Jakarta, CNBC Indonesia - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melaporkan investigasi awal tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu yang merenggut korban jiwa sebanyak 16 orang, di mana salah satunya yakni jalur komunikasi yang terlalu berbelit.
Dalam kecelakaan ini melibatkan dua KRL Commuter Line yakni KA 5568A relasi Kampung Bandan-Cikarang dan KA 5181 relasi Cikarang Angke. Tak hanya KRL Commuter Line, juga ada KA Argo Bromo Anggrek bernomor KA 4B dan sebuah taksi hijau GreenSM.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan adanya miskomunikasi antara pengendali perjalanan kereta api/Pusat Kendali (PK). Selain itu, sistem komunikasi tersebut dianggap terlalu berbelit.
"Sistem komunikasi Petugas Pusat Pengendalian Operasi Kereta Api (PK) terlalu berbelit. KA 5568A menggunakan Radio Sepura dan berada pada wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan). Sementara, KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif dan berada pada wilayah komunikasi S.1 (PK Timur). Ini membuat jeda terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahukan kepada Chief. Lalu, chief meneruskan informasi ke PK Timur. Ini perlu diperbaiki," jelas dia dalam paparannya di rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI Kamis (21/5/2026), dikutip kembali Senin (25/5/2026).
Ia mengungkapkan, PK tidak mengetahui kondisi sebenarnya di Stasiun Bekasi, mengingat komunikasi dilakukan melalui suara radio.
"Kami mendapat laporan dari masinis KA Argo Bromo Anggrek, bahwa Ia sempat melakukan pengereman dari jarak 1,3 km, setelah menerima informasi bahwa di depan ada temperan KRL. Masinis sudah mencoba pengereman. Cuma di PK tidak tahu kondisi sebenarnya di sekitar Stasiun Bekasi Timur, karena komunikasi kan lewat suara saja, lewat radio di kabin. Jadi PK tidak tahu kondisi sebenarnya seperti apa, tetapi mereka hanya memberi tahu kalau ada temperan, dan masinis sudah berupaya mengerem," terangnya.
Berikutnya, juga ada alasan miskomunikasi antara PK Stasiun Bekasi dengan masinis KA Argo Bromo Anggrek, di mana masinis hanya diminta oleh PK untuk melakukan pengereman bertahap, bukan pengereman secara penuh, sehingga kejadian tabrakan pun tak terhindarkan.
"Informasi dari PK Timur, KA 4B Argo Bromo Anggrek hanya diminta untuk melakukan pengereman secara bertahap dan perbanyak semboyan 35 (klakson), serta status jalur hulu dan hilir belum didapatkan informasi dari lintas terkait ruang bebas KA (prepal)," ujarnya.
Sementara itu dalam laporan investigasi awal KNKT mengungkapkan, dari hasil rekaman percakapan (voice logger) antara masinis dengan PK Manggarai, diketahui bahwa informasi dari KA 5568A Commuter Line yang masih berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur karena adanya kerumunan masyarakat, namun tidak tersampaikan ke PK Selatan.
Hal tersebut dikarenakan pada saat yang bersamaan, PK Selatan sedang melakukan pengamanan KA 5181 yang mengalami kejadian temperan dengan taksi GreenSM dan KA 6075 Commuter Line yang berada di belakang KA 5181.
Selain itu, terdapat perbedaan rujukan waktu yang digunakan (master time) dalam masing-masing tipe radio komunikasi di PK Manggarai, logger lokomotif, logger sistem persinyalan, ruang pelayanan KA di stasiun operasi, CCTV KA, dan CCTV Stasiun.
Adapun kronologi terkait komunikasi, berdasarkan laporan investigasi awal KNKT, masinis KA 5181 berkomunikasi dengan PK Selatan terkait kondisi kereta api pasca ditemper oleh taksi hijau. Kemudian, operator PK Selatan melaporkan kondisi KA 5181 ke Pusat Kendali Operasi Kereta Api (Pusdalopka) yang ada di Stasiun Manggarai. Mengetahui adanya kejadian tersebut, PK Selatan berusaha mengamankan KA 5181 dan KA 6075.
Selanjutnya, PK Timur menerima informasi adanya temperan di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan KA 5181. PK Timur pun berkomunikasi kepada masinis KA 4B terkait adanya temperan.
Di saat yang sama, masinis KA 5568A berusaha komunikasi dengan PK Selatan yang belum bisa diberangkatan karena adanya kerumunan warga di perlintasan tempat taksi hijau menemper KA 5181. Sayangnya, karena PK Selatan sibuk mengamankan temperan KA 5181, maka informasi tidak tersampaikan dengan sempurna.
Sementara itu, PK Timur memberikan perintah kepada masinis KA 4B untuk melakukan pengereman bertahap. Sayangnya, karena kondisi tidak diketahui pasti oleh PK, sehingga masinis KA 4B tidak diberikan perintah untuk melakukan pengereman menyeluruh.
Nahas, tabrakan pun tak terhindarkan. Setelah itu, masinis KA 4B kembali melaporkan bahwa sudah terjadi tabrakan antara KA 4B dengan KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur.
Hingga saat ini, KNKT masih melakukan proses investigasi kecelakaan tabrakan KA 4B Argo Bromo Anggrek dan KA 5568A Commuter Line di Jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.
"KNKT telah menerima informasi terkait tindakan yang dilakukan oleh para pihak terkait dalam rangka peningkatan keselamatan pasca kejadian," ujar Soerjanto.
(dce)
Addsource on Google

12 hours ago
1

















































