REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) Isyana Bagoes Oka mengungkapkan ketidakpastiaan kondisi ekonomi mempengaruhi keinginan pasangan keluarga untuk memiliki anak.
Hal itu dikatakan Isyana dalam Press Briefing Hari Kependudukan Dunia Tahun 2026 pada Rabu (8/7/2026). Isyana menyebut Hari Kependudukan Dunia sebagai momentum mengingatkan dinamika kependudukan menentukan masa depan bangsa.
Isyana mengamati realitas yang dihadapi generasi muda di berbagai negara, termasuk Indonesia dimana ada kecenderungan semakin banyak anak muda yang menunda, bahkan tidak lagi memandang kehidupan berkeluarga sebagai pilihan yang mudah diwujudkan. Menurutnya, fenomena ini tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan preferensi pribadi semata.
"Di baliknya terdapat berbagai hambatan sistemik yang memengaruhi kemampuan mereka dalam merencanakan masa depan," kata Isyana dalam kegiatan itu.
Isyana menemukan kondisi ekonomi yang dihadapi Indonesia mempengaruhi keinginan pasangan memiliki anak.
"Bagi sebagian besar anak muda Indonesia, membangun keluarga tetap menjadi bagian dari cita-cita hidup. Namun, mereka juga dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi, akses terhadap pekerjaan yang layak, tingginya biaya pendidikan dan perumahan, kebutuhan akan layanan kesehatan yang berkualitas, hingga tantangan menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan karier," kata Isyana.
Kondisi tersebut, lanjut Isyana, pada akhirnya memengaruhi keputusan-keputusan penting dalam perjalanan hidup generasi muda.
"Termasuk kapan membangun keluarga dan memiliki anak," ujar Isyana.
Oleh karena itu, Isyana menyebut respons Indonesia terhadap tantangankependudukan tidak berangkat dari upaya mengarahkan pilihan hidup generasi muda. Sebaliknya, pemerintah berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap orang muda memiliki kesempatan untuk mewujudkan aspirasi hidupnya secara bebas, bertanggung jawab, dan bermartabat.
"Ketika generasi muda memperoleh pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang produktif, layanan kesehatan yang inklusif, perlindungan sosial yang memadai, kesempatan untuk berpartisipasi, serta lingkungan yang aman dan setara, mereka akan lebih siap merencanakan masa depan, termasuk kehidupan berkeluarga sesuai denganpilihan dan kesiapan mereka," ujar Isyana.
Isyana juga meyakini pendekatan tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas sebagai fondasi kemajuan bangsa.
"Dalam perspektif pemerintah, pembangunan kependudukan bukan hanya tentang mengelola dinamika demografi, tetapi memastikan setiap penduduk memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, dan berkontribusi secara optimal bagi Bangsa Indonesia," ujar Isyana.

9 hours ago
7














































