Fasilitas Smelter AMNT setelah terbangun di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.(Dok AMMAN)
LANGIT di Desa Maluk, Kecamatan Maluk, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih gelap tatkala deru mesin mini bus diesel terdengar renyah menyambut pagi sekitar pukul 5.30 Wita. Seorang laki-laki paruh baya dengan rambut mulai beruban berada di belakang setir. Dia sedang memanaskan mesin kendaraannya karena siap-siap mengantar karyawan masuk kerja.
Tiap hari, selama lebih dari dua tahun terakhir tugasnya sama, mengantar dan menjemput puluhan karyawan dari tempat mereka menginap di hotel (penginapan) di sekitar Maluk menuju ke titik lokasi shelter mereka diturunkan, di antaranya adalah di Benete kawasan Tambang Batu Hijau. Bolak-balik sekitar 10 km.
"Kalau saya telat 5 menit, belasan orang bisa telat masuk shift," kata Pak Den, demikian pengemudi tersebut akrab disapa, kepada Media Indonesia sambil menepuk pelan setir di depannya.
Pak Den saat ini bekerja sebagai sopir, dia sehari-hari mengantar, dan menjemput karyawan yang bekerja pada salah satu perusahaan yang membangun sejumlah fasilitas di dalam kawasan tambang tembaga dan emas tersebut. Ia tidak sendiri, beberapa temannya pada perusahaan yang sama juga melakukan hal serupa, menjemput dan mengantar karyawan berangkat dan pulang kerja.
“Meskipun tugas mengantar sudah selesai, kami tetap di sana karena sewaktu-waktu diperlukan harus siap,” katanya.
Sebelumnya Pak Den adalah seorang sopir truk yang mengangkut hasil pertanian seperti jagung terkadang juga pasir di wilayah Kecamatan Seteluk. Pendapatannya ketika itu tidak menentu. Namun berkat informasi dari temannya, ia kemudian mendaftar menjadi sopir pada salah satu perusahaan yang sedang membangun fasilitas dalam kawasan. Lamaran diterima dan ia pun menerima gaji di atas UMR dan masih ditambah uang insentif bila lembur, BPJS, serta Tunjangan Hari Raya (THR).
“Alhamdulillah kami juga mendapat bonus yang lumayan,” katanya bangga.
Pak Den adalah warga Sumbawa Barat yang berdomisi di Kecamatan Seteluk. Ia mempunyai seorang istri dan satu orang anak. Berkat kerja keras yang digelutinya Pak Den dapat meneruskan pendidikan anaknya hingga berkuliah di Universitas Mataram (Unram).
Namun di balik senyumnya yang semringah, Pak Den nampaknya menyimpan rasa cemas. Cemas memikirkan bagaimana nasibnya tatkala perusahaan tempatnya bekerja telah merampungkan pekerjaan, habis kontrak alias harus hengkang dari kawasan tambang. Kendati perkiraan hal tersebut masih sekitar satu tahun lagi, setidaknya bayangan buruk itu terkadang menghantuinya.
Memang sebut Pak Den, jauh sebelumnya dia sudah mendengar tentang adanya pembangunan smelter dalam kawasan yang diyakininya bakal menyerap banyak tenaga kerja baru. “Saya sempat berpikir jika smelter nanti mulai operasional pasti akan membutuhkan sopir, dan saya akan melamar,” ujarnya.
Namun, Pak Den menepis sendiri harapannya untuk kembali dapat bekerja setelah nanti benar-benar harus berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja.
“Harapan saya seperti itu, tapi saya sadar dari sisi usia tentu akan kalah dengan anak-anak muda yang jauh lebih energik,” tukas Pak Den yang sekarang usia menginjak 57 tahun.
Pak Den adalah contoh kecil dari ribuan warga lainnya yang berharap dapat bekerja di dalam kawasan tambang tembaga dan emas tersebut. Dia berharap untuk dapat terus beraktivitas demi menghidupi keluarga.
“Meskipun sebagai sopir, saya memang berharap dapat terus bekerja di dalam kawasan,” ujar Pak Den yang mengaku juga pernah kerja sebagai sopir di Timur Tengah.
Angin Segar
Sebagaimana diketahui, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), secara resmi dinyatakan rampung dibangun. Artinya, konsentrat tidak lagi dikirim ke luar negeri, melainkan diproses secara langsung di dalam negeri.
Kabar ini dihembuskan oleh AMMAN bahwa, penyelesaian proyek dikukuhkan melalui penandatanganan Completion and Project Acceptance Certificat (PAC) antara AMMAN dengan mitra strategisnya, China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering and Construction Co.,Ltd. (NFC), di kantor pusat NFC di Beijing, Tiongkok pada 18 Juli 2026 lalu.
Tentu saja berita ini membawa angin segar bagi perekonomian NTB. Dengan nilai tambah yang lebih tinggi dari pengolahan konsentrat menjadi katoda tembaga, emas, dan perak, NTB bisa meningkatkan pendapatan daerah dan membuka lapangan kerja baru.
Di balik hiruk-pikuk pembangunan smelter, tersimpan secercah harapan baru bagi NTB. Harapan akan masa depan yang lebih cerah, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.
Bagi anak muda NTB, smelter membawa harapan, sekaligus peluang emas. Mereka bisa saja mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik, mengembangkan keterampilan dan berkontribusi pada pembangunan daerah.
Tidak hanya itu, pembangunan smelter ini juga mendorong perbaikan infrastruktur di NTB seperti jalan, pelabuhan, dan energi yang pada gilirannya akan menarik investasi lainnya. Salah satunya, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bersama AMMAN telah membangun bandara di Desa Kiantar, Kecamatan Poto Tano, Sumbawa Barat. Bandara khusus, namun bisa digunakan untuk kepentingan umum.
Dua Kawasan Prestisius di NTB
Rampungnya Smelter merupakan langkah besar menuju NTB yang lebih maju dan sejahtera. NTB bisa menjadi pusat industri dan energi di Indonesia Timur, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pengamat ekonomi Universitas Mataram (Unram) Firmansyah mengatakan, bila smelter sudah berjalan, maka NTB dapat dikatakan mempunya dua kawasan industri prestisius. Di Lombok ada kawasan industri pariwisata yakni, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sedangkan di Pulau Sumbawa punya kawasan industri tambang yaitu smelter.
“Kesuksesan kawasan tentu saja dari tata kelola kawasan. Pastikan supply chain manejemen beres, dan berkelanjutan, produk dan tenaga kerja lokal dapat terserap,” katanya kepada Media Indonesia.
Menurut Firmansyah, terhadap penataan kawasan di dalam (Internal) merupakan wewenang pengelola kawasan, tetapi menyiapkan sektor penyangga itu adalah tugas pemerintah daerah.
“Kita berharap dengan mulai beroperasinya kawasan, itu bisa memperluas skala ekonomi Nusa Tenggara Barat,” tandasnya.
Tambang Batu Hijau yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat merupakan tambang tembaga-emas terbesar kedua di Indonesia. Fasilitas pengolahan menghasilkan konsentrat tembaga berkadar tinggi yang juga mengandung emas dan perak, yang sangat diminati oleh smelter di kawasan Asia-Pasifik, khususnya untuk material infrastruktur energi terbarukan.
Pada Mei 2025, tambang Batu Hijau memulai operasi penambangan Fase 8 yang diperkirakan akan memperpanjang umur tambang hingga tahun 2030, dengan potensi pemanfaatan stockpile hingga tahun 2033.
Selain itu, AMNT juga tengah mengembangkan Proyek Elang, yang berlokasi sekitar 60 kilometer di sebelah timur Batu Hijau. Deposit ini memiliki tambahan cadangan tembaga, emas, dan perak yang signifikan, serta studi kelayakan definitif telah diselesaikan pada tahun 2025.
“Kami berencana untuk memulai produksi dari tambang terbuka Elang setelah cadangan yang ada di pit Batu Hijau habis, dengan memanfaatkan fasilitas pengolahan bijih di Batu Hijau,” kata Presiden Direktur PT AMMAN Arief Widyawan Sidarto.

AMNT mengoperasikan tambang tembaga dan emas terbuka Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat, dan proyek pengembangan Elang yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa, NTB. Secara kolektif, kedua proyek ini merepresentasikan salah satu cadangan setara tembaga terbesar di dunia.
Secara paralel, tambang Elang telah menyelesaikan studi kelayakan definitif pada tahun 2025. Menindaklanjuti hasil studi kelayakan tersebut, tambang Elang saat ini sedang menjalani revisi dan studi optimalisasi.
Pembangunan tambang Elang dijadwalkan dimulai pada tahun 2026, dengan awal produksi bijih direncanakan pada tahun 2031, untuk memastikan kontinuitas produksi tembaga dan emas. Kegiatan operasional di tambang Elang akan memanfaatkan infrastruktur Batu Hijau yang sudah ada.
Sebetulnya, AMMAN telah menyelesaikan pembangunan dan memulai proses commissioning fasilitas smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR) pada tahun 2024, yang menandai tonggak penting dalam transformasi AMMAN menjadi perusahaan pertambangan dan pengolahan yang terintegrasi secara penuh.
Data yang dirilis AMMAN menyebutkan, pada tahun 2025, Perusahaan berhasil memproduksi katoda tembaga pertamanya pada bulan Maret 2025 dan emas murni pertamanya pada bulan Juli 2025.
Smelter tembaga dan pemurnian logam mulia tahap peleburan (smelting) adalah tahap di mana konsentrat tembaga mentah diubah menjadi logam bernilai tinggi dan produk sampingan strategis. Di AMMAN, transformasi ini didukung oleh teknologi canggih dan presisi operasional.
Smelter tembaga mutakhir itu dirancang untuk memproses hingga 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun, menghasilkan hingga 220.000 ton katoda tembaga, dan 830.000 ton asam sulfat setiap tahun. Dengan memanfaatkan gas alam sebagai sumber energi termal utama, fasilitas ini secara signifikan menurunkan intensitas karbon dibandingkan operasi peleburan konvensional.
Tambang Batu Hijau dan Proyek Pengembangan Elang PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) dan afiliasinya (selanjutnya disebut Grup) memegang konsesi seluas 25.000 hektare yang mencakup tambang Batu Hijau dan proyek Elang, yang bersama-sama memiliki salah satu cadangan tembaga-ekuivalen terbesar di dunia.
Hingga tahun 2025, Grup telah mengeksplorasi total area seluas 2.046 hektare di Batu Hijau dan 5.972 hektare di Elang. Per tahun 2025, cadangan bijih terbukti dan kemungkinan mencapai 696 juta ton di Batu Hijau dan 2.526 juta ton di Elang.
Saat ini, produksi bijih hanya bersumber dari tambang terbuka Batu Hijau, dan diperkirakan akan berlanjut hingga tambang mendekati tahap akhir ketersediaan, setelah itu operasi di tambang Elang akan dimulai. Batu Hijau memulai produksi komersial pada tahun 2000 dan menghasilkan konsentrat tembaga berkadar tinggi yang mengandung emas dan perak, menjadikannya bahan baku yang sangat diminati oleh smelter di seluruh dunia.
Sejak dimulainya operasi, Batu Hijau telah memproduksi total kumulatif sebesar 10.364 juta pon tembaga dan 10,9 juta ons emas hingga 31 Desember 2025. Arief Widyawan Sidarto, mengatakan, seiring dengan meningkatnya kompleksitas operasi, kapabilitas sumber daya manusia menjadi semakin penting.
Serap Belasan Ribu Tenaga Kerja
Tahun ini sebutnya, AMMAN memperkuat fokusnya dalam membekali tenaga kerja dengan kompetensi teknis, operasional, dan kepemimpinan yang diperlukan untuk mendukung fasilitas hilir.
Lebih dari 12.000 karyawan mengikuti program pelatihan, sementara 223 orang dari tenaga kerja meraih sertifikasi profesional melalui fasilitas pelatihan terakreditasi AMMAN. Pihaknya juga meningkatkan sistem pemantauan keselamatan kontraktor tahun ini, memastikan bahwa mereka yang bekerja bersama, termasuk ribuan kontraktor yang menjadi bagian integral dari operasi sehari-hari mendapatkan tingkat perhatian, perlindungan, dan dukungan yang sama.
“Dengan demikian, kami menegaskan prinsip bahwa, perlindungan terhadap manusia tidak dibatasi oleh status pekerjaan, melainkan merupakan tanggung jawab bersama bagi semua yang berkontribusi pada kemajuan AMMAN,” ucapnya.
Pertumbuhan Ekonomi Melesat
Rupanya keberadaan tambang tembaga dan emas Batu Hijau memberikan pengaruh sangat strategis terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah ini. Pada pertengahan tahun lalu misalnya, Mendagri Tito Karnavian menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi NTB terburuk kedua secara nasional yakni, -1,47%. Angka ini hanya sedikit di atas Papua Tengah yang mencatat penurunan drastis hingga -25,53%.
Saat itu, Mendagri pun berupaya membantu Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menghubungi Kementerian ESDM untuk melonggarkan izin eskspor konsentrat PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) untuk mengatasi anjoknya pertumbuhan ekonomi NTB khususnya di kuartal pertama 2025 yang mencapai -1,4%.
Harapan pun tercapai, pada 31 Oktober 2025 lalu AMMAN memperoleh izin ekspor konsentrat dengan kuota 480 ribu metrik ton kering yang berlaku selama enam bulan.
Tidak terpungkiri, aktivitas smelter menjadi salah satu motor penggerak ekonomi NTB, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi NTB tumbuh signifikan sebesar 12,49% (year-on-year).
Kepala BPS NTB Wahyudin menyebutkan, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan yang melonjak hingga 137,78 persen seiring meningkatnya aktivitas smelter di Sumbawa Barat. Seperti disampaikan Firmansyah sebelumnya, dengan smelter pertumbuhan ekonomi NTB akan stabil ke depan, ekspor bukan saja dari hasil tambangnya, namun produk ikutan yang dihasilkan Smelter juga tinggi. Apa yang disampaikan akademisi tersebut setidak membangun rasa optimisme di kalangan masyarakat Nusa Tenggara Barat, khusunya Pulau Sumbawa untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Semoga! (YR/E-4)
















































