Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
18 April 2026 12:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Kelaparan merupakan salah satu bencana kemanusiaan paling mematikan dalam sejarah dunia. Kelaparan tidak hanya disebabkan oleh faktor alam seperti kekeringan atau banjir, banyak kasus kelaparan justru dipicu oleh kebijakan pemerintah, perang, hingga kegagalan distribusi pangan.
Dalam beberapa abad terakhir, jutaan hingga puluhan juta orang meninggal akibat krisis pangan ekstrem. Meski tingkat keparahan kelaparan global cenderung menurun seiring modernisasi, fenomena ini masih menjadi ancaman serius hingga saat ini.
Sejarah Kelaparan dari Masa ke Masa
Secara historis, kelaparan pada abad ke-16 dan ke-17 banyak dipicu oleh keterbatasan teknologi pertanian. Metode bercocok tanam yang masih sederhana membuat produksi pangan sangat rentan terhadap cuaca dan gagal panen. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan sistem pertanian, produktivitas meningkat dan muncul surplus pangan.
Foto: Warga Palestina menunggu untuk menerima makanan yang dimasak oleh dapur amal, di Jabalia, di Jalur Gaza utara, 19 Mei 2025. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Warga Palestina menunggu untuk menerima makanan yang dimasak oleh dapur amal, di Jabalia, di Jalur Gaza utara, 19 Mei 2025. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Transformasi ini juga dipengaruhi oleh komersialisasi sektor pertanian. Petani yang sebelumnya hanya memproduksi untuk kebutuhan sendiri mulai menghasilkan surplus untuk kepentingan pasar, terutama karena tekanan dari sistem kepemilikan lahan oleh tuan tanah.
Meski demikian, modernisasi tidak sepenuhnya menghilangkan risiko kelaparan. Pada abad ke-20, dunia menyaksikan kelaparan dengan korban jiwa sangat besar, yang sebagian dipicu oleh rezim otoriter, konflik global, serta kebijakan ekonomi yang membatasi distribusi pangan, termasuk embargo perdagangan.
Berikut adalah daftar kelaparan paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.
Kelaparan Terbesar dalam Sejarah
Kelaparan paling mematikan dalam sejarah modern terjadi di China pada periode 1959 hingga 1961. Tragedi ini sering disebut sebagai salah satu bencana terbesar yang disebabkan oleh manusia, meskipun faktor alam seperti kekeringan di beberapa wilayah turut memperburuk kondisi.
Akar utama krisis ini berasal dari kebijakan ekonomi dan sosial yang diterapkan oleh pemerintah People's Republic of China, khususnya melalui program Great Leap Forward yang dimulai pada 1958. Kebijakan ini mendorong perubahan drastis dalam sistem pertanian, termasuk pembentukan komune rakyat serta pelarangan kepemilikan lahan pribadi.
Dalam praktiknya, jutaan petani dialihkan dari sektor pertanian ke produksi besi dan baja, yang justru menyebabkan penurunan tajam output pangan. Produksi gandum dan bahan pangan lainnya merosot signifikan, sementara distribusi pangan juga tidak berjalan efektif.
China dan India Paling Sering Krisis Kelaparan
Sepanjang sejarah, China dan India tercatat sebagai dua wilayah yang paling sering mengalami krisis kelaparan berskala besar.
Tingginya jumlah penduduk, ketergantungan pada sektor pertanian, serta kombinasi faktor alam dan kebijakan membuat kedua negara ini sangat rentan terhadap krisis pangan, terutama sebelum era modernisasi.
Selain tragedi pada abad ke-20, China juga mengalami kelaparan besar pada tahun 1907 yang menewaskan hingga 25 juta jiwa.
Krisis ini dipicu oleh hujan ekstrem yang terjadi saat musim tanam, menyebabkan banjir besar dan menghancurkan lahan pertanian. Sekitar 40.000 mil persegi wilayah terdampak banjir, terutama di provinsi Honan, Kiang-su, dan Anhui. Akibatnya, produksi pangan lumpuh total dan memicu kelangkaan makanan secara luas.
Dalam sejarahnya, India mengalami beberapa gelombang kelaparan besar yang menelan korban jutaan jiwa. Secara kronologis, Kelaparan Bengal 1770 menjadi yang paling awal, dipicu oleh kekeringan parah dan diperburuk kebijakan East India Company yang tetap menaikkan pajak serta mengalihkan produksi ke komoditas ekspor.
Selanjutnya, Kelaparan Chalisa 1782-1784 terjadi akibat suhu ekstrim dan kekeringan berkepanjangan, menyebabkan lebih dari 11 juta korban jiwa, terutama di wilayah utara seperti Delhi.
Terakhir, Kelaparan Bengal 1943 terjadi di tengah Perang Dunia II, dipicu kombinasi inflasi, gangguan distribusi pangan, serta lambatnya respon pemerintah kolonial Inggris di bawah Winston Churchill.
Kelaparan di Uni Soviet dan Rusia
Wilayah Uni Soviet dan Rusia juga mengalami beberapa krisis kelaparan besar pada abad ke-20, yang sebagian besar dipicu oleh perang, kebijakan ekonomi, dan gangguan produksi pangan.
Kelaparan Rusia 1921 terjadi setelah perang saudara, ketika sistem ekonomi runtuh dan kekeringan memperparah kondisi.
Kelaparan Soviet 1932-1933 atau yang dikenal sebagai Holodomor menjadi salah satu tragedi paling mematikan, dengan korban mencapai 3,5 hingga 10 juta jiwa. Krisis ini dipicu oleh kebijakan kolektivisasi pertanian yang agresif dari pemerintah Uni Soviet, yang mengganggu produksi dan distribusi pangan secara besar-besaran. Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa selain faktor alam, intervensi negara dalam sektor pertanian tanpa perencanaan yang matang dapat memperparah krisis hingga menimbulkan bencana kemanusiaan.
Krisis Kelaparan Negara Timur Tengah
Kawasan Timur Tengah juga tidak luput dari krisis kelaparan, meskipun skalanya tidak sebesar di Asia atau Eropa. Namun demikian, kelaparan di wilayah ini umumnya dipicu oleh konflik, instabilitas politik, serta gangguan distribusi pangan yang berkepanjangan.
Salah satu krisis paling mematikan terjadi di Iran (dahulu dikenal sebagai Persia) pada periode 1917-1919. Pada saat itu, wilayah Persia terdampak langsung oleh dinamika Perang Dunia I, yang menyebabkan terganggunya jalur distribusi pangan dan logistik. Selain itu, kekeringan dan gagal panen memperparah kondisi, sehingga pasokan makanan menjadi sangat terbatas.
Kehadiran pasukan asing di wilayah tersebut juga memperburuk situasi, karena banyak sumber daya pangan dialihkan untuk kebutuhan militer. Akibatnya, masyarakat sipil mengalami kekurangan pangan dalam skala besar yang berujung pada krisis kemanusiaan.
(mae/mae)
Addsource on Google

2 hours ago
4

















































