Rudal Iran Makin Canggih Berkat China, Intel Barat Bilang Begini

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Akurasi serangan rudal Iran ke Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah disebut meningkat tajam. Para pakar intelijen menduga peningkatan tersebut terjadi karena Iran kemungkinan menggunakan sistem navigasi satelit milik China.

Mantan direktur intelijen luar negeri Prancis Alain Juillet mengatakan Iran kemungkinan telah memperoleh akses ke sistem navigasi satelit China BeiDou Navigation Satellite System.

Pernyataan itu disampaikan Juillet dalam podcast Tocsin Podcast. Ia menilai peningkatan akurasi rudal Iran menjadi salah satu kejutan besar dalam konflik terbaru dengan Israel.

"Salah satu kejutan dalam perang ini adalah bahwa rudal Iran lebih akurat dibandingkan dengan perang yang terjadi delapan bulan lalu, yang memunculkan banyak pertanyaan tentang sistem pemandu rudal tersebut," ujar Juillet, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (13/3/2026).

Amerika Serikat sendiri memiliki kemampuan untuk mengganggu atau memblokir akses ke Global Positioning System (GPS) milik pemerintah AS, yang sebelumnya digunakan militer Iran. Namun AS tidak memiliki banyak cara untuk mengganggu sistem BeiDou milik China jika Iran benar-benar menggunakannya.

Lantas, apa itu BeiDou?

China meluncurkan versi terbaru sistem navigasi satelitnya pada 2020 yang diklaim mampu menyaingi GPS. Presiden China Xi Jinping secara resmi mengoperasikan sistem tersebut dalam sebuah upacara di Great Hall of the People, Beijing, pada Juli 2020.

China mulai mengembangkan sistem navigasi satelitnya sendiri setelah Third Taiwan Strait Crisis, karena khawatir Washington dapat membatasi akses ke GPS di masa depan.

Menurut situs resmi BeiDou, tujuan sistem tersebut adalah untuk melayani dunia dan memberi manfaat bagi umat manusia.

Sistem ini juga menggunakan jumlah satelit yang lebih banyak dibandingkan sistem navigasi lain. Berdasarkan data tim AJ Labs, GPS AS memiliki 24 satelit, sementara BeiDou menggunakan 45 satelit.

Dua sistem navigasi global lainnya adalah GLONASS milik Rusia dan Galileo milik Uni Eropa, yang masing-masing memiliki 24 satelit.

Sistem BeiDou terdiri dari tiga segmen utama, yakni ruang angkasa, darat, dan pengguna.

Segmen darat mencakup berbagai stasiun seperti pusat kontrol utama, stasiun sinkronisasi waktu dan uplink, stasiun pemantau, serta fasilitas operasi dan manajemen jaringan antar satelit.

Sementara itu, segmen pengguna terdiri dari berbagai produk dan layanan, termasuk chip, modul, antena, terminal, sistem aplikasi, dan layanan berbasis navigasi.

Seperti sistem navigasi satelit lainnya, BeiDou bekerja dengan mengirimkan sinyal waktu dari satelit ke penerima di darat atau kendaraan. Dengan mengukur waktu yang dibutuhkan sinyal dari beberapa satelit untuk mencapai penerima, sistem dapat menghitung posisi geografis secara presisi.

Analis militer dan politik berbasis di Brussels Elijah Magnier mengatakan tingkat akurasi bergantung pada layanan yang digunakan.

"Sinyal sipil terbuka biasanya memberikan akurasi sekitar lima hingga 10 meter, sementara layanan terbatas bagi pengguna resmi dapat memberikan presisi yang jauh lebih tinggi," kata Magnier.

Iran belum mengonfirmasi kabar tersebut. Selain itu, belum jelas apakah perubahan sistem navigasi satelit untuk operasi militer bisa dilakukan secara menyeluruh dalam waktu singkat sejak perang dengan Israel pada Juni tahun lalu.

Setelah konflik tersebut, Kementerian Teknologi Informasi dan Komunikasi Iran menyatakan bahwa negara itu menggunakan semua kapasitas yang ada di dunia dan tidak bergantung pada satu sumber teknologi.

Namun Juillet mengatakan kepada Tocsin bahwa beralih ke sistem BeiDou China merupakan penjelasan yang realistis atas meningkatnya akurasi serangan Iran.

"Ada pembicaraan tentang mengganti sistem GPS dengan sistem China, yang menjelaskan presisi rudal Iran.Target-target penting telah berhasil dihantam." pungkasnya.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |