Soft Power Beasiswa Turki dan Mendesain Ulang LPDP

1 week ago 23
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

SEPANJANG perjalanan sembari melihat gumpalan awan putih, bentangan bumi, serta hamparan langit luas di balik jendela pesawat, pikiran saya ikut terbang pada satu pertanyaan sederhana, tetapi mengganggu. Mengapa sebuah negara yang secara ekonomi tidak jauh lebih kaya daripada Indonesia, bahkan pernah dilanda krisis mata uang dan inflasi yang menggerus daya beli rakyatnya, bisa begitu konsisten dan sabar dalam merancang program yang hasilnya baru bisa dipanen satu, dua, bahkan tiga dekade kemudian? Jawabannya, saya kira, terletak pada cara pandang. Turki tidak melihat beasiswa sebagai belanja sosial semata, melainkan juga sebagai investasi geopolitik jangka panjang. Turki menganggap memberikan beasiswa sama pentingnya dengan investasi di sektor pertahanan atau infrastruktur energi.

Pagi itu, di Bandar Udara Esenboga Ankara saya kembali menginjakkan kaki di negeri dua benua dan warisan Kesultanan Utsmaniyah, setelah pertama kali datang pada 2011 untuk menempuh studi master dengan beasiswa dari pemerintah Turki/Turkiye Burslari.

Kehadiran saya kali ini dalam rangka memenuhi undangan pemerintah Turki menerima Alumni Award 2026 sekaligus wisuda mahasiswa internasional penerima YTB Turkiye Burslari. Acara seremoni dihadiri Wakil Presiden Turki Cevdet Yilmaz, menteri, Presiden YTB, para duta besar, dan wisudawan. Tahun ini ada tujuh kategori penerima anugerah alumnus berprestasi.

Pertama, kategori kehormatan seumur hidup diraih Prof Dr Tadashi Suzuki (Jepang); kedua, kategori ekonomi dan kewirausahaan diraih Budy Sugandi (Indonesia); ketiga, kategori media dan komunikasi diraih Lamis Alsoradi (Palestina); keempat, kategori budaya dan seni diraih Prof Dr Halid Tadmori (Libanon); kelima, kategori akademik dan penelitian ilmiah diraih Prof Dr Ali Ovgun (Siprus); keenam, kategori kontribusi terhadap hubungan internasional diraih Abdulkadir Mohamed Nur (Somalia), dan ketujuh, kategori penghargaan kesetiaan diraih Jenderal Dr Amran Amir Hamzah (Malaysia). Bagi saya, penghargaan itu menjadi energi tambahan untuk terus belajar, berbakti, dan terus berproses menjadi manusia profesional.

Ada satu momen yang membekas ketika nama saya dipanggil naik ke podium untuk menerima penghargaan. Di ruangan itu berkumpul lulusan Turkiye Burslari dari puluhan negara; Eropa, Afrika, Asia Tengah, Balkan, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara. Saat diberi piala dan kesempatan pidato, saya menyadari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar prestasi pribadi, saya sedang berdiri di tengah hasil panen dari sebuah investasi jangka panjang yang dirancang dengan sangat sabar dan rapi oleh sebuah negara. Melalui beasiswa Turkiye Burslari, negara itu tidak sekadar memberi beasiswa, tetapi juga menyemai pemimpin-pemimpin masa depan.

Pengalaman itulah yang mendorong saya mengajak kita, Indonesia, melihat cermin. Di balik gegap gempita program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang kita banggakan, ada pelajaran penting yang bisa dipetik dari cara Turki merancang, mengelola, dan memetik hasil dari program beasiswa internasional mereka, Turkiye Burslari.

AMBISI YANG DIBANGUN DI ATAS ANGKA

Turkiye Burslari lahir pada 2012, di bawah kendali Presidency for Turks Abroad and Related Communities/Yurtdisi Turkler ve Akraba Topluluklar Baskanligi (YTB). Programnya sederhana dalam konsep, tetapi raksasa dalam skala, yaitu memberikan beasiswa penuh kepada mahasiswa asing yang meliputi biaya kuliah, biaya hidup, tempat tinggal, asuransi kesehatan, tiket pesawat pulang-pergi, bahkan kursus bahasa Turki gratis selama satu tahun kepada pelajar dari seluruh dunia, tanpa memandang kewarganegaraan.

Skalanya terus membesar setiap tahun. Pada 2025, lebih dari 120 ribu pelamar dari sekitar 170 negara memperebutkan sekitar 5.000 kursi beasiswa, menjadikan tingkat penerimaannya berada di kisaran 2%-5%, setara dengan ketatnya seleksi masuk universitas-universitas elite dunia. Total jaringan alumnus Turkiye Burslari kini melampaui 150 ribu orang yang tersebar di lebih dari 160 negara, banyak di antara mereka menduduki posisi kepemimpinan di pemerintahan, dunia akademik, dan sektor swasta di negara asal mereka. Ambisi Turki tidak berhenti di situ. Pemerintah menargetkan jumlah mahasiswa asing di Turki mencapai 500 ribu orang pada 2028, melonjak drastis dari sekitar 340 ribu pada 2024-2025. Data itu membawa Turki menjadi negara nomor delapan dengan mahasiswa asing terbanyak di dunia.

Yang menarik bukan hanya soal angka, melainkan juga filosofi di baliknya. Turkiye Burslari dirancang sebagai instrumen soft power, cara Turki memperluas pengaruh, membangun jaringan diplomatik informal, dan menanamkan citra positif negara mereka di benak generasi pemimpin masa depan dari berbagai belahan dunia. Setiap penerima beasiswa diperlakukan bukan sekadar sebagai mahasiswa, melainkan juga sebagai calon duta bangsa Turki di negara mereka sendiri. Karena itu, YTB tak pernah berhenti merawat hubungan dengan para alumnus mereka lewat jaringan alumnus global, forum tahunan, hingga undangan kembali ke Turki untuk berbagai kegiatan kebudayaan dan diplomasi publik.

Ada satu detail kecil yang menurut saya justru paling mengharukan, seluruh penerima mahasiswa asing, dari negara mana pun asalnya, diwajibkan mengikuti kursus bahasa Turki selama satu tahun sebelum memulai studi. Sepintas itu terlihat seperti kebijakan teknis biasa. Namun, sesungguhnya itulah inti strategi Turki memastikan setiap mahasiswa asing benar-benar menyerap budaya, cara berpikir, dan nilai-nilai Turki sebelum mereka larut dalam disiplin ilmu masing-masing. Ketika kelak mereka pulang bertahun-tahun kemudian, yang mereka bawa bukan hanya ijazah, melainkan juga kefasihan berbahasa, jejaring pertemanan, dan kedekatan emosional dengan Turki yang sulit dihapus waktu.

LPDP: PRESTASI BESAR YANG SEDANG DIUJI

Bandingkan dengan LPDP, yang lahir setahun lebih dulu dari Turkiye Burslari, pada 2013. LPDP ialah salah satu eksperimen kebijakan pendidikan paling ambisius yang pernah dilakukan Indonesia. Lembaga itu mengelola dana abadi pendidikan yang bersumber dari APBN dan hasil investasinya untuk membiayai studi lanjut putra-putri terbaik bangsa. Sampai akhir 2025, dana abadi yang dikelola LPDP telah mencapai sekitar Rp154 triliun, bahkan disuntik tambahan Rp25 triliun sehingga totalnya menembus Rp180 triliun pada awal 2026. Sejak berdiri, LPDP tercatat telah memberikan kesempatan kepada lebih dari 58 ribu penerima manfaat.

Itu pencapaian yang layak dibanggakan. Namun, jika kita jujur membaca tren terbaru, ada tanda-tanda yang patut menjadi renungan bersama. Pada 2025, jumlah pendaftar LPDP melonjak signifikan menjadi hampir 79 ribu orang, naik sekitar 33% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, jumlah penerima beasiswa justru dipangkas hampir separuh, dari sekitar 8.600 orang pada 2024 menjadi sekitar 4.300 orang pada 2025. Penurunan itu paling terasa pada penerima beasiswa tujuan luar negeri, yang jumlahnya susut sekitar 48% dalam setahun.

Di sinilah letak kontras yang paling tajam di antara kedua program itu. Turkiye Burslari dirancang sebagai program yang menarik dunia untuk datang ke Turki (brain gain), investasi yang hasilnya kembali ke Turki dalam bentuk mahasiswa asing yang membayar biaya hidup di sana, memperkuat ekosistem kampus, riset, dan pariwisata pendidikan, sekaligus membangun jejaring pengaruh Turki di negara asal mereka setelah lulus. LPDP dirancang sebaliknya, mengirim putra-putri Indonesia ke luar negeri (brain circulation), dengan harapan mereka pulang membawa ilmu untuk membangun negeri. Keduanya sah dan punya tujuan strategis masing-masing. Namun, Turkiye Burslari punya satu keunggulan struktural yang tidak dimiliki LPDP, yaitu pengaruh global bagi Turki bahkan sebelum mahasiswanya lulus, sementara manfaat LPDP baru terasa penuh setelah para alumnus mereka kembali dan berkarya di Indonesia.

