuz dalam dua arah pada Rabu (29/7), naik dari angka satu digit yang tercatat minggu lalu.

Meski meningkat, angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan angka sebelum perang dan belum mendekati jumlah yang dibutuhkan untuk menstabilkan pasokan minyak global. Menteri Energi AS, Chris Wright, dalam wawancara dengan Bloomberg Radio, mengonfirmasi bahwa Washington secara aktif melindungi ekspor energi komersial yang bergerak melalui jalur tersebut.

"Kami menggunakan militer Amerika Serikat untuk mengawal minyak dan gas keluar dari Selat Hormuz," ujar Wright. Ia menambahkan bahwa sekitar 6,5 juta barel minyak per hari kini bergerak keluar dari teluk melalui selat tersebut. "Kami memulihkan pasokan minyak global dan produk olahan ke dunia dari wilayah tersebut."

Angka 6,5 juta barel tersebut merupakan peningkatan, tetapi tetap jauh di bawah volume sebelum konflik, yaitu sekitar seperlima dari minyak mentah yang diperdagangkan secara global dan sebagian besar LNG transit di sana. Sebelum perang, rata-rata 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak olahan melewati Selat Hormuz setiap harinya.

Catatan Krisis: Ekspor saat ini hanya mewakili sekitar sepertiga dari throughput normal. Upaya pengalihan melalui pipa alternatif oleh Arab Saudi dan Emirat Arab juga memiliki dampak terbatas, terutama setelah pengumuman blokade Houthi terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Saudi di Selat Bab el-Mandeb.

Cadangan Global Mulai Menipis

Pasar global saat ini sangat bergantung pada inventaris yang dikumpulkan sebelum konflik dimulai. Namun, cadangan tersebut bersifat terbatas. Berdasarkan data terbaru dari Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS berada di angka 307,7 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli 2026, setelah pelepasan 3,8 juta barel lain.

Angka itu merupakan level terendah sejak 1983. Sebagai perbandingan, pada puncaknya di tahun 2009, SPR menampung lebih dari 727 juta barel. Penurunan terus-menerus ini dilakukan untuk membantu menstabilkan pasokan global selama krisis Hormuz berlangsung.

Pergeseran Pasar Minyak ke Asia

Gangguan yang terus berlanjut di Hormuz memaksa pasar minyak global untuk berubah. Pembeli minyak mentah di Asia mulai mencari sumber alternatif. Laporan minggu ini mengungkapkan pengiriman pertama minyak mentah Kanada sejak 2025 kini sedang menuju Jepang menggunakan kapal yang disewa oleh Exxon Mobil.

Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan kapal Freedom Glory yang berbendera Kepulauan Marshall, mampu membawa hingga 750.000 barel minyak mentah, berangkat dari Vancouver. Langkah ini diambil saat kilang terbesar Jepang, Eneos, mencari sumber baru di tengah tekanan ekonomi yang memaksa Tokyo memangkas perkiraan pertumbuhan tahun ini dari 1,3 persen menjadi hanya 0,09 persen. (National Security Journal/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |