Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Taj Yasin (kiri) dan Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Jateng Reza Mahendra (kanan) memberikan keterangan kepada awak media di Kantor Pemprov Jateng, Kota Semarang, Jumat (12/6/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Johan Hadiyanto mengungkapkan, serapan telur ayam ras dan daging ayam oleh satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Jateng masih sangat rendah. SPPG diduga masih mengandalkan pasokan bahan baku dari luar Jateng.
Johan mengatakan, saat ini terdapat 4.044 SPPG yang telah beroperasi di Jateng. Berdasarkan pendataan BGN Regional Jateng, masing-masing SPPG mengolah dan menyajikan menu telur sebanyak dua kali dalam sepekan. Sementara menu berbahan baku daging ayam disajikan tiga kali sepekan.
"Rata-rata per SPPG menyerap telur 720.902 kilogram per minggu. Sedangkan daging ayam itu 1.452.587 kilogram per minggu," ungkap Johan saat menyampaikan pemaparan dalam rapat koordinasi (rakor) pelaksanaan dan rantai pasok MBG di Kantor Pemprov Jateng, Kota Semarang, Jumat (12/6/2026).
Menurut Johan, serapan telur dan daging ayam tersebut masih terbilang rendah. Dia menerangkan, potensi produksi telur di Jawa Tengah mencapai 7,3 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan mencapai 720.902 kilogram per pekan, artinya telur yang diserap SPPG mencapai sekitar 37 juta kilogram per tahun.
"Ini hanya sekitar 0,5 persen dari potensi Jawa Tengah. Itu baru terserap 0,5 persen," ucapnya.
Sementara potensi produksi daging ayam di Jateng, kata Johan, yakni 5.472.763 ton per tahun. Dalam sepekan SPPG di Jateng mampu menyerap 1.452.587 kilogram daging ayam. Dengan demikian, Johan menyebut, dalam setahun SPPG di Jateng mampu menyerap sekitar 75 ribu ton daging ayam. "Ini sekitar 1,3 persen untuk daging ayam," ujarnya.

8 hours ago
3















































