5 Hal Paling Ditunggu dari Fed: Bye Powell, Dunia Bisa Berubah Drastis

1 hour ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

29 April 2026 17:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia tengah menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat (AS) yang sekaligus menjadi terkahhir kalinya Ketua Jerome Powell memimpin rapat.

Bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan akan mengumumkan hasil FOMC pada Rabu (29/4/2026) waktu AS atau Kamis (30/4/2026) dini hari waktu Indonesia.

Keputusan The Fed kali ini menjadi penting karena pasar sedang berada dalam situasi yang tidak mudah. Di satu sisi, ekonomi AS masih cukup kuat. Namun di sisi lain, tekanan inflasi kembali menjadi perhatian setelah harga energi dunia melonjak akibat perang di Timur Tengah.

Melansir CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa 100% pelaku pasar yakin bahwa The Fed akan kembali menahan suku bunga acuannya di level saat ini yakni 3,50% - 3,75%.

Artinya, hasil keputusan nanti diperkirakan sama seperti pada pertemuan terakhirnya pada Maret 2026, ketika The Fed juga menahan suku bunga nya di level tersebut.

FFR ProbabilitiesFoto: CME FedWatch Tool

Berikut beberapa hal yang paling ditunggu pelaku pasar dari FOMC kali ini:

1. Keputusan Suku Bunga

Hal pertama yang tetap menjadi perhatian adalah keputusan suku bunga. Namun, untuk FOMC kali ini, pasar hampir sepakat bahwa The Fed tidak akan mengubah suku bunga acuannya.

Federal funds rate (FFR) diperkirakan tetap berada di kisaran 3,50%-3,75%. Kondisi ekonomi AS yang masih cukup solid memberi ruang bagi The Fed untuk menunggu lebih lama sebelum mengambil langkah baru.

Bagi The Fed, menahan suku bunga menjadi pilihan paling aman. Sebab, inflasi belum benar-benar jinak, sementara dampak perang Iran terhadap harga energi dan ekonomi AS masih belum jelas.

Jika suku bunga dipangkas terlalu cepat, risiko inflasi kembali naik bisa semakin besar. Namun jika dinaikkan, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi juga bisa meningkat. Karena itu, opsi paling realistis saat ini adalah tetap menahan suku bunga.

2. Apakah Pemangkasan Suku Bunga 2026 Makin Sulit?

Meski keputusan suku bunga kali ini hampir pasti ditahan, pasar justru lebih penasaran dengan arah suku bunga The Fed setelah April.

Harapan pemangkasan suku bunga pada 2026 kini mulai dipertanyakan setelah data inflasi AS terbaru kembali menunjukkan tekanan harga yang belum sepenuhnya reda. Pada Maret 2026, inflasi konsumen AS (Consumer Price Index/CPI) naik 3,3% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 2,4%.

Secara bulanan, CPI AS juga naik 0,9% pada Maret 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3% pada Februari 2026. Lonjakan ini terutama dipicu oleh kenaikan harga energi, yang naik 12,5% secara tahunan.

Sementara itu, inflasi inti AS, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, juga masih berada di atas target The Fed. Core CPI tercatat naik 2,6% secara tahunan pada Maret 2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan 2,5% pada Februari 2026.

Ukuran inflasi yang lebih diperhatikan The Fed, yakni Personal Consumption Expenditures/PCE, juga masih belum turun ke target. Pada Februari 2026, inflasi PCE tercatat 2,8% secara tahunan, sementara core PCE berada di 3,0%.

Kondisi ini membuat ruang The Fed untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat semakin sempit. Sebab, inflasi masih bertahan di atas target 2%, sementara lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah berisiko membuat tekanan harga bertahan lebih lama.

Saat ini, pelaku pasar melihat peluang yang cukup besar bahwa The Fed akan menahan suku bunga sepanjang tahun. Di sisi lain, masih ada sebagian pelaku pasar yang berharap The Fed tetap bisa melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga jika tekanan inflasi mereda.

Karena itu, FOMC kali ini akan menjadi ajang penting untuk membaca apakah The Fed masih membuka ruang pemangkasan suku bunga, atau justru mulai memberi sinyal bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

Jika The Fed terdengar lebih hawkish, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa semakin mundur. Dampaknya, dolar AS berpotensi tetap kuat dan tekanan terhadap aset berisiko bisa kembali meningkat.

3. Respons The Fed terhadap Perang Iran dan Harga Energi

Perang Iran menjadi salah satu faktor paling penting dalam FOMC kali ini. Konflik tersebut mendorong harga minyak naik tajam dan menambah ketidakpastian terhadap arah inflasi.

Kenaikan harga energi bisa membuat tugas The Fed semakin sulit. Harga minyak yang tinggi dapat merembet ke biaya transportasi, logistik, produksi, hingga harga barang dan jasa yang dibayar konsumen.

Biasanya, The Fed bisa saja melihat lonjakan harga energi sebagai gangguan sementara. Namun, perang yang berlarut-larut bisa membuat tekanan harga menjadi lebih lama dan lebih luas.

Inilah yang akan dicermati pasar. Apakah The Fed melihat lonjakan harga energi hanya sebagai risiko jangka pendek, atau sebagai ancaman yang bisa mengubah arah kebijakan moneter.

Jika The Fed menilai risiko inflasi dari energi semakin besar, maka peluang pemangkasan suku bunga bisa semakin kecil. Bahkan, meskipun kenaikan suku bunga masih dianggap sangat kecil kemungkinannya, risiko tersebut tidak sepenuhnya hilang jika perang terus berlanjut dan pasar tenaga kerja AS tetap kuat.

4. Perubahan Bahasa dalam Pernyataan Resmi The Fed

Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga akan mencermati setiap kata dalam pernyataan resmi FOMC.

Salah satu hal yang paling diperhatikan adalah apakah The Fed masih mempertahankan bahasa yang memberi sinyal adanya kemungkinan penyesuaian suku bunga lanjutan, atau mulai mengubahnya menjadi lebih netral.

Selama ini, bahasa The Fed masih memberi kesan bahwa langkah berikutnya lebih condong ke arah pemangkasan suku bunga. Namun, dengan inflasi yang masih lengket dan harga energi yang kembali naik, pasar mulai bertanya apakah bias tersebut masih relevan.

Jika The Fed mengubah bahasanya menjadi lebih seimbang, pesan yang ditangkap pasar adalah arah suku bunga ke depan bisa bergerak dua arah: turun jika ekonomi melemah, atau tetap tinggi lebih lama jika inflasi sulit turun.

Perubahan seperti ini memang terlihat kecil, tetapi dampaknya bisa besar. Pasar biasanya sangat sensitif terhadap perubahan kata dalam pernyataan bank sentral.

5. Konferensi Pers Powell dan Sinyal Transisi ke Kevin Warsh

Setelah pernyataan resmi diumumkan, perhatian pasar akan beralih ke konferensi pers Jerome Powell. Ini akan menjadi konferensi pers terakhir Powell sebagai Chairman The Fed.

Biasanya, konferensi pers Powell menjadi momen utama untuk membaca arah kebijakan The Fed. Namun, kali ini situasinya sedikit berbeda karena rapat ini berpotensi menjadi FOMC terakhir Powell sebagai Ketua The Fed.

Kevin Warsh disebut semakin dekat untuk menggantikan Powell setelah proses pencalonannya bergerak maju. Karena itu, pasar tidak hanya akan membaca pernyataan Powell soal inflasi dan suku bunga, tetapi juga memperhatikan bagaimana transisi kepemimpinan The Fed bisa memengaruhi arah kebijakan ke depan.

Powell kemungkinan akan ditanya soal masa depannya di The Fed. Meski masa jabatannya sebagai ketua akan berakhir pada pertengahan Mei, Powell masih bisa tetap berada di bank sentral sebagai gubernur hingga 2028.

Jika Powell tetap berada di Dewan Gubernur The Fed, hal ini bisa mengurangi ruang Presiden AS Donald Trump untuk menunjuk anggota baru. Namun sampai saat ini, Powell belum memberikan kepastian mengenai langkahnya setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |