Donald Trump.(Al Jazeera)
SEJAK serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat senior lain, plot balas dendam Iran untuk membunuh Donald Trump bukan lagi sekadar spekulasi. Ancaman ini kini dinilai sangat kredibel oleh otoritas keamanan Washington.
Bulan lalu di Turki, pemerintah AS melakukan taktik rumit untuk melarikan Trump dari pesawat kepresidenan Air Force One. Langkah drastis ini mengejutkan banyak pihak di Washington, termasuk para pembantu Trump dan jurnalis yang tetap berada di dalam jet tersebut, yang diduga menjadi target serangan rudal Iran.
Eskalasi Ancaman dan Perlindungan Ekstrem
Colin P. Clarke, Direktur Eksekutif The Soufan Center, menilai langkah perlindungan yang tidak biasa ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman tersebut. Namun, ia juga mencatat bahwa membiarkan orang lain tetap berada dalam bahaya sementara presiden diamankan memberikan citra yang kurang baik dan berisiko membuat Trump terlihat lemah.
Menurut Clarke, ancaman ini berakar jauh sebelum perang saat ini dimulai, terutama dipicu oleh keputusan pemerintahan Trump yang menyetujui serangan terhadap komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Qassem Suleimani. "Saya pikir ancaman bagi Trump akan tetap ada selama dia masih hidup, baik dia menjabat atau tidak," tegas Clarke.
Catatan Sejarah Ancaman Iran:
- 2024: Jaksa federal Manhattan mengungkap perintah Iran kepada seorang operatif untuk membunuh Trump.
- Juli 2026: Israel berbagi intelijen mengenai rencana baru Iran untuk menargetkan Trump.
- Target Lain: Pejabat senior seperti Mike Pompeo dan John Bolton, serta anggota keluarga Trump termasuk Ivanka, juga dilaporkan berada dalam ancaman.
Humiliasi sebagai Bentuk Balas Dendam
Bruce Hoffman, pakar kontra-terorisme dari Council on Foreign Relations, menjelaskan bahwa bagi Iran, balas dendam adalah hal yang sangat serius. Selain serangan fisik, penghinaan juga dianggap sebagai bentuk pembalasan.
Laporan mengenai Trump yang harus dievakuasi dari Air Force One menggunakan truk pengantar makanan dianggap memberikan kepuasan tersendiri bagi pihak Teheran. "Terlepas dari seberapa dekat atau serius plot tersebut, Iran memanfaatkan situasi ini untuk mempermalukan AS," ujar Hoffman.
Kemampuan dan Kesabaran Iran
Meskipun serangan langsung di tanah Amerika Serikat belum berhasil dilakukan, para ahli memperingatkan agar tidak meremehkan kemampuan Iran. Matthew Levitt dari The Washington Institute mencatat bahwa meskipun kemampuan operasional Iran mungkin berkurang akibat serangan udara AS-Israel terhadap tokoh kunci seperti Rahman Moqadam dan Majid Khademi, keinginan mereka untuk eskalasi tetap tinggi.
Situasi ini diprediksi akan mempersulit negosiasi untuk mengakhiri perang. Dengan Iran yang tetap berani mencoba menargetkan presiden AS yang sedang menjabat, Washington menghadapi tantangan besar dalam menentukan kalkulasi keamanan dan diplomasi di masa depan. (The Guardian/I-2)















































