Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
28 April 2026 09:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Kecelakaan kereta api kembali terjadi di Indonesia. Insiden tersebut terjadi antara KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL Tokyo Metro tujuan Kampung Bandan-Cikarang yang pada Selasa (27/4/2026) pukul 20:52 WIB.
Kecelakaan terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Akibat kejadian ini jalur KA lintas Bekasi-Cibitung yang menjadi jalur tersibuk lumpuh.
Pada Rabu pagi pukul 06.30 WIB, sebanyak 7 orang meninggal dunia dan 82 orang mengalami luka-luka yang saat ini telah mendapatkan penanganan medis.
Foto: PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek selamat. Sementara itu, penumpang KRL tercatat 7 orang meninggal dunia dan 82 orang mengalami luka-luka yang saat ini telah mendapatkan penanganan medis, Selasa (28/4/2026). (REUTERS/Willy Kurniawan)
Jumlah korban meninggal dalam kecelakaan kemarin adalah yang terburuk sejak 2017 atau dengan korban sebanyak 87 jiwa.
Jika menghitung dalam satu kali kejadian maka kecelakaan kemarin adalah yang terburuk sejak kecelakaan KA Kertajaya yang bertabrakan dengan KA Sembrani di Stasiun Gubug, Grobogan (Jateng) pada 2006 atau 20 tahun lalu yang menewaskan 14 orang.
Pada rentang periode 2007-akhir 2024, korban tewas terbanyak kecelakaan kereta api terbanyak terjadi pada 2017 yakni 87 jiwa. Sejumlah kecelakaan fatal terjadi pada tahun tersebut. Di antaranya adalah saat Mobil Toyota Avanza silver berpelat B 1937 UZQ tertabrak kereta api Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya-Jakarta di perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Dusun Jetis, Desa Katong, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Mei 2017. Jika melihat catatan lebih panjang, kecelakaan terbesar kereta api di Indonesia tercatat pada 22 Desember 1944 yakni kecelakaan Kereta Api Padang Panjang di mana 200 orang tewas.
1. Kecelakaan Kereta Api Padang Panjang, 22 Desember 1944
Kecelakaan menyebabkan 200 orang tewas serta 250 orang lain luka-luka dalam kecelakaan di Singgalang Kariang, Padang Panjang (sekarang di lokasi rest area Lembah Anai, Sumbar) yang memang cukup terjal sehingga rawan kecelakaan.
Kecelakaan disebabkan rem blong sehingga terjadi slip roda lokomotif hingga keluar rel.
2. Tragedi Bintaro, 19 Oktober 1987
Sebanyak 156 orang tewas dan 300 orang terluka dalam kecelakaan kereta api di Pondok Betung, Bintaro. Tabrakan yang juga dikenal dengan Tragedi Bintaro itu merupakan adu kepala kereta dalam kecepatan tinggi yaitu antara KA 220 Patas Merak dan KA lokal 225.
KA Rangkas membawa tujuh rangkaian gerbong dan bergerak dari Tanah Abang menuju Merak. Sementara itu, KA Merak bergerak menuju Tanah Abang dari Rangkasbitung.
Kedua kereta meluncur dengan cepat dan saling bertabrakan pada pukul 06:45 WIB.
Jumlah korban sangat besar mengingat kereta sangat penuh hingga penumpang banyak yang bergelantungan.
3. Kecelakaan kereta api uap Bumel, 20 September 1968
Kecelakaan terjadi di desa Ratu Jaya, Depok, Jawa Barat, yang dekat dengan Stasiun Citayam.
Insiden terjadi karena tabrakan antara kereta api uap Bumel dengan kereta api cepat ber lokomotif diesel modern.
Sebanyak 116 orang tewas sementara puluhan orang lainnya mengalami luka baik ringan maupun berat.
4. Kecelakaan kereta api di Brebes, 25 Desember 2001
Merujuk data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecelakaan terjadi pada 25 Desember 2001 sekitar jam 04.33 WIB. Sebanyak 31 orang tewas dalam kecelakaan tersebut sementara 51 lainnya mengalami luka berat.
