Praktisi Migas Sebut Ketegangan AS-Venezuela tak Guncang Harga Minyak Dunia, Ini Alasannya

1 month ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai eskalasi ketegangan Amerika Serikat dengan Venezuela tidak mengganggu harga minyak dunia. Menurut dia, dinamika politik di Amerika Latin tersebut tidak cukup kuat memicu tekanan di pasar energi internasional.

Pergerakan harga minyak global justru menunjukkan tren melemah. Data kontrak Brent terbaru memperlihatkan harga berada di kisaran 58–61 dolar AS per barel, level terendah dalam sekitar lima tahun terakhir. Kondisi ini menegaskan pasar minyak tidak merespons eskalasi politik AS–Venezuela sebagai faktor risiko utama.

“Tidak akan mempengaruhi harga minyak dunia. Produksi Venezuela kecil, hanya sekitar 800 ribu barel per hari, kurang dari satu juta barel per hari,” kata Hadi kepada Republika.co.id, Senin (5/1/2026).

Ia menjelaskan, meski Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sekitar 300 miliar barel, sebagian besar berupa heavy oil yang membutuhkan teknologi serta biaya tinggi untuk diproduksi. Faktor tersebut membatasi kemampuan negara itu dalam memengaruhi pasokan global secara cepat.

“Venezuela bukan choke point seperti Selat Hormuz di Timur Tengah,” ujar Hadi.

Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) periode 2025–2028 ini menilai sensitivitas harga minyak global jauh lebih dipengaruhi kawasan yang memiliki peran strategis dalam jalur distribusi energi dunia. Risiko gangguan di wilayah Timur Tengah dinilai memiliki dampak sistemik yang lebih besar dibandingkan dinamika politik di Amerika Latin.

Ia juga menegaskan situasi tersebut tidak membawa konsekuensi berarti bagi Indonesia. “Tidak terlalu berdampak bagi Indonesia,” kata Hadi.

Di sisi korporasi, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) menegaskan perkembangan situasi terkini di Venezuela tidak berdampak terhadap aset dan staf Maurel & Prom (M&P) yang berada di negara tersebut. PIEP memastikan seluruh aktivitas tetap berjalan aman berdasarkan pemantauan perusahaan.

PIEP merupakan pemegang saham mayoritas M&P dengan kepemilikan 71,09 persen. Salah satu aset yang dikelola M&P berada di Venezuela dan menjadi bagian dari portofolio internasional perusahaan.

“Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela,” kata Manager Relations PIEP Dhaneswari Retnowardhani dalam keterangannya di Jakarta.

Perusahaan menyampaikan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan seiring dinamika situasi yang berkembang. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas operasional dan keselamatan seluruh personel di wilayah kerja.

PIEP juga menjalin koordinasi secara intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas sebagai langkah kehati-hatian dan penguatan komunikasi menghadapi perkembangan situasi lapangan.

Melalui langkah tersebut, PIEP menegaskan komitmen menjaga aset strategis dan sumber daya manusia di luar negeri tetap terlindungi. Perusahaan memastikan setiap perkembangan terus dipantau secara cermat sesuai prinsip kehati-hatian.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |