Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan itu menargetkan fasilitas kepresidenan, situs militer, hingga kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei dan puluhan pejabat tinggi Iran tewas dalam serangan tersebut.
Ratusan anak sekolah juga tewas karena salah satu serangan mengenai sekolah putri di Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iran murka dan langsung meluncurkan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Serangan yang memasuki hari keempat ini telah menewaskan lebih dari 700 orang di Iran, menurut Palang Merah Iran. Sementara itu, enam orang tewas di pihak AS dan sedikitnya 11 orang tewas di pihak Israel.
Perang AS-Israel vs Iran ini telah meluas karena menyeret negara-negara Teluk dan Eropa. Ledakan dilaporkan terjadi di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Irak.
Serangan juga dilaporkan terjadi di pangkalan Inggris di Siprus. Serangan itu terjadi tak lama setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengizinkan AS memakai pangkalan mereka untuk menggempur Iran.
Negara-negara Teluk dan Eropa telah merespons serangan di wilayah mereka dengan menyatakan berhak membela diri. Mereka mengindikasi akan membalas Iran karena dinilai sudah melanggar teritori.
Berbagai pihak pun kini bertanya-tanya ke mana Rusia dan China di tengah panasnya situasi Timur Tengah.
Dua negara sekutu Iran itu sebenarnya sudah mengecam serangan AS-Israel, namun tidak ada tindakan berarti yang diberikan.
Presiden Rusia Vladimir Putin hanya menyampaikan pembunuhan Khamenei adalah "pelanggaran jahat" terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional.
Pemerintah China juga cuma menyatakan serangan AS-Israel ke Iran "pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran".
Kenapa China dan Rusia tidak turun tangan?
Peneliti di lembaga think tank Inggris, Chatham House, Ahmed Aboudouh, mengatakan China tampaknya berupaya bersikap lunak karena ingin memajukan kepentingan nasionalnya saat bertemu Presiden AS Donald Trump.
Trump dan Presiden China Xi Jinping diperkirakan bertemu saat Trump berkunjung ke China pada akhir bulan ini.
Menurut Aboudouh, pertemuan itu ingin manfaatkan Xi Jinping untuk mencari konsesi atas isu-isu seperti Taiwan dan perdagangan.
"Beijing mungkin akan mencari konsesi pada isu-isu yang lebih berkaitan langsung dengan kepentingannya, seperti Taiwan dan perdagangan, sebagai imbalan atas pelunakan pesan yang signifikan terkait Iran," kata Aboudouh, seperti dikutip CNBC International.
Sikap China yang menahan diri semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Tahun lalu, Beijing juga mengkritik serangan AS dan Israel terhadap Iran, tapi tidak memberi dukungan materiil kepada Teheran.
Menurut direktur pelaksana firma Teneo yang berspesialisasi di persoalan China, Gabriel Wildau, reaksi China ini menunjukan bahwa "kemitraan strategis (antara Iran) dengan Beijing jauh dari aliansi militer, atau bahkan jaminan dukungan militer".
Sementara itu, mengenai sikap kalem Rusia, kepala ahli strategi geopolitik di BCA Research Matt Gerken berpandangan perang berkepanjangan di Ukraina telah mengikis kemampuan Rusia untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya.
Militer Rusia, kata dia, sudah kewalahan karena perang dan perekonomian Rusia juga terus-terusan di bawah tekanan sanksi negara Barat. Kondisi ini menyebabkan pengaruh Moskow di Timur Tengah kian berkurang.
Presiden Transversal Consulting, Ellen Wald, juga mengatakan Rusia tampaknya malah bersyukur dengan situasi Timur Tengah karena perhatian dunia dan Trump kini terfokus pada Iran.
"Putin jelas senang dengan situasi ini, menurut saya, meskipun setelah masalah ini terselesaikan, Trump pasti akan mengalihkan perhatian berikutnya ke Putin," ujar Wald.
(blq/bac)

5 hours ago
1

















































