Jakarta, CNN Indonesia --
China dinilai memilih sikap non-alignment atau tidak berpihak secara langsung dalam konflik Timur Tengah yang semakin meluas.
China tetap tak berpihak langsung saat ketegangan di kawasan berpotensi mengganggu kepentingan strategis Beijing, terutama terkait keamanan energi dan proyek Belt and Road Initiative (BRI).
Analis geopolitik Priyajit Debsarkar menyebut pendekatan tersebut merupakan pilihan kebijakan yang disengaja oleh China di tengah eskalasi konflik yang semakin mengkhawatirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Non-alignment Beijing adalah kebijakan yang dipilih China ketika menghadapi konflik Timur Tengah yang menyebar dengan sangat cepat," kata Debsarkar.
Menurutnya, dampak konflik tersebut tidak hanya terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga hingga Asia karena gangguan terhadap pasokan energi global.
"Permusuhan ini bukan hanya tantangan bagi keamanan energi China, tetapi juga menjadi peringatan bagi proyek One Belt One Road," ujarnya, merujuk pada nama lain dari Belt and Road Initiative.
Konflik Iran vs AS-Israel
Secara prinsip, China disebut menolak upaya perubahan rezim di Iran. Namun Beijing tetap menjaga jarak strategis meski memiliki kepentingan besar terhadap pasokan minyak dari negara tersebut.
China bersama Rusia sebelumnya juga meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 28 Februari untuk membahas meningkatnya pertempuran antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah China telah memperingatkan warganya di Iran dan Israel agar bersiap untuk kemungkinan evakuasi. Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa Beijing memperhitungkan potensi eskalasi konflik, bukan bersiap untuk intervensi langsung.
Debsarkar menilai perhatian Beijing saat ini juga terbagi dengan agenda ekonomi domestik, termasuk ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat.
"Tampaknya perang di Timur Tengah memiliki prioritas lebih rendah dibandingkan isu tarif perdagangan yang berdampak langsung pada ekonomi China," katanya.
Selama beberapa waktu terakhir, China juga memperoleh keuntungan dari minyak Iran yang dijual dengan harga diskon besar. Bahkan sekitar 90 persen ekspor minyak Iran disebut mengalir ke China, sehingga membantu Beijing menahan dampak volatilitas pasar energi global.
Stabilitas harga energi sendiri merupakan faktor penting bagi industri dan ekspor China. Menurut Debsarkar, gejolak harga energi dapat memicu ketidakstabilan sosial dan ekonomi domestik.
Berbeda dengan dukungan aktif China kepada Pakistan dalam konflik sebelumnya dengan India, termasuk bantuan perangkat militer dan akses data real-time, Beijing dinilai mengambil pendekatan berbeda terhadap Iran.
"China tidak melihat Iran dengan perspektif yang sama seperti Islamabad. Dukungan yang diberikan tetap berada dalam batas tertentu," kata Debsarkar.
Ia menambahkan bahwa China memang telah memasang satelit dan menempatkan aset angkatan laut di kawasan sejak konflik meningkat.
Namun langkah tersebut lebih ditujukan untuk memantau perkembangan situasi dan mengumpulkan data mengenai dinamika medan perang.
Alternatif kekuatan global
Sikap hati-hati Beijing juga memunculkan pertanyaan mengenai kredibilitasnya sebagai pemimpin Global South, terutama ketika negara-negara berkembang menghadapi krisis keamanan.
Meski demikian, Debsarkar menilai China belum membuat keputusan strategis besar terkait Iran.
"China belum membuat taruhan yang benar-benar menentukan pada Iran dan sedang berjalan di atas garis tipis," ujarnya.
Menurut dia, kepentingan utama Beijing justru lebih besar pada stabilitas negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang memiliki hubungan ekonomi lebih luas dengan China.
Dalam jangka panjang, Debsarkar menilai situasi Iran yang melemah dapat menjadi risiko sekaligus peluang bagi Beijing.
"Jika dilihat lebih dekat, China bukan patron Iran, melainkan oportunis yang menjaga jarak," katanya.
China diketahui telah menanamkan investasi lebih dari USD100 miliar dalam proyek energi, infrastruktur, dan industri di kawasan tersebut.
Namun tantangan bagi Beijing adalah membuktikan diri sebagai alternatif kekuatan global di tengah krisis geopolitik yang semakin kompleks.
(dan)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
5

















