PELAJARAN YANG BISA DIPETIK

Soal keberlanjutan pendanaan yang dirancang untuk krisis, bukan hanya masa jaya. LPDP kini mengalami apa yang oleh pengelolanya sendiri disebut tekanan defisit operasional karena belanja tumbuh lebih cepat daripada pendapatan investasi dana abadi sejak 2023-2024. Itu bukan aib, melainkan sinyal bahwa desain keuangan program perlu terus disempurnakan agar tidak bergantung pada satu sumber pendapatan investasi yang fluktuatif. Turkiye Burslari relatif lebih stabil karena dibiayai langsung oleh APBN Turki sebagai instrumen diplomasi negara, bukan murni dana abadi yang harus menghasilkan imbal hasil investasi setiap tahun.

Berikutnya soal arah program. Selama ini kita terlalu fokus mengirim anak bangsa keluar negeri, padahal Indonesia punya modal besar untuk menjadi pusat pendidikan tinggi regional. Indonesia memiliki populasi usia muda terbesar di Asia Tenggara, biaya hidup kompetitif, kekayaan budaya, dan posisi strategis di jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Turki membuktikan bahwa sebuah negara berkembang dapat mengubah dirinya menjadi destinasi pendidikan global dalam waktu kurang dari satu dekade, dari 48 ribu mahasiswa asing pada 2013 menjadi hampir 340 ribu pada 2024-2025. Mengapa Indonesia, dengan lebih dari 4.000 perguruan tinggi, tidak merancang program setara 'Beasiswa Nusantara' yang secara sengaja mengundang pelajar dari Afrika, Asia Selatan, dan Pasifik untuk belajar di sini sambil membangun pengaruh diplomatik dan ekonomi jangka panjang Indonesia di kawasan-kawasan itu?

Terakhir soal jaringan alumnus sebagai aset strategis negara, bukan sekadar formalitas ikatan dinas. Turkiye Burslari merawat 150 ribu alumnusnya di 160 lebih negara melalui portal digital, forum tahunan, dan program keterlibatan berkelanjutan yang menjadikan mereka mitra jangka panjang, bukan sekadar mantan penerima beasiswa. LPDP sejauh ini masih terlalu berfokus pada kewajiban administratif pascastudi ketimbang membangun ekosistem alumnus yang hidup, saling terhubung, dan aktif menjadi kekuatan lunak Indonesia di panggung global. Padahal para alumnus LPDP yang tersebar di berbagai negara dan sektor ialah aset diplomasi publik yang belum dioptimalkan.

Penghargaan yang diberikan pemerintah Turki kepada para alumnus bukan sekadar pengakuan atas perjalanan profesional mereka. Itu bukti hidup bahwa investasi pendidikan lintas negara, jika dirancang dengan visi jangka panjang dan dirawat dengan konsisten, dapat melahirkan pemimpin-pemimpin yang membawa nama baik negara pemberi beasiswa ke mana pun mereka melangkah. Mereka membawa nama Turki dalam setiap pencapaian mereka.

Pertanyaannya sekarang untuk kita semua, kapan Indonesia tidak hanya mengirim anak-anak terbaiknya ke luar negeri, tetapi juga mulai membangun sistem yang juga mengundang dunia untuk datang dan belajar dari kita. Kehadiran mahasiswa internasional juga membawa atmosfer akademik dan riset yang tinggi.

Turki telah menunjukkan jalannya. Modal dasar kita bahkan lebih besar. Yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk merancang ulang visi, bukan sekadar mengelola anggaran yang ada. Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa banyak ia mengirim pelajarnya ke luar negeri, tetapi dari seberapa besar dunia ingin datang dan belajar darinya.

Ketika saya menerima penghargaan itu di atas panggung, yang terlintas di benak saya bukan hanya rasa syukur pribadi, melainkan juga bayangan tentang mahasiswa-mahasiswa Indonesia selanjutnya yang berdiri di panggung serupa, bukan sekadar penerima beasiswa, melainkan juga sebagai wakil dari Indonesia. Itu bukan mimpi yang mustahil. Yang tersisa hanyalah keberanian untuk mulai menuliskan babak baru itu dan tidak ada waktu yang lebih tepat untuk memulainya selain sekarang.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |