REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) pada Selasa (18/8/2026) menggelar aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) namun terkendala masalah transportasi. Menurut Koordinator lapangan massa aksi, Hafidz Hernanda, mengatakan massa BEM UI Hafidz Hernanda puluhan bus Kopaja disewa pihaknya namun tak ada yang datang.
“Jadi untuk massa UI sendiri itu sekitar 500 sampai 700 massa. Tapi sayangnya betul, ada Kopaja-Kopaja kami yang sayangnya banyak sekali dikooptasi-kooptasi dengan berbagai macam institusi. Ada berbagai macam institusi yang memang sudah menelepon berbagai macam driver-driver-nya. Bayangkan kita pesan total 24 Kopaja. 24 Kopaja itu semuanya tidak bisa karena mereka diintimidasi, karena mereka diintimidasi bisa saja dipecat,” kata Hafidz, Selasa.
“Ini kan sangat menyayangkan. Kami tidak menyalahkan driver-driver tersebut karena mereka kan hidup di sebuah sistem di mana yang mengakibatkan mereka harus bekerja seperti ini gitu lho,” katanya menambahkan.
Saat ditanya mengenai bentuk intimidasi tersebut, Hafidz mengatakan para pengemudi disebut dilarang datang mengangkut massa. “Betul, tidak boleh datang ke sini. Kalau misal ada yang berangkat nanti dipecat. Jadi mereka tuh disuruh membuat 1.001 alasan agar tidak bisa menjemput kami,” katanya.
Ia mengatakan persoalan tersebut menurutnya juga dialami BEM dari sejumlah kampus lain. “Dan ini tidak hanya di BEM UI juga lho kawan-kawan. Banyak dari teman-teman BEM UBk (BEM Universitas lain), dari BEM-BEM kampus lainnya yang memang sedang mencari Kopaja-Kopaja, tapi mereka semua tuh ditahan-tahan. Kopaja-nya semua tidak mau,” katanya.
Hafidz kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan kebebasan berekspresi dalam demokrasi.
“Kan pertanyaannya simpel. Katanya di Indonesia itu negara demokrasi? Katanya di dalam Undang-Undang Dasar kita dijaga kebebasan berekspresi kita? Tapi pada nyatanya sekarang institusi-institusi pemerintahan saja secara aktif menghentikan kita untuk berpartisipasi dalam demokrasi,” katanya.
Ia juga mengklaim terdapat intimidasi terhadap sejumlah BEM. “Jujur saya sangat sedih mendengarnya. Mereka diintimidasi katanya bisa jadi nanti mahasiswa KIP-K ada yang dicabut, bisa jadi nanti ada dia diturunkan dari jabatannya, bisa jadi kawan-kawan mahasiswa yang lainnya nanti diancam-ancam akan ada sesuatu hal yang anarkis. Ini kan sesuatu hal yang berlebihan,” ungkapnya.
Hafidz mengatakan mahasiswa generasi pasca-Reformasi memahami demokrasi sebagai bagian dari kehidupan bernegara.
“Kami kan sebagai generasi muda itu hidup di era pascareformasi yang kami tahu adalah demokrasi. Kecuali memang kami hidup di Orde Baru. Tapi sayangnya kami melihat bahwa hal-hal sepertilah yang menggerus kemerdekaan terus-terusan gitu lho. Makanya dalam hari ini, aksi kami itu adalah merebut kemerdekaan,” kata Hafidz.

2 hours ago
1











































