REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Di balik kemegahan dinding Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tersimpan sebuah lembaran sejarah kelam yang hingga kini masih menyisakan luka mendalam. Peristiwa itu adalah Geger Sepehi 1812, atau yang dalam tradisi lisan Yogyakarta dikenal dengan nama Bedhahing Plengkung Madyasuro.
Bukan sekadar perang biasa, tragedi ini adalah puncak dari intrik politik, ambisi kekuasaan, dan pengkhianatan internal yang meruntuhkan kedaulatan sebuah kerajaan besar di tanah Jawa.
Dua narasumber ahli yakni RM Pramutomo, Guru Besar ISI Surakarta sekaligus peneliti seni, dan Fajar Bagoes Poetranto, Ketua Yayasan Vasati Socaning Lokika sekaligus Trah Sultan HB II, membuka tabir kebenaran di balik peristiwa berdarah tersebut.
Karakter Sultan HB II: Simbol Perlawanan Lewat Singgasana Wayang
Menurut RM Pramutomo, Sri Sultan Hamengkubuwono II (Sultan HB II) bukanlah sosok raja biasa. Ia adalah pemimpin berkarakter kuat yang sejak awal dibentuk oleh ayahnya, Sultan HB I, untuk menjadi benteng pertahanan budaya dan politik Jawa.
"Dari sudut pandang seni, selama ayahandanya berproses berkreasi dalam karya-karya seninya, maka putra mahkota ini selalu diikutsertakan. Jadi Sultan HB II memang dipilih benar untuk bisa menggantikan. Kedekatan pribadinya dianggap menyerupai sifat dan karakter Sultan HB I," jelas RM Pramutomo dalam siaran pers, Senin (3/8/2026).
Karakter anti-kolonialisme Sultan HB II terekam sangat jelas lewat sebuah karya seni otentik berupa lakon Wayang Wong Joyopusoko (Werkudoro Menjadi Ratu)
Dalam pementasan tersebut, Sultan HB II melakukan tindakan berani yang menantang pakem. Ia memerintahkan agar properti tempat duduk (dampar) tokoh Werkudoro dibuat lebih tinggi daripada dampar Bethara Guru.
Menurut RM Pramutomo, ini adalah sebuah sindiran dan perlawanan simbolis yang sangat keras. Sultan HB II murka karena Residen Inggris menuntut untuk diberi tempat duduk yang sejajar dengan singgasana raja Lewat wayang, Sultan menegaskan bahwa dirinya jujur, berpendirian teguh, dan menolak keras dominasi asing.
Plot Twist Sejarah: Konspirasi dan Negosiasi Rahasia di Semarang
Namun, keteguhan sikap Sultan HB II harus dibayar mahal. Inggris di bawah Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles mengincar kekayaan dan kontrol penuh atas Kesultanan Yogyakarta Ironisnya, pertahanan Kraton yang sangat kokoh justru berhasil ditembus karena adanya aliansi tak terduga dengan sesama saudara dari tanah Jawa.
Fajar Bagoes Poetranto mengungkapkan fakta krusial mengenai keterlibatan pihak luar yang membuat pertempuran ini menjadi begitu menyakitkan dalam ingatan sejarah.
"Pertempuran sengit pun tak terhindarkan. Pasukan Inggris, yang diperkuat oleh Legiun Mangkunegaran (dari Surakarta), mengepung Kraton. Di sinilah pengkhianatan mencapai puncaknya. Sumber-sumber sejarah mencatat keterlibatan koalisi Inggris dan Mangkunegaran dalam penumpasan pasukan Keraton," ungkap Fajar Hal ini diperkuat oleh analisis RM Pramutomo
Beliau membeberkan bahwa sebelum pasukan Inggris dan tentara Sepoy (India) tiba di Yogyakarta, pergerakan militer ini sudah dirancang dengan sangat rapi. Para petinggi Legiun Mangkunegaran ternyata telah melakukan negosiasi rahasia dengan Stamford Raffles di Semarang . Geger Sepehi pun menjelma menjadi simbol kepahitan politik dinasti, di mana satu pihak tega bekerja sama dengan penjajah asing untuk meruntuhkan kedaulatan saudaranya sendiri .
Gugurnya Sang Panglima dan Penjarahan Gamelan ke London
Dalam kepungan masif koalisi Inggris dan Legiun Mangkunegaran, tercatat kisah kepahlawanan yang tragis. Raden Tumenggung Sumodiningrat, Panglima Tertinggi pertahanan Keraton Yogyakarta, bertempur habis-habisan memimpin benteng terakhir sebelum akhirnya gugur di medan laga. Setelah Kraton berhasil ditaklukkan melalui Plengkung Madyasuro, Inggris melakukan penjarahan budaya secara besar-besaran dan sistematis Ribuan manuskrip sastra, naskah kuno, harta benda, hingga alat musik dirampas.
RM Pramutomo bahkan menyaksikan sendiri salah satu bukti penjarahan tersebut yang hingga kini masih tertahan di Inggris. "Salah satu rampasan Inggris, selain karya sastra, buku, manuskrip, yang saya ketahui adalah gamelan yang terbaik dari Yogyakarta hingga kini masih tersimpan di Claydon House Museum di London. Terbaik dalam hal ini ornamennya, rodanya juga, dan saya melihatnya sendiri di museum itu di London," tutur RM Pramutomo.
Sementara itu, Sultan HB II dipaksa turun takhta dan diasingkan jauh ke Penang, Malaysia, dengan hanya ditemani oleh pengawal pribadinya yang setia, Tumenggung Sumodiwiryo.
Refleksi dan Desakan Gelar Pahlawan Nasional
Mengingat gigihnya perlawanan Sultan HB II yang rela kehilangan takhta demi mempertahankan harga diri bangsa dari cengkeraman kolonial, RM Pramutomo menilai sudah saatnya sejarah berpihak pada kebenaran. Ia menegaskan bahwa Sultan HB II sudah sangat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sebagai penjaga sejati etika Jawa yang menolak tunduk pada intervensi Barat.
Sebagai penutup, Fajar Bagoes Poetranto memberikan refleksi mendalam yang menohok sekaligus menjadi peringatan keras bagi generasi dan para pemimpin masa kini.
"Geger Sapehi 1812 menjadi pelajaran pahit tentang bagaimana ambisi kekuasaan dan politik dinasti, ketika dipertemukan dengan kepentingan kolonial, dapat mengarah pada pengkhianatan terhadap saudara sendiri dan kejatuhan kedaulatan sebuah kerajaan. Kepahlawanan Sultan HB II selayaknya dicontoh oleh para pemimpin kita agar memiliki kecintaan terhadap bangsa sendiri dan tidak justru menjadi pengkhianat bangsa," kata Fajar Bagoes Poetranto

1 hour ago
1
















































