Apa Benar Banyak Memendam Amarah dan Emosi Bikin Cepat Mati?

1 hour ago 2

CNN Indonesia

Jumat, 08 Mei 2026 20:45 WIB

Sering menahan emosi atau emotional suppression ternyata berdampak fatal bagi fisik dan mental, bahkan meningkatkan risiko kematian dini. Ilustrasi. Memendam emosi ternyata berbahaya, bahkan bisa risiko kematian. (iStockphoto/skynesher)

Jakarta, CNN Indonesia --

Marah dipendam, sedih ditutupi, kecewa diabaikan. Bagi sebagian orang, menahan emosi dianggap sebagai cara paling aman untuk menghindari konflik, menjaga citra agar terlihat kuat, atau sekadar menjaga keharmonisan hubungan dengan orang lain.

Padahal, kebiasaan memendam perasaan secara terus-menerus bukanlah pilihan yang bijak. Lantas, benarkah kebiasaan ini dapat memperburuk kondisi tubuh hingga dikaitkan dengan risiko kematian dini?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip Journal of Psychosomatic Research, kondisi ini dikenal sebagai emotional suppression, yakni upaya sadar untuk menahan atau menyembunyikan emosi yang sebenarnya dirasakan. Meski sekilas tampak sepele, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini berdampak sistemik pada kesehatan mental dan fisik dalam jangka panjang.

Saat seseorang menahan emosi, tubuh sebenarnya tetap merespons tekanan tersebut secara biologis. Rasa marah, cemas, atau sedih yang tidak tersalurkan membuat tubuh berada dalam kondisi stres yang berkepanjangan.

Akibatnya, sistem biologis terus bekerja ekstra seolah-olah sedang menghadapi ancaman nyata.

Emotional suppression berkaitan erat dengan peningkatan allostatic load, yakni beban biologis akibat stres kronis yang menumpuk pada tubuh. Kondisi ini mengganggu keseimbangan hormon stres, meningkatkan tekanan darah, merusak kualitas tidur, hingga melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Ancaman kematian dini

Sebuah studi yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health (NIH) menemukan temuan yang cukup mengkhawatirkan. Individu dengan tingkat emotional suppression yang tinggi memiliki peningkatan risiko all-cause mortality atau kematian dari berbagai penyebab, termasuk kanker, selama masa pemantauan 12 tahun.

Peneliti menyimpulkan adanya kaitan antara kebiasaan menekan emosi dengan risiko kematian lebih awal. Namun, para ahli menekankan bahwa hubungan ini bersifat asosiasi.

Artinya, tidak serta-merta setiap orang yang menahan emosi akan mengalami kematian dini, karena kesehatan tetap dipengaruhi faktor lain seperti pola hidup, kondisi mental, dan dukungan sosial.

Mengapa dampaknya begitu besar?

Menekan emosi bukan berarti melenyapkannya. Tubuh dan otak tetap bekerja memproses tekanan tersebut. Secara kasatmata seseorang mungkin tampak tenang, namun di dalam dirinya terjadi 'badai' stres biologis.

Beberapa dampak negatif dari kebiasaan suppression antara lain:

• Sulit merasakan kelegaan emosional.

• Mudah mengalami kelelahan mental (emotional fatigue).

• Kesulitan membangun hubungan sosial yang jujur dan sehat.

• Rentan mengalami burnout atau kelelahan luar biasa.

[Gambas:Video CNN]

Penting untuk dipahami bahwa melepaskan emosi bukan berarti mengeluarkannya tanpa kontrol atau meledak-ledak. Ada perbedaan mendasar antara mengelola emosi (emotion regulation) dengan memendamnya.

Berikut adalah beberapa cara sehat untuk mengekspresikan emosi tanpa harus menyakiti diri sendiri maupun orang lain:

1. Validasi Perasaan: Kenali dan terima emosi yang sedang dirasakan tanpa menghakimi diri sendiri.

2. Katarsis yang Aman: Cari saluran yang tepat, seperti menulis jurnal, berolahraga, atau melakukan hobi.

3. Bercerita: Temukan orang kepercayaan atau kerabat yang bisa menjadi pendengar yang baik.

4. Bantuan Profesional: Jangan ragu menghubungi psikolog atau konselor jika emosi terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri.

Emosi adalah bagian tak terpisahkan dari kemanusiaan kita. Menahannya sesekali mungkin tidak menjadi masalah besar, namun menjadikannya gaya hidup adalah bom waktu bagi kesehatan Anda.

(anm/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |