CNN Indonesia
Kamis, 12 Mar 2026 19:30 WIB
Ilustrasi. Orang tua belakangan mengeluh anak tantrum karena tidak bisa mengakses gim favorit mereka. Psikolog pun berikan saran. (Kinan)
Jakarta, CNN Indonesia --
Orang tua mengeluhkan anak tantrum karena sejumlah online game dan media sosial tak bisa diakses. Psikolog pun berikan saran.
Pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengeluarkan kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Hal ini disambut baik banyak pihak. Namun belakangan ramai dengan cerita orang tua yang menghadapi anak tantrum ketika game atau akun media sosial mereka tidak bisa diakses.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu yang sering disebut adalah game populer bernama Roblox, yang memang memiliki jutaan pemain anak-anak di seluruh dunia.
Sebagian orang tua mengaku anak mereka marah, menangis hingga tantrum ketika akses ke game tersebut dibatasi. Lalu bagaimana respons orang tua seharusnya terhadap hal tersebut?
Psikolog klinis Mira Amir menjelaskan bahwa tantrum sebenarnya merupakan perilaku yang cukup umum pada anak-anak. Hal ini berkaitan dengan perkembangan kemampuan mereka dalam mengelola emosi.
"Tantrum itu memang ciri pada anak-anak ketika kemampuan meregulasi emosinya masih rendah. Masih belum berkembang sempurna, kontrol dirinya masih rendah," ujar Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Kamis (12/3).
Tantrum memang bisa menjadi fase yang melelahkan bagi orang tua. Namun jika aturan terus berubah setiap kali anak marah atau menangis, anak akan belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Orang tua juga perlu memberi contoh dalam penggunaan gadget di rumah. Anak sering meniru perilaku orang tua, termasuk kebiasaan menggunakan ponsel.
Jika orang tua sendiri sering bermain ponsel di depan anak, pembatasan penggunaan gadget akan menjadi jauh lebih sulit dilakukan.
Ilustrasi. Psikolog Mira Amir menyarankan agar orang tua tidak memperkenalkan gadget terlalu dini pada anak. (Getty Images/iStockphoto/nathaphat)
Mira juga menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam aktivitas sehari-hari anak. Anak-anak membutuhkan interaksi langsung dengan orang tua untuk menstimulasi perkembangan mereka.
Menurutnya, ketika orang tua terlalu sibuk dengan gadget atau aktivitas lain, anak sering dibiarkan bermain sendiri dengan perangkat digital.
"Anak-anak itu harus ada orang tua yang menemani dan menstimulasi anaknya untuk beraktivitas. Itu tanggung jawabnya orang tua," tegasnya.
Mira menilai pendekatan pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan mencoba mengatasi ketergantungan yang sudah terjadi.
"Makanya kalau upaya preventif, saya lebih menekankan untuk preventif. Orang tua jangan cepat-cepat dia memperkenalkan anak pada gadget," ujar Mira.
Anak terlalu dini berkenalan dengan gadget
Mira mengatakan masalah bisa menjadi lebih kompleks ketika anak sudah terbiasa menggunakan gadget sejak usia dini. Menurutnya, banyak orang tua tanpa sadar memperkenalkan perangkat digital terlalu cepat yang biasanya dengan tujuan agar anak tenang atau tidak rewel.
Pada awalnya, gadget sering digunakan sebagai alat untuk menenangkan anak. Anak yang sedang menangis diberi ponsel atau tablet agar diam dan fokus ke layar. Kebiasaan ini lama-kelamaan membuat anak semakin bergantung pada perangkat tersebut.
Ketika anak sudah merasakan bermain game, situasinya menjadi semakin rumit. Game digital dirancang dengan warna, suara, gerakan yang sangat menarik sehingga mudah membuat anak merasa terhibur.
"Begitu dia sudah dijejali oleh gadget, tahu asyiknya main games, itu yang lebih terpola. Sedangkan perkembangan otak prefrontalnya itu belum matang gitu," kata Mira.
Jika ketergantungan sudah terlalu berat, upaya untuk mengatasinya akan membutuhkan usaha yang jauh lebih besar. Dalam beberapa kasus, anak bahkan perlu mendapatkan bantuan dari tenaga profesional.
Karena itu, orang tua perlu lebih sadar bahwa kebiasaan kecil dalam penggunaan gadget di rumah dapat berdampak besar terhadap perkembangan anak di masa depan.
(nga/els)

1 day ago
3
















































