Rupiah Lemah-Semua Mahal, Usai Naik Rp4 Juta-Harga Rumah Naik Lagi?

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali mencetak rekor pelemahan terendah sepanjang sejarah dengan tembus level Rp 17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Sejumlah bank nasional bahkan mulai menjual dolar AS di kisaran Rp 17.500 hingga mendekati Rp 17.700.

Tekanan kurs tersebut mulai memukul industri properti nasional. Bos pengembang mengaku lonjakan dolar AS, kenaikan harga BBM, hingga perang global membuat biaya pembangunan rumah semakin mahal.

"Pada saat kebijakan Gubernur Jawa Barat terkait tambang disetop, kami kena kenaikan Rp 4 juta per rumah. Sekarang dampak dari perang dan BBM, kenaikan material bangunan rata-rata 15%," kata Sekjen Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Deddy Indrasetiawan kepada CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Tekanan biaya tersebut dirasakan langsung pada pembangunan rumah subsidi tipe 35/60 yang selama ini menjadi salah satu pasar utama pengembang daerah. Kenaikan biaya konstruksi membuat margin proyek semakin tertekan.

Di tengah lonjakan harga material, pengembang juga menghadapi perubahan pola pembayaran dari pemasok bahan bangunan. Sejumlah supplier kini meminta pembayaran di muka sebelum barang dikirim, utamanya material yang lebih diperebutkan.

"Kenaikan material. Sudah gitu ada beberapa material harus bayar di depan baru kemudian dikirim. Kalau material alam pasti di depan dulu sekarang. Karena rebutan," kata Deddy.

Beberapa bahan bangunan yang mulai mengalami tekanan harga antara lain mebel dan keramik. Pelemahan rupiah juga disebut membuat biaya material tertentu semakin berat karena masih memiliki keterkaitan dengan impor.

Meski biaya pembangunan melonjak, pasar properti residensial belum menunjukkan pemulihan berarti. Penjualan rumah masih stagnan dibanding tahun lalu karena daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.

"Penjualan hampir sama seperti tahun lalu, belum ada peningkatan signifikan," kata Deddy.

Ia juga menilai dampak pelemahan rupiah sulit dipisahkan dari efek kenaikan BBM karena keduanya terjadi dalam waktu bersamaan. Kedua faktor itu juga sama-sama mendorong lonjakan biaya pembangunan.

"Ini nggak bisa kami pisahkan karena berbarengan dengan kenaikan BBM," ujarnya.

Sebagai catatan, melansir data Refinitiv, hari ini, Selasa (12/5/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp17.490/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah terbaru.

Sepanjang perdagangan, pelemahan rupiah sempat semakin dalam hingga menembus level psikologis Rp17.500/US$. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah intraday di posisi Rp17.525/US$.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |