Pengusaha Curhat Produksi Sawit 5 Tahun Mandek, Permintaan Terus Naik

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai industri sawit nasional menghadapi tantangan serius. Dalam lima tahun terakhir, produksi minyak sawit Indonesia disebut relatif stagnan, sementara konsumsi dalam negeri justru terus meningkat.


Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan, produksi sawit nasional dalam lima tahun terakhir tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan.


"Ini ada fakta di tempat kita (industri sawit), produksi kita 5 tahun terakhir ini ya relatif tidak bergerak, so-so saja. Ini menandakan ya industri kita ini perlu ada treatment. Salah satunya adalah melambatnya replanting, kita akui. Sehingga produksi kita tidak bergerak," kata Sugeng dalam konferensi pers dan buka bersama Gapki di Jakarta, Kamis (12/3/2026).


Data Gapki menunjukkan total produksi minyak sawit nasional sepanjang 2021-2025 bergerak dalam kisaran sekitar 51 juta hingga 56 juta ton. Pada 2025, produksi tercatat sekitar 56,5 juta ton, naik 7,2% dibandingkan 2024, namun secara tren lima tahunan masih relatif datar.


Di sisi lain, konsumsi minyak sawit dalam negeri justru terus meningkat. Data Gapki mencatat konsumsi domestik naik dari sekitar 18,4 juta ton pada 2021 menjadi sekitar 24,7 juta ton pada 2025, atau tumbuh sekitar 3,8% secara tahunan pada 2025.


Sugeng menilai kondisi ini menjadi tantangan bagi industri sawit nasional karena kebutuhan bahan baku terus bertambah.


"Sementara di satu sisi banyak sekali tuntutan-tuntutan yang memerlukan adanya pasokan CPO (Crude Palm Oil/minyak sawit mentah) ini. Jadi ini menjadi PR kita bersama," ujarnya.


Ia menyebut kenaikan konsumsi domestik tersebut bisa menjadi peluang, tapi sekaligus juga ancaman bagi industri sawit nasional. "Peluang apabila kita bisa menyediakan bahan bakunya, ancaman apabila produksi kita masih seperti yang tadi," ucap dia.


Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Gapki Eddy Martono menilai stagnasi produksi sawit tidak lepas dari lambatnya program peremajaan sawit rakyat (PSR).


"Di tahun 2025 produksi kita masih meningkat. Produksi kita meningkat 7%. Itu kita syukuri. Ini akibat dari replanting-replanting perusahaan yang memang sudah menghasilkan," kata Eddy.


Namun menurutnya, proses peremajaan di kebun petani berjalan sangat lambat. "Sementara justru kita perhatikan ini di petani-petani rakyat, ini justru lambat sekali replantingnya. Nah ini yang perlu menjadi PR kita bersama. Perlu menjadi PR juga kepada pemerintah, apa sih yang menjadi hambatan dari replanting tersebut," ujarnya.


Eddy menilai produksi sawit nasional sebenarnya bisa jauh lebih tinggi jika program replanting berjalan sesuai rencana.


"Kemarin juga saya laporkan ke Pak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) bahwa, Pak ini menjadi sebenarnya dengan sekarang total produksi 56 juta (ton) itu harusnya bisa lebih dari ini. Apabila replanting-replanting PSR atau replanting rakyat ini bisa berjalan dengan baik, sesuai dengan rencana. Ini jauh sekali pencapaiannya. Jadi bisa dikatakan juga tidak berjalan dengan baik. Nah ini yang menjadi PR kita bersama," pungkasnya.

(hoi/hoi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |