Wakil Ketua Umum PB PASI Tigor Tanjung(MI/Dhika Kusuma Winata )
PENGURUS Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) menetapkan target realistis untuk ajang Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang. Tim atletik Indonesia dibebankan sasaran membawa pulang empat medali perunggu dengan mempertimbangkan peta persaingan ketat di level Asia.
Wakil Ketua Umum PB PASI, Tigor Tanjung, menjelaskan bahwa target tersebut merupakan angka yang paling terukur saat ini. Menurutnya, persaingan di Asian Games sudah setara dengan level dunia karena kehadiran negara-negara kuat seperti Tiongkok, Jepang, Qatar, Uzbekistan, dan Kazakhstan.
"Kami diberi target empat perunggu. Jadi kalau sebelum-sebelum ini kita bisa dapat medali emas atau medali perak, itu prestasi yang luar biasa. Mudah-mudahan kita di Jepang berhasil dengan target tadi. Kalau lebih, Alhamdulillah," ujar Tigor saat ditemui di Jakarta, Rabu (12/8).
Daftar 13 Atlet dan Nomor Andalan
Indonesia akan mengirimkan total 13 atlet yang terdiri dari tujuh putra dan enam putri. Mereka akan berkompetisi di berbagai disiplin, mulai dari sprint, lari jarak menengah dan jauh, nomor lapangan, jalan cepat, hingga maraton.
Beberapa nama senior dan talenta muda menjadi tumpuan utama untuk memenuhi target medali tersebut, di antaranya:
- Diva Renatta Jayadi: Nomor lompat galah.
- Dina Aulia: Nomor 100 meter gawang.
- Maria Natalia Londa: Nomor lompat.
- Lalu Muhammad Zohri: Nomor sprint.
Selain nama-nama di atas, atlet lain yang masuk dalam daftar kontingen adalah Emilia Nova, Violine Intan Puspita, Odekta Elvina Naibaho, Robi Syianturi, Abdul Hafiz, Hendro Yap, Pandu Sukarya, Wahyudi Putra, dan Silfanus Ndiken.
Dinamika Persiapan dan Efisiensi Anggaran
Tigor tidak menampik bahwa persiapan menuju Jepang mengalami sejumlah kendala, terutama terkait efisiensi dukungan dana. Hal ini memaksa PB PASI memangkas beberapa program latihan yang telah dirancang sejak awal.
Salah satu dampak signifikan adalah pembatalan rencana pemusatan latihan di Kenya bagi pelari jarak jauh Robi Syianturi dan Odekta Elvina Naibaho. "Banyak program yang kita cut. Seperti Robi dan Odekta yang harusnya hari-hari ini ada di Kenya untuk berlatih, tapi tidak bisa berangkat," ungkap Tigor.
Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, PASI mengambil langkah mandiri dengan membiayai sejumlah persiapan secara swadaya, meski diakui tidak bisa maksimal sesuai rancangan awal. Kendati demikian, Tigor menegaskan bahwa kondisi ini tidak memadamkan motivasi para atlet.
"Kita tetap mengharapkan anak-anak kita ini tetap patriot, berjuang habis-habisan untuk bisa meraih prestasi terbaik," pungkasnya. (Dhk/I-1)















































