Wamenlu Anis Matta Peringatkan Asia Terancam Krisis Energi Akibat Perang Hibrida

5 hours ago 8
Wamenlu Anis Matta Peringatkan Asia Terancam Krisis Energi Akibat Perang Hibrida Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta menyampaikan orasi geopolitik dalam Muktamar V Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (21/8).(dok. Wahdah Islamiyah)

WAKIL Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta memperingatkan potensi krisis energi dan tekanan ekonomi yang dapat melanda Asia akibat eskalasi perang hibrida global, terutama konflik yang berlangsung di Eropa dan Timur Tengah.

Hal itu disampaikan Anis saat memberikan orasi geopolitik dalam Muktamar V Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (21/8).

Menurut Anis, konstelasi geopolitik global telah memasuki fase yang disebutnya sebagai 'Perang Dunia Ketiga dalam wajah baru'. Persaingan antara kekuatan besar tidak lagi berlangsung secara langsung, tetapi melalui perang hibrida yang memanfaatkan instrumen ekonomi, siber, teknologi, hingga blokade geografis.

“Ciri perang hibrida ini adalah menciptakan masalah bagi musuh agar seluruh sumber dayanya habis dan runtuh dengan sendirinya. Dampaknya tidak terbatas pada negara yang bertikai, tetapi meluas secara regional dan global,” ujar Anis.

Salah satu risiko terbesar yang disoroti Anis adalah terganggunya ketahanan energi Asia. Konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz dinilai dapat memengaruhi distribusi minyak dunia.

Anis mengatakan Asia menjadi kawasan yang paling rentan karena merupakan pusat industri dan memiliki populasi besar, sementara kebutuhan energinya masih bergantung pada impor.

“Celakanya, hampir seluruh minyak dari Timur Tengah diekspor ke Asia. Tiongkok mengimpor lebih dari 16 juta barel per hari, dan Indonesia mengimpor sekitar satu juta barel per hari. Jika pasokan dari Teluk terganggu akibat serangan militer atau blokade, Asia adalah kawasan yang paling menderita,” tegasnya.

Menurut Anis, gangguan pasokan minyak dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia melalui peningkatan subsidi energi dan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, sektor manufaktur juga berisiko terdampak karena bergantung pada pasokan energi dan pasar ekspor.

“Kita mendapatkan masalah yang tidak kita ciptakan, tetapi harus membayar ongkosnya. Krisis ini bersifat sistemik, berlarut, dan akan menempatkan posisi pemerintah di banyak negara semakin sulit jika tidak ada antisipasi sejak dini,” jelas Anis.

Menghadapi ketidakpastian geopolitik tersebut, Anis menekankan pentingnya menjaga stabilitas politik, ekonomi, dan sosial di dalam negeri. Stabilitas tersebut dinilai dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk menarik arus investasi ketika negara lain menghadapi ketidakpastian.

“Jika kita bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang aman dan tenang di tengah hawa perang global ini, saya percaya modal dan hal-hal baik akan mengalir ke tempat kita,” pungkasnya. (B-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |