Puluhan Ribu Migran Terobos Perbatasan Ceuta Spanyol, 57 Orang Dilaporkan Tewas(JORGE GUERRERO / AFP)
SEKITAR 57 migran dilaporkan tewas setelah puluhan ribu orang berbondong-bondong menembus perbatasan dari Maroko ke wilayah Ceuta di Spanyol dalam 24 jam terakhir.
Pemerintah Spanyol mengonfirmasi lonjakan jumlah korban tewas tersebut pada Jumat malam. Presiden Regional Ceuta Juan Jesus Vivas menyebutkan sekitar 60.000 migran menerobos masuk melalui jalur darat dan laut, termasuk dengan berenang mengitari benteng perbatasan di perairan Pantai Tarajal.
Merespons gelombang migrasi ilegal terbesar ini, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez langsung melawat ke Ceuta dan menegaskan akan mengerahkan seluruh sumber daya negara. Ia menyebut penerobosan massal ini sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan wilayah.
"Dari hasil pembicaraan kami dengan otoritas Maroko, mafia perdagangan manusia memanfaatkan penafsiran sepihak atas putusan Mahkamah Agung," ujar Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez saat menyoroti disinformasi hukum yang memicu eksodus massal tersebut.
Sanchez memastikan otoritas keamanan kini mempercepat pemulangan para migran. Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat sekitar 25.000 orang telah dikembalikan ke Maroko.
Di lapangan, situasi krisis kian tak terkendali. Petugas Civil Guard di Ceuta Rachid Sbihi menggambarkan kondisi kawasan tersebut sangat memprihatinkan.
"Ini krisis kemanusiaan yang serius. Ribuan migran, termasuk anak-anak tanpa pendamping, tidur di trotoar sementara yang lainnya berkeliaran di jalanan tanpa tujuan," kata Rachid Sbihi.
Sbihi menambahkan bahwa sebagian korban tewas akibat tenggelam saat berenang menempuh jarak 5 kilometer dari Fnideq, Maroko. Sebagian lainnya tewas terinjak-injak akibat aksi saling dorong di pagar pemecah gelombang perbatasan. Bentrokan juga pecah di area gerbang masuk hingga membakar sejumlah kendaraan.
Eskalasi di Ceuta, yang merupakan satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa di benua Afrika selain Melilla, mendapat perhatian serius dari para pemimpin Eropa. Ketua Uni Eropa Ursula von der Leyen mengutuk keras insiden tersebut.
"Kita tidak boleh membiarkan siapa pun masuk ke Uni (Eropa) kita tanpa mematuhi aturan kita. Penyeberangan dangerous harus segera dihentikan. Jaringan penyelundupan harus dibongkar," tegas Ursula von der Leyen.
Dukungan penuh juga mengalir dari negara anggota Uni Eropa. Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan siap membantu Spanyol, termasuk pengerahan pasukan penjaga perbatasan dan pantai Eropa (Frontex) untuk mengamankan kawasan perbatasan. (ALjazeera/P-4)
















































