Saluran air ke sejumlah persawahan di Kabupaten Tasikmalaya sudah dalam kondisi mengering.(MI/KRISTIADI)
MUSIM kemarau telah berdampak pada kurangnya pasokan air ke areal persawahan. Di Kabupaten Tasikmalaya, 2.172 hektare lahan pertanian kekurangan air dan terancam gagal tanam.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS mengatakan, luas lahan tanam pada musim kemarau sekarang mencapai 4.948 hektare. Dari luasan itu, sudah 2.172 hektare mengalami kekeringan.
Sawah kekeringan tersebar di 26 Kecamatan. Kekeringan yang terjadi terdiri dari kategori ringan dan sedang.
"Sungai kering, sehingga lahan pertanian terdampak. Wilayah terparah terjadi di Kecamatan Manonjaya seluas 232 hektare, Jamanis seluas 225 hektare, Cipatujah seluas 200 hektare, Cikalong 655 hektare, Salawu 45 hektare, dan Sukaraja 19 hektare," tambahnya, Rabu (29/7).
Menurut Roni, kekeringan yang terjadi membuat petani kebingungan, karena mereka sudah melakukan pengolahan lahan hingga tanam.
"Kekeringan akan terus meluas, karena tidak kunjung turun hujan. Dinas pertanian diharapkan segera memberikan solusi. Petani menanam palawija sebagai pengganti padi," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, Ida Hindarsah mengatakan, luas lahan pertanian yang terancam kekeringan dan gagal tanam tersebar di 31 Kecamatan. Sejumlah petugas sudah disebar untuk memberikan edukasi agar lahan ditanami palawija.
"Berdasarkan laporan yang diperoleh lahan kekeringan terjadi di 31 Kecamatan dengan kondisi tanaman padi berusia 7 hingga 115 hari. Areal terdampak seluas 14.432 hektare. Kekeringan akan meluas jika hujan tidak turun pada Agustus," pungkasnya.
















































