REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris Anya Zen mengungkap proses mendalami karakter Ningsih di film horor misteri fiksi Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah arahan sutradara Hanung Bramantyo. Menurut Anya, untuk bisa memahami situasi sosial politik pada 1964 dan 1965, ia perlu membaca sejumlah buku sejarah.
"Aku kebetulan suka sejarah, jadi aku untuk menambah wawasan baca-baca sendiri buku tentang apa yang terjadi tahun 1965," kata Anya saat diwawancara di kantor Republika, Selasa (8/9/2026).
Anya mengatakan salah satu hal yang perlu disesuaikan untuk menghidupkan karakter dari periode tersebut adalah cara berbicara. Selebihnya, ia tetap setia mengikuti skenario yang ditulis Hanung Bramantyo dan Haqi Achmad.
"Yang perlu kita adjust untuk kembali ke karakter itu ya cara bicara disesuaikan. Sisanya untuk karakter Ningsih sendiri, di film ini ya tetap mengikuti sumber yaitu skenario yang dibuat oleh Mas Hanung Bramantyo," kata Anya.
Dalam film tersebut, Ningsih diceritakan sebagai seorang penyanyi ronggeng di Desa Lobang Buaya. Anya mengaku menikmati proses memainkan karakter tersebut, terlebih ia memiliki ketertarikan pada tari tradisional.
"Seru banget, karena aku emang suka nari tradisional. Tapi emang ini spesifik ronggeng, dan di era itu ronggeng enggak cuma gerakan, tapi juga jadi hiburan masyarakat seperti di hajatan. Jadi seru banget memainkan peran ini," ujar Anya.
Agar bisa menari ronggeng baik, Anya menjalani latihan khusus bersama pakar dari Institut Seni Indonesia (ISI) selama sekitar dua pekan. "Ada latihan pastinya, disiapin sama tim produksi, dilatih sama Mbak Dewi Wulan dari ISI. Dan ya kita latihan itu, selama dua pekanan," kata dia.
Anya mengatakan Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah bukan remake dari film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C Noer. Film Hanung Bramantyo tersebut juga bukan cerita yang diangkat berdasarkan sejarah.
Menurut Anya, cerita film merupakan fiksi yang ditempatkan dalam latar setahun sebelum peristiwa 1965. Karakter-karakter yang dimainkan para pemain juga merupakan tokoh fiksi.
"Ini bukan remake film Arifin C Noer, ini bukan cerita berdasarkan sejarah. Ini cerita fiksi, karakternya fiksi, tapi setnya terjadi setahun sebelum kejadian 1965. Dan apa yang real di cerita ini adalah apa yang terjadi di masyarakat, ketidakpercayaan masyarakat ke pemerintah," ujarnya.
Film tersebut sebelumnya menggunakan judul Bolong, namun judul kemudian diubah setelah film tayang perdana di International Film Festival Rotterdam. Anya mengatakan sutradara merasa judul Lobang Buaya lebih sesuai karena desa yang menjadi latar cerita merupakan desa fiktif bernama Lobang Buaya.
"Ini diubah setelah kita tayang perdana di Rotterdam. Mas Hanung merasa cocok, karena ini desanya fiktif yaitu Lobang Buaya, karena desa aslinya Lubang Buaya," kata Anya.

2 hours ago
4















