Kereta Api 146 menabrak Kereta Api 153 Gaya Baru Malam Selatan yang sedang menunggu bersilangan di sepur 3 emplasemen stasiun Ketanggungan Barat. Kereta Api 146 berangkat dari stasiun Kejaksan Cirebon pada jam 03:36 dengan mengalami keterlambatan 2 jam 30 menit dari jadwal yang seharusnya.
Tabrakan tersebut terjadi dikarenakan KA 146 melanggar sinyal masuk stasiun Ketanggungan Barat yang beraspek merah (tanda bahwa kereta harus berhenti).
5. Kecelakaan KRL di Ratu Jaya Depok, 2 November 1993
Sebanyak 20 orang meninggal dan 100 orang terluka dalam kecelakaan Kereta Rel Listrik (KRL) Ratu Jaya Depok.
Kecelakaan bermula dari kesalahan informasi antara antara petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) di pemberangkatan Stasiun Depok Lama dan Stasiun Citayam.
Petugas memberangkatkan KRL dari Depok Lama tanpa memberitahu kepada petugas di Citayam. Petugas di Citayam memberangkatkan KRL sehingga dua kereta yang berlawanan arahpun saling bertabrakan.
Sebagai catatan, kereta pada tahun masih menggunakan jalur tunggal.
6. Insiden tabrakan KA Kertajaya dengan KA Sembrani pada 14 April 2006
Sebanyak 14 orang tewas dalam kecelakaan KA Kertajaya yang bertabrakan dengan KA Sembrani di Stasiun Gubug, Grobogan (Jateng).
Merujuk data KNKT, tumburan terjadi antara KA 150 Kertajaya dengan KA 40 Sembrani di wesel empat di sebelah Timur stasiun Gubug pada jam 02:10 WIB.
Pada jam 02.10 WIB, KA 40 Sembrani dengan kecepatan normal sekitar 70 Km/jam masuk dari arah Semarang. Masinis melihat jalurnya terhalang (tidak bebas) dan beraksi melakukan pengereman darurat (emergency brake) kemudian menunduk. Lokomotif KA 40 menabrak KA 150 yang sedang berusaha berjalan mundur.
Tabrakan terjadi pada lokasi wesel. Lokomotif KA Sembrani menabrak lokomotif KA Kertajaya. Akibat insiden tersebut, lokomotif KA Sembrani berikut tiga keretanya terguling di sawah sebelah selatan rel (arah kanan dari datangnya kereta), dan dua kereta lainnya anjlok.
Lokomotif KA Kertajaya terlempar ke arah utara rel (arah kiri terhadap datangnya kereta). Kedua bogienya terlepas, bahkan satu bogie terpisah dan terlempar masuk ke sawah di sebelah kanal rel sejauh sekitar 50 meter.
7. Tabrakan KRL vs Tangki Pertamina, 9 Desember 2013
Tujuh orang meninggal, termasuk masinis, asisten masinis, dan teknisi KRL Serpong-Stasiun Tanah Abang dalam tabrakan dengan truk tangki Pertamina yang membawa BBM premium 24.000 kilo liter yang mogok di tengah rel.
Pada pukul 11.15 WIB mobil tangki yang datang dari arah Tanah Kusir menuju Ceger bertabrakan dengan KRL di pintu perlintasan nomor 57A Km. 16+974 Pondok Betung Jakarta Selatan.
Diduga palang pintu tidak berfungsi atau truk mengabaikan sirine palang pintu. Kecelakaan yang terjadi pada 9 Desember 2013 tersebut terjadi 200 meter dari lokasi Tragedi Bintaro (tahun 1987 yang menewaskan 156 korban jiwa).
Tabrakan ini menimbulkan kobaran api di seluruh bagian mobil tangki, bagian depan KRL serta beberapa bangunan dalam radius 15 meter.
(mae/mae)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































