Sinopsis Serial TV Nabi Yusuf: Potifar Membeli Budak untuk Zulaikha

4 hours ago 4
 Potifar Membeli Budak untuk Zulaikha Cuplikan serial TV Nabi Yusuf.(Youtube Islamic Series Indonesian)

KISAH perjalanan hidup Nabi Yusuf AS penuh dengan cobaan berat yang berujung pada kemuliaan. Berdasarkan narasi yang berkembang, duka mendalam menyelimuti sang ayah, Nabi Yakub, yang terus memohon kepada Allah agar putra kesayangannya dikembalikan.

Keyakinan sang ayah bahwa Yusuf masih hidup didasari oleh bukti fisik berupa baju Yusuf yang tidak rusak, meski saudara-saudaranya bersikeras bahwa ia telah dimangsa serigala. Berikut lanjutan sinopsis seral televisi dari Iran berjudul Nabi Yusuf episode 10 yang tayang perdana pada 2008.

Keyakinan Nabi Yakub dan Kebohongan Saudara Yusuf

Di tengah tangisnya, Nabi Yakub tetap teguh pada pendiriannya. Ia meragukan cerita anak-anaknya karena baju Yusuf ditemukan dalam keadaan utuh.

"Jika serigala membunuh Yusuf, kenapa bajunya masih utuh?" tanyanya retoris kepada istrinya, Rahel. Ia bahkan menyebut anak-anaknya sebagai serigala yang sebenarnya karena tega mencelakai saudara sendiri.

Lelang Budak di Mesir dan Pertemuan dengan Potifar

Sementara itu, Yusuf dibawa ke pasar budak di Mesir. Kecerdasan dan ketampanannya menarik perhatian banyak orang, termasuk para pembesar. Persaingan harga terjadi dengan sangat sengit di pasar tersebut. Gubernur Mesir, Potifar (Aziz), akhirnya memenangkan lelang dengan tawaran fantastis sebesar 3.000 deben, mengalahkan para pesaing lain.

Potifar membawa Yusuf ke istananya sebagai hadiah untuk istrinya, Zulaikha. Di sana, Yusuf diberikan nama baru dalam bahasa Mesir, yaitu Yuzarsif. Zulaikha yang terpesona dengan ketampanan dan kesantunan Yusuf, menyambutnya dengan baik dan bahkan berniat mengangkatnya sebagai anak.

Fakta Menarik: Nama Yuzarsif dipilih karena memiliki kemiripan bunyi dengan nama aslinya, Yusuf, tetapi disesuaikan dengan dialek dan budaya Mesir pada masa itu.

Pengakuan Mukjizat dan Penyesalan Pedagang

Di sisi lain, Malik dan para pedagang yang sebelumnya menjual Yusuf mulai menyadari kesalahan besar mereka. Mereka teringat akan berbagai kejadian luar biasa selama perjalanan, seperti:

  • Air sumur yang asin berubah menjadi tawar saat Yusuf berada di sana.
  • Kesembuhan tangan yang lumpuh setelah disentuh dan didoakan oleh Yusuf.
  • Ketajaman wawasan dan akhlak mulia yang tidak dimiliki oleh budak biasa.

Menyadari bahwa mereka telah menjual seorang Wali Allah atau calon Nabi, para pedagang tersebut merasa sangat merugi meski telah menerima banyak emas. Rasa penyesalan ini membawa mereka kembali ke istana Potifar dengan niat mengembalikan uang pembayaran karena merasa Yusuf tidak ternilai harganya.

Awal Kejayaan di Tanah Mesir

Meski statusnya ialah budak, Yusuf mendapatkan fasilitas dan kenyamanan di istana Potifar. Ia bersyukur kepada Allah atas perlindungan-Nya. Di sinilah Yusuf mulai menunjukkan kemampuannya dalam menafsirkan mimpi, anugerah pengetahuan yang nanti membawanya menuju puncak kekuasaan di Mesir, sesuai dengan takdir yang telah digariskan.

Satu fragmen emosional mewarnai perjalanan hidup Nabi Yusuf AS (Yuzarsif) saat ia berada di Mesir. Para pedagang yang sebelumnya menjual Yusuf kepada Potifar, Gubernur Mesir, mendadak kembali dengan penuh penyesalan setelah menyadari sebenarnya sosok yang mereka perdagangkan.

Pengakuan Identitas di Koridor Istana

Ketegangan bermula saat Malik meminta izin kepada Potifar untuk berbicara empat mata dengan Yusuf. Di bawah sumpah demi Tuhan Ibrahim, Yusuf akhirnya mengungkap jati dirinya yang sebenarnya. "Aku Yusuf, putra Yakub, putra dari Ishak, putra dari Ibrahim," ucapnya dengan tenang kepada Malik.

Mendengar pengakuan tersebut, Malik terkejut luar biasa. Ia menyadari bahwa mereka masih memiliki hubungan kekerabatan melalui garis keturunan Nabi Ismail AS.

Penyesalan mendalam menyelimuti sang saudagar karena telah menjual seorang calon Nabi sebagai budak. Namun, Yusuf dengan bijaksana menenangkan Malik, menyatakan bahwa semua kejadian ini adalah kehendak Allah agar ia sampai ke Mesir untuk mengemban misi kenabian.

Pesan Yusuf: "Semua kejadian adalah kehendak Allah dan akan berujung pada satu kejadian besar. Aku harus datang ke Mesir untuk menjadi nabi."

Upaya Pembatalan Transaksi yang Gagal

Didorong rasa bersalah, para pedagang tersebut menghadap Potifar untuk membatalkan transaksi. Mereka bahkan bersedia memberikan seluruh kekayaan mereka asalkan Yusuf dikembalikan. Namun, Potifar menolak mentah-mentah tawaran tersebut.

"Sudah terlambat. Mestinya kau memikirkan itu sebelum menjualnya. Transaksi sudah dilakukan," tegas Potifar. Keteguhan Potifar untuk mempertahankan Yusuf sempat memicu keributan hingga ia memerintahkan pengawalnya, Rodomon, untuk memenjarakan para pedagang tersebut karena dianggap kurang ajar.

Kebaikan Hati Yuzarsif

Di tengah ancaman penjara, Yusuf menunjukkan kemuliaan akhlaknya dengan memohon pengampunan bagi para pedagang tersebut. Atas permintaan Yusuf, Potifar akhirnya membebaskan mereka. Kejadian ini membuat Potifar terheran-heran akan daya tarik Yusuf yang mampu membuat pedagang budak sekalipun rela mempertaruhkan nyawa demi dirinya.

Meskipun gagal membawa Yusuf kembali, Vali mengaku mendapatkan keuntungan spiritual yang jauh lebih besar. Ia memutuskan untuk meninggalkan penyembahan berhala dan memeluk ajaran tauhid setelah berinteraksi dengan Yusuf. Ia berjanji akan menyebarkan ajaran tersebut sekembalinya ke negerinya, sementara Yusuf memulai babak baru kehidupannya di dalam istana Gubernur Mesir. (I-2)

Tokoh Peran dalam Fragmen
Yuzarsif (Yusuf) Menunjukkan martabat dan memaafkan penjualnya.
Potifar Gubernur Mesir yang menyadari nilai permata pada diri Yusuf.
Vali Menyesal dan akhirnya memeluk ajaran tauhid.
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |