Sering Bilang 'Hah?' Saat Ngobrol, Waspada Tanda Pendengaran Terganggu

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernahkan kamu mengatakan "hah?" atau meminta orang mengulang perkataannya saat berbincang? Meski kerap dianggap biasa, itu bisa jadi tanda seseorang mengalami gangguan pendengaran, terlebih jika suara yang diterima terdengar tidak jelas atau terdistorsi.

Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dr Animesh Banerjee mengatakan kondisi tersebut cukup sering ia temui pada pasien muda. Menurut Banerjee, para pasien tersebut umumnya merasa pendengaran mereka baik-baik saja. Bahkan, hasil tes nada yang mereka jalani sering kali menunjukkan hasil normal.

"Setiap pekan, saya bertemu pasien muda yang yakin pendengaran mereka baik-baik saja. Tapi, mereka sulit mengikuti percakapan di kafe yang ramai, salah menangkap ucapan rekan kerja saat ditelepon, atau merasakan telinga berdenging setelah perjalanan jauh," kata Banerjee dilansir laman Hindustan Times, Selasa (1/9/2026).

Menurut Banerjee, fenomena ini terjadi karena kebiasaan menggunakan earphone dengan volume maksimal selama berjam-jam. Mirisnya, banyak anak muda menganggap kebiasaan ini tidak berbahaya, padahal justru bisa berdampak pada pendengaran.

la menjelaskan, telinga seseorang dapat menerima suara dengan nyaman hingga sekitar 80 desibel. Angka tersebut merupakan batas aman untuk paparan selama delapan jam sehari. Namun, earphone yang digunakan pada volume maksimal dapat menghasilkan suara sekitar 120 hingga 140 desibel yang langsung masuk ke saluran telinga.

"120-140 desibel itu setara dengan suara sirene ambulans atau mesin jet. Namun, dalam penggunaan earphone, suara tersebut dihantarkan langsung ke saluran telinga dan struktur pendengaran yang sensitif," kata dia.

Lantas apa yang terjadi ketika telinga terus-menerus terpapar suara terlalu keras? Menurut Banerjee, hal itu bisa menyebabkan kerusakan pada area koklea yaitu struktur di telinga bagian dalam yang dilapisi sel-sel rambut mikroskopis.

Sel-sel rambut tersebut berfungsi mengubah suara menjadi sinyal listrik yang kemudian dipahami oleh otak. "Suara keras yang terus-menerus membuat sel-sel ini membengkok dan mengalami kerusakan, mengurangi aliran darah ke dalamnya, serta memicu stres kimiawi hingga akhirnya sel-sel tersebut mati," kata Banerjee.

Persoalannya, sel-sel rambut tersebut tidak dapat tumbuh kembali. "Sel-sel ini tidak tumbuh kembali. Begitu hilang, mereka hilang untuk selamanya," kata dia.

Penggunaan earphone dengan fitur noise cancelling juga menjadi perhatian Banerjee. Fitur tersebut memang dapat mengurangi suara dari lingkungan sekitar. Namun menurut dia, kondisi itu justru dapat memiliki bahaya terselubung.

"Ketika seseorang merasa terisolasi dari suara di sekitarnya, mereka dapat terdorong untuk menaikkan volume dan menggunakan earphone dalam waktu lebih lama," kata Banerjee.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |