Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso merespons keluhan pedagang Pasar Tanah Abang yang mengaku omzetnya turun menjelang Lebaran 2026. Pemerintah mengakui adanya penurunan, namun menilai kondisi tersebut tidak bisa digeneralisasi.
Budi mengungkapkan, pihaknya telah bertemu langsung dengan perwakilan pedagang Pasar Tanah Abang untuk mendengar kondisi di lapangan.
"Kemarin sebenarnya kita juga sempat ketemu juga ya dari Tanah Abang itu. Asosiasi pedagang tanah abang. Jadi waktu itu kita ngobrol lah," kata Budi kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Dalam pertemuan tersebut, katanya, pedagang menyampaikan kondisi penjualan saat ini memang tidak lagi seperti dulu. Namun, pemerintah masih perlu mencermati lebih dalam faktor penyebabnya.
"Kita ngobrol-ngobrol apa sih masalah sekarang yang terjadi di sana. Memang dia sampaikan ya memang nggak kayak dulu lagi, tapi kita perlu coba cek ya. Cek di Tanah Abang itu barang-barangnya dari mana saja. Coba cek itu ya, kan apakah sama-sama seperti dulu," ujarnya.
Budi mengatakan, pedagang juga mengakui telah beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan penjualan langsung di toko atau secara offline, tetapi juga memanfaatkan kanal digital untuk bertahan.
"Nah kemarin teman-teman juga bilang 'sebenarnya kami juga jualan online'. Ya kebanyakan dari mereka sudah jualan online. Ya mungkin bisa ya kalau dibilang transaksinya turun ya coba kita lihat ya," ucap dia.
Menurutnya, perubahan ini menunjukkan penurunan transaksi di toko fisik belum tentu mencerminkan keseluruhan penjualan pedagang.
"Tapi yang jelas kalau mereka sampaikan, mereka juga waktu itu bilang memang (omzet penjualan yang sekarang) nggak kayak dulu, tetapi sebenarnya dia sudah berusaha selain jual secara fisik atau offline, tapi dia juga jual secara online," katanya.
Sebagai tindak lanjut, Kemendag akan memfasilitasi pedagang agar memiliki akses pasar yang lebih luas, termasuk ke ritel modern.
"Nah kami nanti akan melakukan fasilitasi seperti juga UMKM yang lain. Ya jadi dia juga bisa memasok misalnya ke ritel modern atau ke pasar manapun ya. Seperti yang business matching dengan ritel modern, bisa kita fasilitasi," ujar Budi.
Selain itu, pedagang juga didorong untuk lebih aktif mengikuti pameran agar produk mereka semakin dikenal pasar.
"Kemarin sudah sepakat sih sebenarnya kita terus diskusi.. Ya ikut-ikut pameran, selama ini kan dia memang jarang ya, tapi sudah mulai membiasakan, siapa tau nanti dengan begitu semakin banyak dikenal oleh pasar ya, oleh market gitu," ucapnya.
Terkait klaim penurunan omzet hingga 50%, Budi menegaskan angka tersebut masih bersifat terbatas.
"Ya menurun menurut dia memang berkurang, menurut dia, tapi kan itu hanya 1-2 penjual ya, kami kan kebetulan memang tidak kesana," kata Budi.
Ia juga menilai kondisi pasar secara umum masih terlihat cukup ramai, meski tidak sepadat sebelumnya.
"Karena kalau kita lihat sebenarnya juga ramai juga kok kalau sepintas saya lihat ya, kemarin kalau Pak Purbaya (Menteri Keuangan) kesana kan juga ramai juga ya," ujarnya.
"Ya kalau angkanya (penurunan omzet) saya nggak tau persis. Itu kan yang disampaikan oleh salah satu pendatang," sambung dia.
Lebih lanjut, Budi menegaskan pergeseran ke penjualan online kini menjadi realitas yang tidak terhindarkan.
"Nah tapi mereka menyampaikan bahwa sebenarnya jualannya itu ya bisa jalan tidak hanya melalui offline, mereka sudah.. hampir semua rata-rata pakai online, semua melakukan itu, itu yang disampaikan," ujarnya.
Perlu diketahui, Pasar Tanah Abang selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara dan selalu dipadati pembeli, terutama menjelang Lebaran.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi tersebut mulai berubah. Keramaian tidak lagi membludak seperti masa sebelum pandemi Covid-19. Sejumlah pedagang mengakui jumlah pengunjung menurun, meski aktivitas jual beli masih berlangsung.
"Nggak begitu (ramai) ya. Normalnya kan kalau mau Lebaran gini bejubel orang sampai nggak bisa jalan, sekarang (lengang). Maksudnya ya sepi engga, tapi kalau ramainya dibanding dulu ya jauh," ujar Rosita saat ditemui CNBC Indonesia di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Pedagang lain, Nira, menyebut perubahan perilaku konsumen menjadi faktor utama.
"Sepi ya, nggak seramai dulu. Tetap ada orang yang datang beli, tapi gak kayak dulu. Paling yang datang sekarang tuh orang-orang yang kalau beli harus lihat-lihat model dan pegang bahan. Kalau yang nggak perlu begitu kan mereka bisa beli saja di online," katanya.
Fenomena peralihan ke belanja digital ini juga dirasakan pedagang lainnya, seperti Oong.
"Ya kita di sini kalah sama yang online-online. Tanah Abang keliatan sepi, nggak seramai dulu, karena ya orang sudah pindah ke online," ujar Oong.
(dce)
Addsource on Google

14 hours ago
2
















































